Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
33. Zhang Zhiyi


__ADS_3

Zhang Zhiyi berdiri tidak jauh dari Tiong Fa, dengan sebelah tangannya Tiong Fa menggamit Zhang Zhiyi lalu menggerakkan kepalanya, memberi tanda pada Zhang Zhiyi untuk maju menghadapi Ding Tao.


Zhang Zhiyi bukanlah orang semacam Feng Xiaohong, Zhu Lizhi atau Wang Sanbo. Jika dia sering mendapat tugas menjadi mata-mata oleh Tiong Fa, sebabnya adalah kemampuan dia untuk mengamati keadaan serta mengambil kesimpulan.


Tidak seperti yang lain, Zhang Zhiyi tentu saja tidak termakan bualan Tiong Fa, dia tahu apapun yang terjadi dalam pertandingan hari ini, pedang itu pasti akan lepas dari tangan Ding Tao.


Masalahnya hanyalah apakah Ding Tao akan menyerahkannya dengan suka rela atau dengan cara paksa.


Zhang Zhiyi juga pandai menilai tingkatan ilmu bela diri lawannya. Tahu keadaan lawan dan tahu keadaan sendiri, dengan sendirinya 100 kali bertempur 100 kali pula meraih kemenangan. Kalau Zhang Zhiyi masih hidup sampai sekarang melewati tugas-tugas berbahaya, itu bukan hanya karena kemampuan ilmunya yang tergolong sudah mapan, tapi dia juga tahu kapan harus berkelahi dan kapan dia harus lari.


Jika harus menghadapi Ding Tao dalam perkelahian hidup dan mati, Zhang Zhiyi akan lebih memilih lari, karena meskipun dia masih memiliki harapan untuk menang melawan Ding Tao tapi baginya saat ini seberapa dalam ilmu Ding Tao belum dapat dia pahami dengan benar. Dalam penilaiannya Ding Tao masih penuh dengan kejutan.


Sambil berjalan ke dalam arena otaknya berputar memikirkan siasat untuk melawan Ding Tao.


Berbeda dengan Wang Sanbo yang dingin, Zhang Zhiyi menyapa Ding Tao dengan senyum hangat,


―Heh, setelah dua tahun menghilang, kau tiba-tiba jadi makin hebat saja anak Ding, apa kau menemukan buah sakti atau obat dewa?‖


Matanya berputar dan mengedip dengan nakal pada Ding Tao.


Ding Tao jadi tertawa geli dan menjadi jauh lebih rileks.


―Tidak Paman Zhang, hanya saja guru mengajarku baik-baik.‖


―Oh begitu, tapi kalau kau benar dapat obat dewa, jangan lupa kau bagi sedikit pada pamanmu yang tambah tua ini.‖


Sambil tertawa Ding Tao menjawab,


―Tentu paman, aku tidak akan lupa.‖


―Baiklah sekarang kita harus saling menguji kemampuan kita masing-masing. Sebagai yang lebih muda kau mulailah lebih dahulu.‖

__ADS_1


―Baik paman.‖


Setelah mereka sama bersiap dan berhadapan, dengan sopan Ding Tao memulai,


―Awas serangan paman!‖


Siapa bilang yang mengambil inisiatif terlebih dahulu akan mengambil keuntungan darinya? Mungkin saja benar demikian, tapi tidak kali ini. Kalau Tiong Fa cerdik seperti musang, Zhang Zhiyi mungkin pantas dipanggil musang kecil.


Setelah beramah tamah dengan Ding Tao, diberinya kesempatan Ding Tao maju lebih dulu. Jika lawannya bukan Ding Tao, jika ini bukan pertandingan persahabatan, mungkin berbeda yang terjadi. Tapi yang kita bicarakan di sini ini adalah


Ding Tao, bukan hanya lugu tapi juga sejak kecil sudah diajar untuk menghormati orang yang lebih tua.


Benar dia bergerak lebih dulu, tapi serangannya bukanlah serangan yang membahayakan Zhang Zhiyi, bukan pula serangan yang akan membuat Zhang Zhiyi terpaksa mundur ke posisi yang merugikan. Bukan juga bagian dari siasat untuk mendesak Zhang Zhiyi mengikuti permainan silat Ding Tao.


Serangan setengah matang semacam ini tentu saja tidak merugikan Zhang Zhiyi, justru serangan mentah ini menjadi kerugian buat Ding Tao. Perlu dipahami saat seseorang menyerang tentu ada bagian dari pertahanannya yang terbuka.


Serangan bisa menjadi pertahanan yang baik, jika serangan itu dilancarkan dengan tepat. Kalaupun gagal mencapai hasil, setidaknya serangan itu memaksa lawan untuk mundur atau menangkis serangan, sehingga tidak sempat memanfaatkan celah-celah yang timbul untuk balik menyerang.


Dengan satu gerakan yang sama Zhang Zhiyi mudah saja menghindari serangan Ding Tao, sekaligus masuk ke dalam daerah pertahanannya. Tangannya pun cepat terjulur menghajar ke dada Ding Tao, sementara pedangnya mengayun menutup jalan mundurnya. Padahal di saat itu tangan Ding Tao yang memegang pedang sudah terlanjur maju dalam gerakan menyerang.


Untuk menarik serangannya jelas tidak sempat, tapi jika Ding Tao mengelak mundur maka pedang akan menghajar tubuhnya, mau tidak mau Ding Tao harus menerima hajaran Zhang Zhiyi.


Untung Ding Tao masih sempat menggeser posisi tubuhnya dan menyilangkan satu tangannya di depan dada. Meskipun tidak sepenuhnya dapat menahan serangan Zhang Zhiyi,


setidaknya mampu mengurangi sebagian dari daya serangan itu yang mencapai jantungnya.


Tapi bahaya belum lewat sepenuhnya karena pedang di tangan Zhang Zhiyi sudah siap mengancam punggung Ding Tao.


Hebatnya Ding Tao, serangan yang di depan dia tahan, serangan yang dari belakang pun tidak lepas dari pengamatan.


Pada saat yang bersamaan pedangnya sudah ditarik mundur, bergerak menyilang menjadi perisai bagi punggungnya.

__ADS_1


Diam-diam Zhang Zhiyi memuji kecekatan anak muda itu, tapi kekagumannya tidak membuat dia menjadi bermurah hati pada pemuda itu. Tanpa mengendurkan sedikit pun serangan kali ini kakinya yang bergerak menendang ke depan.


Dalam beberapa gebrakan saja, Zhang Zhiyi sudah berhasil mendesak mundur Ding Tao. Bukan hanya itu saja, pemuda itu dapat merasakan betapa jantungnya tergetar saat telapak Zhang Zhiyi mampir di dadanya tadi. Rupanya tanpa sungkan-sungkan Zhang Zhiyi sudah mengerahkan segenap hawa murni yang dia miliki dibalik pukulannya tadi.


Jika pemuda itu tidak rajin-rajin berlatih dan menghimpun hawa murni sejak dia mulai belajar, mungkin sekarang pemuda itu sudah tergeletak dengan jantung yang terluka parah.


Beruntung dia memiliki himpunan hawa murni yang cukup mapan, lagipula gerakannya menghindar dan melindungi dada, mengurangi sebagian lontaran tenaga Zhang Zhiyi.


Tapi tetap saja aliran tenaganya menjadi kacau, sementara serangan Zhang Zhiyi tanpa hentinya dilancarkan tanpa belas kasihan.


Baru kali ini Ding Tao menghadapi situasi di mana dia harus mati-matian menyelamatkan diri. Bahkan pada saat kekalahannya ketika melawan Wang Chen Jin, keadaannya masih jauh berbeda. Dia masih memiliki ruang untuk mengamati, berpikir dan merencanakan jurus yang harus dia lancarkan.


Tapi tidak kali ini, rasa nyeri di dadanya, ditambah lagi serangan Zhang Zhiyi yang bervariasi dan dilancarkan tanpa henti membuat dia tidak memiliki kesempatan untuk berpikir sama sekali. Berbeda dengan serangan Wang Sanbo yang membadai tapi sederhana bentuknya.


Serangan Zhang Zhiyi selain dilambari dengan penggunaan hawa murni yang menggiriskan hati, setiap serangan tentu memiliki kerumitan di baliknya. Jika tadi Ding Tao membuat lawannya bergerak menuruti permainannya, kali ini Ding Tao jatuh dalam permainan Zhang Zhiyi.


Jangankan untuk melepaskan diri bahkan untuk bernafas pun hampir-hampir tidak bisa.


Dengan cepat tenaganya terkuras, otaknya dipaksa berputar keras. Keadaan Ding Tao benar-benar bagaikan telur di ujung tanduk. Mereka yang bersimpati pada Ding Tao pun sama-sama mengalirkan keringat dingin.


Sementara seulas senyum terbentuk di wajah Tiong Fa dan para tokoh pimpinan keluarga Huang. Sudah terbayang kemenangan keluarga Huang di depan mata, apa lagi jika mereka membayangkan bahwa setelah ini mereka akan dapat menarik Ding Tao untuk memperkuat barisan.


Kekalahan Ding Tao melawan Zhang Zhiyi, tidaklah menurunkan harganya, di mata mereka yang berpengalaman justru harga Ding Tao naik berkali lipat. Mereka sama-sama maklum akan sifat Ding Tao dan kecerdikan Zhang Zhiyi yang memanfaatkannya.


Tapi taktik licik seperti itu sudah terang tidak akan bisa dipakai untuk kedua kalinya. Kekalahan Ding Tao kali ini justru akan membuat pemuda itu jadi lebih berpengalaman dan waspada dalam bentrokan-bentrokan selanjutnya di masa depan.


Jika Ding Tao diberi kesempatan untuk memulihkan diri, lalu melakukan pertandingan ulang melawan Zhang Zhiyi, mereka yakin sepenuhnya bahwa pemuda itu yang akan memenangkan pertandingan.


Bahkan Tuan besar Huang Jin yang tadinya tidak rela mengumpankan puterinya Huang Ying Ying untuk menikahi Ding Tao, sekarang ini berbalik merasa sayang jika Ding Tao sampai terluka parah. Dalam hati dia memaki Zhang Zhiyi yang terlampau keras melukai calon menantunya.


Tentu saja dia sadar bahwa Zhang Zhiyi memang harus berlaku demikian, jika tidak, belum tentu Zhang Zhiyi dapat memenangkan Ding Tao dalam pertandingan ini.

__ADS_1


__ADS_2