
" Guru Chen, jangan memanggilku begitu, bukankah umurku jauh berada di bawah Guru Chen, panggil saja namaku Ding Tao seperti biasa." ujar Ding Tao merasa tidak enak dipanggil tuan.
" Hah, apa artinya umur, di dunia kita, tingkatan diukur bukan dari umur tapi dari kemampuan. Apa kata orang jika mereka tahu aku memanggilmu dengan nama, orang bisa mengatakan aku tidak tahu diri, bukankah demikian Saudara Wang?"
" Ya benar sekali itu, hmm, kalau aku teringat sudah
menawarimu menjadi rekanan dalam Biro Pengawalanku, betapa malu rasanya. Heh, benar-benar makin tua makin pikun, tidak lihat ada Gunung Thaisan di depan mata."
jawab Wang Xiaho sambil memandang pemuda itu penuh rasa kagum.
Ding Tao menggeleng-gelengkan kepala dan menggoyang tangan menolak,
" Paman, mana boleh begitu? Di antara
sahabat, mana ada pandang tingkatan-tingkatan. Jika aku menghormat pada yang lebih tua itulah yang wajar."
" Hmm… baiklah kalau memang itu maumu.", akhirnya Chen Wuxi pun mengalah, dalam hati tumbuh perasaan kagum dan hormat yang lebih dalam lagi terhadap Ding Tao.
Ding Tao memandang guru tua itu dan Wang Xiaho. Memandang berkeliling pada orang di sekitarnya, terasa cara mereka memandangnya jadi berubah.Mereka memandangnya sepertinya dia seorang tuan tanah atau seorang pendekar besar, tidak lagi sedekat sebelumnya. Dalam hati Ding Tao merasa sedikit sedih, meskipun juga bercampur rasa bangga.
Ding Tao bertekad tidak akan mengubah sikapnya terhadap mereka, berharap, perlahan-lahan mereka akan menerima dirinya kembali sebagai teman segolongan tanpa ada sekat atau batasan.
" Ding Tao, ayo, kita kembali ke ruang tamu." ajak Chen Wuxi setelah dia selesai menyimpan senjata latihan dan merapikan pakaiannya.
Bersama-sama mereka berjalan kembali. Ding Tao, Wang
Xiaho dan Chen Wuxi berjalan di depan. Yang lain mengikut di belakang, dengan telinga dipasang baik-baik, ikut mendengarkan percakapan mereka.
Di luar sepengetahuan mereka sepasang mata mengikuti jalannya pertarungan itu dari tempat yang tersembunyi.. Siapa lagi jika bukan sepasang iblis muka giok. Memang tepat kalau julukan iblis itu disematkan pada sepasang kekasih ini.
Meskipun ilmu silat mereka belum tergolong nomor satu, tapi ilmu meringankan tubuh, penyamaran dan juga cara mereka datang dan pergi ke tempat yang mereka tuju tanpa diketahui orang, benar-benar nomor satu.
Setelah semua orang pergi, dengan suara perlahan mereka bercakap-cakap,
__ADS_1
" Kakak, kau benar, jurus Ding Tao hebat sekali, tidak kusangka bisa sedemikian hebatnya saat digunakan."
" Hmm… apakah kau tidak melihat kekurangan?"
" Apakah ada kekurangannya?", tanya iblis betina kemudian terdiam sejenak untuk berpikir.
Lama dia berpikir, kemudian mendesah sayang dia berkata,
" Ya.. kakak benar, jurus itu belum sempurna benar. Menurut kakak bagaimana caranya menutupi kekurangan dari jurus itu?"
" Heh, soal itu biarkan saja jadi urusan Ding Tao, adik, mari kita menyusup mendekat, coba mencuri dengar pembicaraan mereka di ruang dalam."
Dengan gerakan gesit dan ringan keduanya menyusup ke dalam rumah, seperti sepasang arwah gentayangan, tanpa suara, tanpa terlihat orang-orang yang ada di dalam rumah.
Sementara itu Wang Xiaho yang penasaran sekaligus terkagum-kagum dengan kekalahannya tadi bertanya pada
Ding Tao, " Ding Tao, kalau boleh tahu, apa nama jurus yang tadi kau pakai untuk melawan kami tadi?"
" Ehm… entahlah Paman Wang, siauwtee belum sempat memikirkan nama untuk jurus itu, lagipula apalah artinya sebuah nama.", jawab Ding Tao sambil tersenyum.
Ding Tao mereka hanya saling berpandangan, dengan wajah menyatakan keheranan dan kekaguman.
A Sau dan A Chu yang sempat mendapatkan beberapa petunjuk dari Ding Tao menjadi sangat bersemangat. Mereka sudah tidak sabar ingin cepat melatih kembali jurus-jurus pedang mereka.
Saat mereka tiba di ruang tamu, hari sudah menjelang sore, Chen Wuxi memerintahkan murid-muridnya untuk menyiapkan makan malam. Sambil menunggu, Chen Wuxi dan Wang Xiaho berniat untuk menyampaikan buah pikiran mereka pada pemuda itu.
" Ding Tao, kudengar dari Saudara Wang, kau sedang dalam perjalanan menuju ke Wuling, benarkah itu?", tanya Chen Wuxi.
" Iya, benar sekali Guru Chen."
" Bolehkah aku tahu apa tujuanmu pergi ke kota Wuling?", tanya Chen Wuxi kembali.
Ding Tao merasa agak ragu untuk menjawab, karena sepanjang sepengetahuannya urusan pengkhianatan Tiong Fa masih merupakan urusan dalam keluarga Huang dan belum tersiar keluar. Melihat pemuda itu ragu untuk menjawab Chen Wuxi coba menjelaskan,
__ADS_1
" Apakah salah tebakanku, jika kubilang tujuanmu pergi ke kota Wuling ada hubungannya dengan Tiong Fa yang mengkhianati keluarga Huang dan Pedang Angin Berbisik?"
"Ah, jadi Guru Chen sudah tahu rupanya?", tanya Ding Tao.
" Hmm, tahu persis juga tidak tapi sedikit banyak aku mendengar berita-berita dari saudara yang lain. Ding Tao jika aku tidak salah kau sempat menghilang kira-kira 5 bulan, sejak kau berhasil keluar dari Wuling. Apakah selama itu kau mendengar kabar, tentang apa yang terjadi di Wuling?"
Ding Tao menggelengkan kepala,
" Tidak paman, saat itu aku sedang menyepi untuk mengobati tubuhku dari luka dalam, sekaligus memperdalam ilmu. Setelah selesai aku segera melakukan perjalanan ke Wuling, belum pernah sepanjang perjalan mendengar kabar apapun dari sana."
Melihat wajah Chen Wuxi dan Wang Xiaho yang serius, perasaan Ding Tao mengatakan ada kejadian yang tidak beres, dengan nada kuatir dia bertanya,
" Paman, apakah terjadi sesuatu di kota Wuling?" Sejenak Chen Wuxi berpandangan dengan Wang Xiaho.
" Baiknya Saudara Chen saja yang menyampaikan, aku orang tua ini kurang pandai dalam menyampaikan sesuatu.", ujar Wang Xiaho menyerahkan pada Chen Wuxi.
Chen Wuxi menghela nafas, kemudian dengan lebih singkat dan serius dia sampaikan berita tentang kehancuran keluarga Huang, ceritanya runut dimulai dari sejak berpisahnya Tiong Fa dari keluarga Huang, sampai berita terakhir tentang pembunuhan besar-besaran atas segenap anggota keluarga Huang yang tinggal di Wuling. Mendengar cerita Chen Wuxi, wajah Ding Tao berubah jadi pucat pasi. Jantungnya berdebar dan dadanya terasa sesak, begitu Chen Wuxi selesai bercerita, pemuda itu bangkit berdiri dan membungkuk memberi hormat, berpamitan.
" Paman Chen, Paman Wang, maafkan aku tidak dapat tinggal lebih lama. Aku harus segera pergi ke Wuling.".ujar Ding Tao berpamitan dengan suara bergetar.
Reaksi Ding Tao membuat Wang Xiaho yang melihatnya menjadi cemas, " Tunggu dulu Ding Tao, apakah tujuanmu ke Wuling hendak mencari jejak Pedang Angin Berbisik dan merebutnya kembali? Karena jika demikian, mengapa tidak menunggu barang dua hari, ada dua orang sahabat yang pergi untuk mengendus-endus berita dari Kota Wuling. Dalam 2 atau 3 hari ini mereka tentu sudah sampai kemari dan kau bisa berangkat dengan persiapan yang lebih mantap."
Baik Wang Xiaho maupun Chen Wuxi sudah bangkit berdiri, berusaha menahan pemuda yang jelas-jelas sedang kalut pikirannya itu.
" Maaf paman, tapi ini… ini bukan hanya soal pedang…"
" Ding Tao, setidaknya tenangkanlah dulu hatimu, jika kau pergi dalam keadaan seperti sekarang, hanya akan mengundang banyak bencana bagi dirimu. Jika bukan soal pedang soal apa? Apakah ada sahabatmu di antara keluarga huang? Jika demikian berita itu tentu bisa kaudengar setelah dua orang sahabat kami kembali.", ujar Chen Wuxi berusaha menenangkan pemuda itu.
Jika dalam keadaan yang biasa mungkin Ding Tao akan kesulitan bicara, tapi hatinya saat ini sedang kalut, mana terpikir tentang malu dan sebagainya,
" Maaf paman, aku mencintai puteri keluarga Huang, Huang Ying Ying. Aku harus pergi ke Wuling untuk memeriksa keadaannya. Maafkan aku, harap paman jangan berusaha menahan, aku tahu maksud baik
paman sekalian, namun kali ini aku terpaksa harus menolaknya."
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang itu, Ding Tao mengundurkan diri, dengan beberapa kali lompatan, pemuda itu sudah sampai di depan pintu dan berlari dengan cepat menuju ke Wuling, sebentar saja pemuda itu hilang dari pandangan mereka. Mereka yang ada di sana, hanya bisa memandangi kepergiannya dengan hati cemas. Tidak ada yang tega untuk mencegah, meskipun tahu dalam keadaan pikiran yang terganggu seperti saat ini, tentu tidak baik melakukan perjalanan jauh. Apalagi jika hendak dipikir dengan kepala dingin, Wuling sudah jelas tidak akan bisa dicapai dalam semalam. Kalaupun Ding Tao hendak memaksa pergi ke sana, bukankah lebih baik menunggu semalam, lalu besok pagi-pagi tuan rumah bisa meminjamkan seekor kuda untuk mempercepat perjalannya ke Wuling.
Tapi melihat kecemasan yang terpampang di wajah Ding Tao, Chen Wuxi pun tidak mampu mengatakan apa-apa. Dua orang tua itu hanya bisa menghela nafas panjang.