Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
61. Murong Huolin


__ADS_3

Mungkin itu sebabnya banyak lelaki lebih memilih untuk jadi tidak berperasaan atau tidak setia. Memilih keduanya mengundang rasa tersiksa dalam hati. Tapi saat ini yang ada di hadapan Ding Tao adalah Murong Yun Hua dengan wajah yang sendu, senyumnya yang tadi membuat dunia tampak ikut bersinar. Sekarang senyumnya terlihat seperti bunga indah yang kesepian sendirian, sementara awan kelabu bergayut di atasnya.


" Nona Murong, jangan berkata bodoh, hanya orang yang buta dan tuli yang akan mengatakan nona membosankan. Nona begitu cantik, hanya memandangi nona pun orang akan merasa bahagia, suara nona begitu lembut dan halus, mendengarnya seperti mendengar nyanyian merdu bidadari", ujar Ding Tao berusaha menghibur hati gadis itu.


" Wah wah wah, lihat di sini, ada seorang tukang rayu ulung rupanya", tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara nakal menggoda.


Tidak perlu menoleh, Ding Tao sudah tahu siapa yang ada di belakangnya, siapa lagi jika bukan gadis berjubah musim gugur itu. Merona merah wajah pemuda itu, dalam hati dia memaki mulutnya, mengapa bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu.


" Bukan, bukan, bukan maksudku merayu", ujarnya dengan susah hati.


" Bukan, bukan, bukan, bukankah tidak salah perkataanku, baru kutinggal berdua beberapa lama, kau sudah mencoba merayu ciciku", tiru gadis nakal itu dengan memutar mata.


Melihat wajah Ding Tao yang memelas, pecahlah tawa Murong Yun Hua yang pipinya merona merah kena goda adiknya,


" Saudara Ding, sudahlah jangan terlalu dipikirkan, adikku ini memang suka menggoda. Sudahlah, bagaimana dengan tawaranku tadi?"


" Ya, benar, jangan cuma merayu saja. Kau bilang tidak bermaksud merayu, kalau benar, buktikan, jangan tolak tawaran cici, apakah kau sengaja membuat malu dirinya?", desak gadis berjubah musim gugur.


" Baiklah, baik, tapi aku tidak bisa berlama-lama, sebenarnya ada urusan penting yang harus dikerjakan", jawab Ding Tao menyerah.


" Hmmm… aku sedang berpikir, untuk menata taman kami seperti idemu tadi, bagaimana kalau Saudara Ding, tinggal di sini, sampai perubahan itu selesai dikerjakan? Paling satu atau dua hari sudah selesai. Apa urusanmu itu, kira-kira bisa ditunda barang 2 hari?", tanya Murong Yun Hua dengan wajah yang cerah.

__ADS_1


Melihat wajah gadis itu yang begitu cerah, mana tega Ding Tao untuk menawar apalagi menolak.


" Dua hari, ya dua hari tidak masalah, baiklah aku akan merepotkan nona sekalian selama dua hari ini.", jawab Ding Tao dengan pasrah.


" Nah, bagus kalau begitu, ayo sekarang kita ke ruang latihan, kau dikejar-kejar sepasang iblis itu tentu kau termasuk orang persilatan juga. Aku sudah lama tidak berlatih tanding dengan siapapun.", gadis berjubah musim gugur dengan senang menggandeng tangan Ding Tao dan menyeretnya pergi.


" Eh, bagaimana dengan cicimu?", tanya Ding Tao sambil menoleh ke arah Murong Yun Hua.


" Kenapa memang dengan ciciku? Tuh dia di situ, jangan seperti anak kecil ditinggal ibunya, apa kau takut berdua denganku? Memangnya kaupikir aku mau menggigitmu?", jawab gadis nakal itu dalam rentetan kata-kata.


Murong Yun Hua berlari kecil menyusul mereka,


" Eh, jangan ditinggal, aku juga mau lihat kalian berlatih".


" Saudara Ding, sebaiknya kau ikuti saja kemauannya. Sudah lama dia mengeluh karena tidak ada yang bisa diajak bertanding".


Sambil menggaruk kepala Ding Tao hanya bisa mengangguk, mengiyakan, sambil menyengir kuda.


Gadis berjubah musim gugur itu sudah melepas jubahnya. Saat ini dia mengenakan pakaian ringkas yang cocok untuk berlatih silat. Di tangannya dia membawa dua bilah pedang. Tanpa jubah, gadis ini terlihat semakin menarik, mungkin dia kalah cantik dengan Murong Yun Hua, tapi tubuhnya justru lebih padat berisi dengan lekuk-lekuk yang indah di tempat yang tepat.


Kalau kecantikan Murong Yun Hua seperti embun pagi yang sejuk, kecantikan gadis berjubah musim gugur ini, lebih mirip arak yang memabokkan. Apalagi jika ditambah dengan sifatnya yang nakal dan suka menggoda orang.

__ADS_1


Tanpa jubah musim gugurnya, rasanya aneh jika kita masih memanggil dia gadis berjubah musim gugur, beruntung Murong Yun Hua dengan cepat memperkenalkan nama gadis itu pada Ding Tao.


" Oh ya, nama anak nakal ini, Murong Huolin, lidahnya tajam tapi hatinya baik. Kau tidak perlu risaukan perkataannya".


Keceriaan Murong Huolin menular juga pada Murong Yun Hua, Ding Tao jadi tidak menyesal sudah menerima tawarannya.


Hatinya ikut senang melihat wajah yang cantik itu nampak berseri. Dalam waktu yang singkat mereka sudah sampai di sebuah ruangan yang cukup luas.


Rak-rak senjata ada di ke-empat sisinya. Macam-macam senjata ada di sana.


" Kulihat kau membawa-bawa pedang, jadi kau pilih saja salah satu pedang kayu yang ada di sana. Aku sudah terbiasa memakai sepasang pedang. Kalau sudah siap kita langsung saja. Tidak usah banyak basa-basi, ya",


Murong Huolin mendorong Ding Tao ke arah salah satu rak senjata yang berisi bermacam jenis pedang kayu dengan macam-macam ukuran dan bentuk.


Ding Tao melihat-lihat, kemudian memilih satu pedang kayu yang mirip sekali dengan Pedang Angin Berbisik. Ditimang-timangnya pedang itu di tangan, kekaguman muncul di hatinya, tidak salah lagi, pembuat pedang kayu ini, tidak kalah ahlinya dengan pembuat Pedang Angin Berbisik.


Diamat-amatinya pedang itu dengan lebih teliti, diangkatnya mata pedang setinggi mata dan ditelusurinya mata pedang yang diraut dengan halusnya. Ditimang-timangnya dalam genggaman, merasakan keseimbangan antara mata pedang dan pegangannya. Kemudian diayunkannya pedang itu dan dimainkannya beberapa jurus. Dalam hati jadi timbul rasa sayang untuk menggunakan pedang itu dalam latihan.


Sementara itu Murong Huolin sudah menanti dengan tidak sabar, kakinya mengetuk-ngetuk lantai yang terbuat dari papan-papan kayu yang sudah diserut halus.


" Ayo cepat! Mau tunggu sampai aku beruban?", omel gadis itu memecahkan lamunan Ding Tao.

__ADS_1


Sambil menyengir Ding Tao buru-buru berjalan ke tengah arena dan bersiap untuk melayani Murong Huolin yang sudah bersiap, mengambil kuda-kuda dengan dua pedang siap di tangan.


Yang sebilah teracung ke atas, yang sebilah lagi melintang di depan dada.


__ADS_2