Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
92. Chapter 92


__ADS_3

Liu Chuncao tersenyum pahit, " Ya… begitulah, aku tidak tahu sebenarnya apa ada harganya mati bersama orang-orang semacam kalian ini."


" Hehehehe, tidak usah berpikir terlalu jauh, segera kita kembali ke rumah Guru Chen, kita bisa bersantai-santai menghabiskan persediaan araknya. Kalau mau pergi juga belum terlambat.", jawab Wang Xiaho sambil tertawa.


Liu Chuncao ikut tertawa, untuk sekejap kesedihan tersaput bersih dari wajahnya. Puas tertawa dengan wajah yang lebih serius dia berkata, " Jika memang pemilihan Wulin Mengzhu tidak bisa dihindarkan, kukira Ding Tao memang pilihan yang terbaik. Chong Weixia dan Wu Liang sudah bisa dipastikan akan ikut dalam pemilihan. Tapi siapapun dari perguruan besar yang menang, maka empat perguruan besar yang lain kemungkinan besar tidak akan bersedia untuk bersumpah setia."


" Ya, begitu juga pemikiranku dan Guru Chen"


" Tapi yang jadi masalah adalah pengalaman dan ilmu silat Ding Tao. Aku yakin pada akhirnya akan berujung pada adu kekuatan. Apakah menurutmu Ding Tao bisa menghadapi ketua-ketua dari perguruan besar?", tanya Liu Chuncao.


" Tadinya aku masih ragu, tapi setelah pertarungan kita pagi ini, ada satu pikiran, bagaimana jika kita membukakan pada anak itu seluruh ilmu yang kita miliki. Dengan kemampuannya untuk menyerap dan mengamati, jelas dia berkembang dalam setiap pertarungan. Kitapun ikut juga mendapatkan pemikiran baru dan kemajuan dalam ilmu kita."


" Heh, entahlah, jika semua pendukungnya mau melakukan hal itum sedikit banyak tentu akan menambah pengalaman dan pendalaman pemuda itu terhadap ilmu yang dia miliki. Tapi apakah ada banyak yang mau membuka ilmu perguruannya kepada orang luar?", tanya Liu Chuncao.


" Bertanding saja dengan pemuda itu, kalau perlu kita berkeliling, memperkenalkan diri dan menantang dari satu perguruan ke perguruan lain."


" Menantang? Apakah tidak justru akan menumbulkan permusuhan?"


" Tidak perlu menantang, cukup kita antar dia dan kita katakan bahwa kita berniat untuk mendukung dia mencalonkan diri dalam pemilihan Wulin Mengzhu, aku yakin 9 dari 10 orang akan menantangnya bertarung.", jawab Wang Xiaho dengan yakin.


Liu Chuncao coba membayangkan hal itu sebentar, kemudian tertawa, " Hehehe, benar-benar, makin tua makin banyak akalnya. Ya kupikir cara itu pasti akan berhasil. Selain mendapatkan dukungan kita juga akan menambah pengalaman pemuda itu."


" Tentu saja ilmu mereka tidak bisa dibandingkan dengan ilmu rahasia dari perguruan besar, tapi setidaknya kesempatan DingTao untuk memenangkan kedudukan Wulin Mengzhu akan jadi semakin besar."


" Tidak masalah, jika kita sudah memilih satu jalan, tidak ada jalan lain kecuali berusaha sebaik-baiknya, tentang hasil, biarlah kita serahkan pada Thian saja."


" Bagus, jawaban yang bagus. Ding Tao kau dengar apa kata Pendeta liu tadi?", tanya Wang Xiaho pada Ding Tao.


Perlahan Ding Tao membalikkan badan, wajahnya tampak serius dan tegas, tidak tersenyum, tidak tersipu malu atau salah tingkah seperti biasa. Lama dia terdiam, lalu dengan perlahan-lahan tapi jelas dan tanpa keraguan dia menjawab, " Paman sekalian memmpercayakan tanggung jawab yang berat ke atas pundakku. Jika mengikuti keinginanku sendiri siauwtee tidak akan bersedia mengajukan diri. Namun demi kepentingan yang lebih besar siauwtee menerimanya."


" Bagaimana dengan masalah keluarga Huang? Maafkan aku Ding Tao, jika pertanyaanku ini terdengar tidak berperasaan bagimu. Namun ada kemungkinan besar, nona muda keluarga Huang tidak selamat dalam penyerangan itu. Jika hal itu terjadi, masih dapatkah kau berdiri dengan tegar dan memberikan jawaban yang sama" tanya Liu Chuncao dengan berhati-hati.


Wang Xiaho mengerutkan alisnya, teringat bagaimana gugupnya Ding Tao saat mendengar berita tentang penyerangan atas keluarga Huang. Wang Xiaho kuatir, Ding Tao akan kembali kehilangan kontrol dirinya. Tapi dia tak sampai hati menyampaikan kekuatirannya itu.


Namun pemuda itu ternyata cukup tegar, meskipun kesedihan tidak dapat disembunyikan dari raut wajahnya, suaranya terdengar tegas saat dia menjawab,

__ADS_1


" Kepentingan umum harus diletakkan di atas kepentingan pribadi. Apapun hasil dari penyelidikan kita di Wuling, paman sekalian tidak perlu kuatir, orang She Ding tidak akan lari dari kepercayaan yang kalian berikan."


Liu Chun Cao memandangi pemuda itu dalam-dalam, sebagai seorang yang sering berkelana dan bertemu berbagai macam orang, Liu Chun Cao cukup yakin akan kemampuannya mengenali sifat-sifat seseorang. Sambil menghembuskan nafas akhirnya dia berkata,


" Aku percaya padamu…"


Wang Xia Ho tersenyum, Liu Chun Cao mungkin bukan pendekar pedang nomor satu, tapi tidak pernah dia bertemu orang yang berhati seteguh Liu Chun Cao. Sedikit ada kemiripan dengan Ding Tao, tapi Liu Chun Cao bukan orang yang naif, yang tidak pernah melihat sisi buruk dari kehidupan tokoh-tokoh yang disanjung puja dalam dunia persilatan. Liu Chun Cao adalah orang yang cenderung kritis, bahkan sinis jika harus berurusan dengan tokoh-tokoh penting dalam dunia persilatan. Jika orang berkata-kata tentang Liu Chun Cao, baik dengan nada hormat maupun dengan nada menghina, Pendeta


Pengelana Liu Chun Cao selalu dikatakan, pikirannya lurus, selurus pedang miliknya, tapi pendek sependek gagang pedangnya.


Perkataan ini dimaksudkan untuk menunjukkan, kejujuran dan sifat Liu Chun Cao yang tidak bisa dikompromikan.


Itu sebabnya adalah sangat berarti jika Liu Chun Cao sampai bersedia mendukung Ding Tao.


" Ding Tao, hendaknya kau mengerti, dunia persilatan, idealnya didirikan berdasarkan Yi dan Xin, kebenaran dan kehormatan. Kita hidup dalam dunia kita sendiri, bebas dari aturan dan kekuasaan pemerintahan yang korup, hidup bersandar pada kebenaran dan kehormatan. Kenyataannya kebenaran dan kehormatan, seringkali hanyalah kata-kata, yang bersandarkan pada kekuatan seseorang untuk mengartikannya.


Mengandalkan pedang di tangan, menegakkan kebenaran dan keadilan. Kebenaran menurut siapa dan keadilan untuk siapa? Pada akhirnya kita yang berdiri di jalan pedang, bukanlah manusia yang berbeda dengan manusia lainnya.", kata Liu Chun Cao dengan sungguh-sungguh.


" Hmm… benar, ilmu pedang saja tidak akan mengubah watak dasar seseorang. Hanya karena mempalajari ilmu silat, bukan berarti menjadi orang yang mengerti kebenaran dan kehormatan.",sahut Wang Xiaho.


" Tidak ada bedanya dengan keadaan pemerintahan yang menyimpan pejabat-pejabat korup. Dunia persilatan pun dihuni oleh orang-orang dengan sifat serakah yang sama. Meskipun di luar dia berlaku seperti seorang yang terhormat, di baliknya tersimpan siasat licik, keegoisan yang mengorbankan orang lain demi diri sendiri."


" Idealnya seperti itu Ding Tao, tapi tidaklah mudah untuk memisahkan mana yang bisa disebut seorang pahlawan dan mana yang bisa disebut penjahat. Tidak jarang mereka yang dipanggil sebagai seorang pahlawan dalam dunia persilatan adalah seorang penjahat yang sesungguhnya. Tidak lepas pula kemungkinan mereka yang dianggap golongan sesat, hanyalah seorang pahlawan yang kalah kuat dan tersisih.", ujar Liu Chun Cao dengan mendesah sedih.


Dalam benak Ding Tao terbayang kesedihan yang terpancar dari sorot mata Sepasang Iblis Muka Giok. Dengan tegas dia menjawab, " Harus ada yang bersedia untuk meluruskan kesalahan-kesalahan tersebut."


Dengan senyum kecut Liu Chun Cao balik bertanya,


" Dengan apa seorang pendekar hendak meluruskan ketidak adilan itu?"


Ding Tao terdiam sejenak sebelum dengan berat hati


menjawab, " Lewat kemampuannya dalam ilmu bela diri…"


" Ya, atas dasar kekuatan pedang dan senjata. Cepat atau lambat, mereka akan menyadari bahwa sendirian dia tidak berarti. Untuk membuat perubahan, dia harus mengumpulkan kekuatan, dia perlu dukungan dari pendekar-pendekar lain. Kemudian demi mendapatkan kekuatan untuk membersihkan dunia dari kejahatan, mereka pun jatuh ke dalam kubangan yang sama."

__ADS_1


Sambil menggertakkan gigi Ding Tao menjawab, " Harus ada bedanya, kebenaran dan keadilan tidak boleh berganti arah hanya melihat siapa kuat siapa lemah. Mereka yang ingin dirinya dipanggil pahlawan akan tetap berdiri di pihak yang benar meski dirinya lebih lemah. Karena kebenaran dan kehormatan adalah prinsip dasarnya, kemampuan bertarung hanyalah alatnya. Jika kemampuan bertarung diletakkan di tempat yang lebih penting, maka itulah suatu kesalahan."


" Bagaimana jika berpegang teguh pada kebenaran dan kehormatan berarti maut dan celaka? Bukan hanya untuk


dirimu tapi juga bagi orang-orang yang dekat denganmu?", kejar Liu Chun Cao.


Mulut Ding Tao sudah terbuka untuk menjawab, tapi tertutup kembali ketika dia berpikir lebih jauh. Jika bahaya itu hanya untuk dirinya tentu tidak jadi masalah, tapi jika ancaman itu datang pada orang-orang yang dekat dengannya, orang-orang seperti gurunya Gu Tong Dang, Huang Ying Ying, Murong Yunhua atau Murong Huolin, masih bisakah dirinya mengatakan hal yang sama. Tiba-tiba dia menangkap dan merasakan kepahitan dalam ekspresi wajah Liu Chun Cao. Kesedihan yang bisa dia rasakan, terpancar pula dari sinar wajah Sepasang Iblis Muka Giok.


Dalam hati terbetiklah pertanyaan, ' Apakah dia juga…, jangan-jangan Pendeta Liu menghadapi hal yang serupa. Itu sebabnya dia jadi begitu dingin dan sinis dalam menilai polah laku orang-orang dalam dunia persilatan.‘


Perlahan Ding Tao menggelengkan kepala, diapun tidak bisa menjawab dengan tegas untuk hal yang terakhir itu,


" Entahlah paman, tapi sekali memutuskan sebuah jalan, maka segala pahit manisnya harus diterima. Seorang diri siauwtee bisa menjawab dengan yakin bahwa ancaman terhadap diriku akan siauwtee hadapi dengan dada tengadah…"


" Aku mengerti…", sahut Liu Chun Cao tersenyum pahit.


" Ding Tao, bukan berarti kau tidak mampu berbuat apa-apa untuk membasmi yang jahat, menolong yang lemah, menegakkan kebenaran dan berlaku sesuai kehormatan dirimu. Hanya saja seberapa jauh kau bisa melangkah, akhirnya akan tergantung pada seberapa besar kekuatanmu, baik sendiri maupun dilihat dari jumlah pendukungmu", ujar Wang Xiaho, tidak ingin Ding Tao terpengaruh oleh pandangan Liu Chun Cao yang cenderung pesimis memandang hidup ini.


Merenungi perkataan Wang Xiaho, Ding Tao jadi mengerti apakah yang menjadi keberatan Liu Chun Cao. Otaknya cukup encer untuk melihat hubungan antara satu hal dengan hal yang lain. Jika seseorang terobsesi untuk melakukan perubahan dan menyadari bahwa dirinya membutuhkan kekuasaan untuk melakukan perubahan, maka bukan tidak mungkin orang tersebut akan terjerumus dalam pengejaran akan kekuasaan, hingga lupa akan motivasinya yang mula-mula. Bahaya yang kedua datang adalah ketika dia berhasil mendapatkan kekuasaan yang besar, yang dia butuhkan untuk melakukan perubahan, akankah dia tetap teguh pada pendiriannya yang semula? Apakah dia tidak akan tergoda untuk memanfaatkan kekuasaan itu demi kepentingannya sendiri?


Ding Tao juga mengerti pengharapan yang diletakkan oleh


Wang Xiaho pada pundaknya. Ding Tao merasa sangat


berterima kasih oleh penghargaan dan kepercayaan yang diberikan Wang Xiaho pada dirinya. Tapi secara logika Ding Tao justru lebih setuju pada Liu Chun Cao.


Sambil menghela nafas pemuda itu akhirnya berkata, " Paman Wang, Pendeta Liu, kurasa siauwtee sudah mengerti sekarang. Entah siauwtee menjadi Wulin Mengzhu atau tidak. Entah siauwtee menjadi yang terkuat atau tidak. Satu hal siauwtee bisa katakan, siauwtee berjanji untuk berdiri teguh di atas dasar kebenaran dan kehormatan."


Menoleh pada Liu Chun Cao, sambil membungkuk memberi hormat dia berkata, " Pendeta Liu, terima kasih sudah mengingatkan siauwtee pada prioritas utama dalam hidup seorang manusia."


Liu Chun Cao mengangguk puas. Wang Xiaho sebaliknya merasa sedikit kuatir dan cepat-cepat menambahkan,


" Ding Tao bukan berarti kau boleh asal-asalan dalam berusaha mendapatkan gelar Wulin Mengzhu."


" Ya siauwtee mengerti, siauwtee akan berusaha sekuatnya untuk mencapai kekuatan dan kekuasaan yang diperlukan untuk mengadakan perubahan. Di saat yang sama akan selalu mengingat apa yang mendasari pengejaran itu. Tapi ketika pengejaran itu mengarah pada hal-hal yang menyalahi prinsip-prinsip yang justru sedang diperjuangkan, itu artinya sudah waktunya untuk berhenti dan mencari jalan yang lain."

__ADS_1


Wang Xiaho awalnya merasa tidak puas dengan jawaban Ding Tao, berbeda dengan Liu Chun Cao yang semakin mantap untuk mendukung Ding Tao. Tapi ketika Wang Xiaho merenungkan lebih jauh lagi jawaban Ding Tao itu, pada akhirnya Wang Xiaho pun mengangguk setuju. Karena apa artinya dia mendukung Ding Tao menjadi Wuling Mengzhu, jika pada akhirnya Ding Tao tidak membawa perbaikan, jika Ding Tao berubah menjadi seorang munafik, seorang egois dan licik yang bertopengkan kehormatan? Lebih penting dari apa yang dapat dicapai pemuda itu, adalah keteguhan dari wataknya.


" Ya, akhirnya aku pun bisa mengerti…" ujar Wang Xiaho sambil memandang Ding Tao dan Liu Chun Cao dengan senyum arif.


__ADS_2