Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
57. Chapter 57


__ADS_3

Seandainya bisa pun, bagaimana dia memberi komando kepada dua kelompok yang berbeda dengan efektif? Jika Ding Tao meninggalkan kelompoknya untuk sepenuhnya mengamati jalannya pertarungan dan memberikan komando, maka kelompok yang melawan iblis betina akan kehilangan orang kuat di dalamnya dan di kelompok itulah yang akan jatuh korban.


Satu-satunya harapan Ding Tao adalah secepat mungkin mematahkan perlawanan Iblis betina agar dengan demikian, mereka akan bisa memfokuskan serangan pada Iblis jantan setelah berhasil menghabisi iblis betina.


Tapi sepasang iblis itu memang tokoh yang kosen, pertahanan yang dibangun iblis betina sangatlah kuat. Tidak seorang pun yang dapat menandingi tenaga dalamnya. Sementara Ding Tao tidak bisa pula dengan leluasa menggunakan himpunan hawa murninya. Hawa dari pukulan Tinju 7 Luka masih mengeram dan mengancam untuk bangkit tidur dan dengan liar merusak tubuhnya dari dalam.


Xiang Long bukannya orang bodoh, satu per satu orangnya mati oleh cakar besi Iblis jantan, sekilas dia sempat menengok keadaan Ding Tao dan kelompoknya. Sadarlah Xiang Long bahwa bahkan dengan menyatukan tenagapun, dirinya dan Ding Tao tidak akan mampu menghadapi sepasang iblis itu.


Xiang Long belum ingin mati hari itu, dengan satu emposan tenaga dia menyambitkan pedangnya ke arah iblis jantan, memaksa iblis jantan untuk mundur beberapa langkah.


Kesempatan itu digunakan Xiang Long untuk memperbesar jarak di antara mereka dengan ikut melompat mundur ke belakang.


" Hentikan! Iblis tua, aku menyerah! Biarkan aku pergi dan aku bersumah tidak akan ikut campur urusan Pedang Angin Berbisik lagi!",


teriak Xiang Long sambil melompat mundur, keluar dari rumah makan itu.


Mendengar teriakan Xiang Long, pucatlah wajah Ding Tao. Apalagi ketika anak buah Xiang Long pun ikut berlompatan keluar dari rumah makan. Sepasang iblis muka giok, tidak mengejar, hanya terkekeh-kekeh dengan seram.


Dikepung dari dua arah, Ding Tao mati kutu.


" Hikhikhikhik, anak muda…, bagaimana, apa kau mau menyerah sekarang?",


ejek iblis jantan sambil perlahan mendekat.


Ding Tao pun menggeser kedudukannya untuk menyesuaikan dengan pergerakan Iblis jantan dan posisi iblis betina.


Dari arah lain iblis betina ikut bergerak, menutup arah lari Ding Tao,


" Anak muda, kulihat kau tidak bertarung dengan leluasa.Saat kuserang, dapat kurasakan dari pertahananmu seberapa besar dan mantap dasar-dasar himpunan hawa murnimu. Tapi hawa murni yang kaupakai untuk menyerang, paling banter hanya 1 bagian dari yang seharusnya bisa kaugunakan.Apakah kau sedang terluka dalam?"


" Hohohohoho, apa benar kau sedang terluka? Tapi kau masih bisa mempermainkan kami sampai sedemikian rupa….


mengerikan, masih muda tapi sudah sehebat itu.", ujar iblis jantan sambil menggeser kedudukannya.


" Kau masih muda, apa tidak sayang nyawa? Kaupun terluka, apa lagi gunanya pedang itu bagimu.",


ujar iblis betina menimpali dari arah sebaliknya.


Melihat bahwa keadaannya sudah terlihat dengan jelas oleh lawan, Ding Tao sadar tidak mungkin melawan lebih lanjut.


Ketika beramai bersama dengan Xiang Long dan anak buahnyapun dia tidak bisa menang. Apalagi sekarang ketika dia tinggal sendiri harus melawan sepasang iblis itu.

__ADS_1


Tapi Ding Tao tidak berani mengendurkan pertahanannya, sambil mengawasi kedua iblis itu dia menjawab,


" Kalian memang hebat, aku pun bukan orang bodoh, sudah jelas tidak ada kemungkinan bagiku untuk menang. Jangankan untuk menang untuk laripun aku tidak ada kesempatan dan aku bukan termasuk orang yang mau mengorbankan nyawa dengan sia-sia, sebutkan apa keinginan kalian".


" Hehehe, baru saja kita melihat hasil dari kecerdikanmu, kurasa tidak perlu aku bilang, orang cerdik macam dirimu sudah tahu apa yang kami mau.", ujar Iblis jantan muka giok.


" Pedang Angin Berbisik, tapi seperti yang kau lihat, aku tidak membawa-bawa pedang itu denganku saat ini.", jawab Ding Tao.


" Hehe, tapi tentu kau tahu ada di mana pedang itu saat ini"


" Ya, tapi jika kau membunuhku, maka rahasia itu akan terkubur bersama dengan kematianku".


" Tidak, kami tidak ingin membunuhmu, kau menyerah saja dan jadi tawanan kami baik-baik, begitu kami mendapatkan pedang itu, kami akan membebaskanmu."


" Hmm… dan apa jaminannya bahwa kau akan membiarkanku hidup setelah kamu mendapatkan pedang itu?"


" Hehehehe, jaminannya adalah perkataanku, apa itu tidak cukup?",


terkekeh seram Iblis jantan menjawab, senyumnya yang sinis sudah mengatakan kenyataannya akan berbeda ari jawabannya.


" Heh, kita sama-sama tahu, begitu pedang ada di tanganmu, nyawaku pun tidak ada artinya bagimu." dengus Ding Tao dengan dingin.


Sepasang iblis muka giok itu tertawa berkakakan, puas tertawa mereka memandang tajam pada pemuda itu,


daripada hidup."


" Jangan harap aku menyerah tanpa perlawanan. Tapi apa kalian tidak takut pertarungan kita hanya akan memberi keuntungan pada orang ketiga?", tanya Ding Tao dengan tenang.


Meskipun mereka bercakap-cakap dengan damai, bukan berarti mereka berhenti saling mencari kelemahan. Tubuh mereka tidak diam di satu posisi, melainkan terus bergerak, bergerak untuk mencari kelemahan lawan dan bergerak untuk menutup lubang pertahanan. Sekiranya ada sedikit saja lubang kelemahan dalam pertahanan Ding Tao yang dapat diserang, tentu sepasang iblis itu akan memanfaatkan kelemahan itu.


Salah satu keuntungan Ding Tao adalah sepasang iblis itu tidak ingin membunuhnya sekarang. Mereka perlu menangkap Ding Tao hidup-hidup.


" Memangnya siapa yang berani ikut campur dalam urusan kita ini?",


dengus iblis betina dingin.


" Jika aku berhasil sedikit saja mengimbangi serangan kalian, bukan tidak mungkin ada pihak-pihak yang akan coba mengambil keuntungan. Orang-orang yang tidak berani berlawanan dengan kalian sendirian, tapi menyimpan keinginan untuk itu.",


Ding Tao terus berusaha mendorong lawan untuk membatalkan pertarungan itu.


" Heh.. anak muda, apa kau bermimpi? Ilmumu memang boleh juga, tapi masih jauh untuk dapat mengimbangi kami.", gertak iblis jantan.

__ADS_1


Ganti Ding Tao yang tertawa berkakakan,


" Hahahaha, jangan bercanda, apa kalian ingin aku percaya bahwa sedari tadi ini, kalian sedang bermurah hati dengan tidak menyerangku,


padahal kalian memilki banyak kesempatan untuk itu?"


" Anak muda tidak tahu diuntung! HAH!!", dengan satu bentakan yang keras sepasang iblis muka giok itu menyerang berbareng.


Ding Tao sudah berwaspada sejak tadi, maka dengan gesit dia bergerak melompat ke arah iblis betina dan melontarkan jurus serangan yang terhebat yang dia miliki. Jurus pamungkas keluarga Huang yang pernah dia pakai saat bertarung melawan Zhang Zhiyi. Sewaktu melawan Zhang Zhiyi pedang digerakkan tanpa menggunakan hawa murni untuk memperkuat serangan.


Sekarang yang dihadapi adalah sepasang iblis, dengan menggunakan hawa murni dalam serangannya, hawa pedang jadi semakin menggiriskan.


Kegesitan Ding Tao dalam bereaksi terlalu cepat bagi Iblis betina muka giok, serangannya sendiri belum sempat dikembangkan, serangan Ding Tao sudah datang menekan. Hawa pedang Ding Tao menekan jurus serangannya dan berbalik dari menyerang ganti dia yang diserang.


Kejadian ini bukan suatu kebetulan, bukan pula karena Ding Tao jauh lebih hebat dari sepasang iblis itu. Melainkan karena Ding Tao sudah sempat mengamat-amati gaya permainan mereka sementara mereka belum sempat mengenali gaya permainan Ding Tao. Sewaktu Ding Tao melawan mereka dibantu Xiang Long dan kawan-kawan, pemuda itu memiliki cukup banyak keleluasaan untuk mengamati jurus-jurus dan terutama watak dari gaya permainan lawan.


Salah satu ciri yang melekat pada permainan sepasang iblis itu adalah, serangan selalu diawali oleh Iblis jantan muka giok, serangannya keras, kejam dan bertenaga, jurus-jurus yang dilontarkan semuanya mengincar tempat yang mematikan, bila lawan sampai terkena maka tiada jalan bagi lawan kecuali kematian.


Serangan Iblis betina datang sepersekian detik lebih lambat dari serangan pasangannya, disesuaikan dengan reaksi lawan menghadapi serangan Iblis jantan. Sifat serangan dari Iblis betina adalah, licin, tidak bertenaga, tetapi mengincar bagian


manapun yang terbuka. Tujuannya adalah melukai lawan, atau menolong Iblis jantan lepas dari serangan lawan, tergantung keadaan saat itu.


Inilah kerja sama yang apik dari sepasang iblis muka giok itu, yang sering terjadi adalah lawan terpengaruh oleh serangan yang mematikan dari Iblis jantan, jika lawan kurang hebat, maka matilah dia di bawah serangan Iblis jantan. Jika lawan cukup berilmu, maka kehebatan serangan Iblis jantan, menutupi serangan licik yang lembut dari Iblis betina. Meskipun serangan iblis betina tidak mematikan, tapi luka-luka yang ditimbulkan perlahan-lahan akan melemahkan kekuatan lawan.


Hingga satu saat di mana lawan tidak akan bisa lagi menahan serangan yang mematikan dari Iblis jantan muka giok.


Lewat cara ini entah sudah berapa banyak lawan mati di tangan mereka, bahkan tokoh-tokoh yang secara perorangan bisa dikatakan lebih kuat dari sepasang iblis itu.


Meskipun Ding Tao belum dapat sepenuhnya memecahkan rahasia ilmu dari lawannya, tapi setidaknya dengan memegang ciri tersebut, Ding Tao memiliki akal untuk memecahkan kerja sama mereka. Langkah awalnya adalah dengan menempatkan dirinya tepat berada di tengah di antara sepasang iblis itu.


Begitu Iblis jantan bergerak untuk menyerang, Ding Tao bergerak menyerang ke arah Iblis betina yang berada di arah yang berlawanan. Dengan demikian Ding Tao bisa menghindari serangan Iblis Jantan berbareng dengan menekan Iblis betina mundur.


Tentu saja ada resikonya, bila Iblis betina mampu menahan serangan Ding Tao, maka gerakan mundur Ding Tao untuk menghindari serangan Iblis Jantan pun akan terhenti dan terhimpit di antara dua serangan.


Ibaratnya bermain judi, seluruh taruhan diletakkan di atas meja, tidak ada lagi modal yang disisakan di kantung. Jika gagal menekan Iblis betina muka giok, maka kekalahan Ding Tao akan terjadi dalam satu gebrakan. Jika berhasil maka kerja sama yang rapi di antara kedua iblis itu pun akan terhenti. Bagi


Ding Tao saat itu, perjudian ini tidak merugikan dirinya. Jalan lain dia tidak menemukan, tanpa jalan ini kekalahannya sudah pasti. Dengan jalan ini setidaknya masih ada kemungkinan untuk menang, setidaknya bertahan.


Kalaupun dia gagal dalam pertaruhannya, maka Ding Tao bersandar pada keyakinan bahwa sepasang iblis itu tidak menghendaki pula kematiannya. Meskipun menjadi tawanan dari sepasang iblis itu lebih menderita dibanding mati.


Gerakan pedang Ding Tao bagaikan jaring keadilan dari langit, begitu rapat hingga Iblis betina tidak mampu menemukan celah untuk balik menyerang. Hanya menghindar dan menghindar.

__ADS_1


Ding Tao terus saja mendesak lawan, jalan mundur Iblis betina ke arah mana, Ding Tao lah yang menentukan.


Dengan cara ini, terjadilah semacam kejar-kejaran di antara mereka bertiga. Iblis jantan mengejar Ding Tao dan Ding Tao mengejar Iblis betina. Gerakan mereka sama cepatnya, tinggal siapa yang memiliki stamina lebih kuat dia yang akan memenangkan pertarungan.


__ADS_2