
Pagi hari datang memberikan kesegaran, untuk sesaat lamanya benak mereka yang baru saja terbangun setelah semalam tertidur lelap, menikmati kesegaran yang dirasakan. Sebelum masalah-masalah yang kemarin dan kekuatiran tentang masa depan, menyergap dan menarik kembali mereka pada kenyataan hidup yang seringkali tidak menyenangkan.
Bahagianya orang yang setelah bangun lalu sadar akan apa yang telah terjadi dan membayangkan apa yang di depan nanti, justru tersenyum dan tertawa, lalu bangkit dengan sepenuh semangat menyambut hari yang baru.
Ding Tao dan Huang Ying Ying, Tiong Fa dan Tuan besar Huang Jin, hari itu mereka bangun pagi dengan semangat yang menyala. Tersenyum mengenang hal-hal yang terjadi semalam dan dengan perasaan yang segar, menanti-nanti hal baik yang akan terjadi hari ini.
Jika Ding Tao dan Huang Ying Ying ikut mendengar pembicaraan Tiong Fan dan Tuan besar Huang Jin semalam, tentu berbeda lagi perasaan mereka. Demikian juga sebaliknya, jika saja Tuan besar Huang Jin ikut menyaksikan kejadian semalam di kamar Huang Ying Ying, mungkin dia tidak akan tersenyum selebar sekarang.
Apakah ada yang menangisi matinya Zhang Zhiyi? Sayangnya pemuda itu belum berkeluarga, meskipun kematiannya masih jadi bahan pembicaraan di hari yang ketiga ini, tapi tidak ada yang menangisi kepergiannya.
Saat Huang Ying Ying membuka pintu lemari, Ding Tao masih tertidur lelap. Perlahan gadis itu mengambil pakaian yang hendak dipakainya. Lalu berlutut di depan pemuda itu dan untuk beberapa lama dia hanya diam mengamati wajah kekasihnya.
Dengan wajah bersemu merah, gadis itu melompat berdiri dan pergi untuk mandi.
Ding Tao terbangun oleh suara gemericik dari arah kamar mandi, sejenak dia tercenung dan mengingat-ingat di mana dia berada sekarang. Ketika ingatannya sudah terkumpul, pemuda itu pun bangkit dan duduk bersila. Hatinya terasa ringan, masalah pedang sudah tidak lagi membebani dirinya. Perasaan yang lama terpendam sudah diungkapkan dan mendapat sambutan baik.
Hari ini adalah hari terbaik buat dia. Dengan mudah pemuda itu menyatukan pikirannya dan mulai melatih himpunan hawa murninya. Hawa liar dari Tinju 7 luka, masih bersembunyi dalam tubuhnya, tapi pemuda itu sudah mulai mengenali sifat-sifat dari hawa murni asing dalam tubuhnya itu.
Meskipun dia belum bisa mengendalikan atau membebaskan diri darinya, tapi setidaknya dia bisa membuat hawa asing itu tertidur dan tidak mengganggu saat Ding Tao sedikit demi sedikit berusaha menggunakan hawa murni miliknya untuk membantu tubuhnya menyembuhkan diri dari luka.
Suara gemericik air sudah lama berhenti, langkah kaki terdengar mendekat ke arah lemari, kemudian terdengar suara Huang Ying Ying berbisik,
" Kakak Ding, aku mau pergi keluar untuk makan pagi bersama, kakak tunggu sebentar ya, nanti aku bawakan sarapan untuk kakak".
Istirahat yang cukup dan hawa murni yang mulai terhimpun lagi, membuat tubuh Ding Tao terasa jauh lebih segar daripada kemarin. Selama Huang Ying Ying berada di luar, Ding Tao menyibukkan dirinya dengan latihan tenaga dalam, menghimpun hawa murni dan perlahan mencoba menyalurkannya ke bagian-bagian tubuh yang diinginkan.
Masih banyak jalur yang belum berhasil ditembus dan dengan adanya hawa murni asing dalam tubuhnya, Ding Tao tidak bisa seleluasa sebelumnya dalam menggunakan hawa murni.
Setiap kali dirasanya hawa murni yang asing itu ikut bergejolak, maka ditahannya penggunaan hawa murni dalam tubuh. Menunggu hawa pukulan Tinju 7 Luka, kembali tertidur.
Cemas juga hati Ding Tao mengamati pergolakan yang terjadi dalam tubuhnya. Hawa pukulan Tinju 7 Luka, membuat dia tidak bisa dengan leluasa mempergunakan himpunan hawa murni yang dia miliki.
Terbayang dalam benaknya, apa yang terjadi dalam sebuah pertarungan bila penggunaan hawa murni harus dibatasi.
Menghadapi lawan yang belum sampai pada taraf menggunakan hawa murni dalam bertarung, tidak akan menjadi masalah, tapi lawan-lawan yang ada di hadapannya sekarang bukanlah anak-anak kemarin sore.
Dalam hati diulanginya keterangan Tabib Shao yang disampaikan oleh Huang Ying Ying.
Biksu Khongzhe dan Pendeta Chong Xan, dua orang sakti yang mungkin bisa menyembuhkan lukanya.
Ada juga Perguruan Kongtong, tapi jika orang yang menyerangnya masih ada hubungan dengan Perguruan Kongtong, pergi ke sana, akan jadi perjalanan bunuh diri.
Kesempatan paling baik adalah pergi ke Shaolin atau ke Wudang. Menyadari situasinya yang sekarang kurang menguntungkan bagi Huang Ying Ying, pemuda itu memutuskan, semakin cepat dia pergi, semakin baik. Sewaktu Huang Ying Ying kembali ke kamarnya, Ding Tao sudah mengambil keputusan, untuk pergi malam itu juga.
Huang Ying Ying kembali ke kamarnya, diikuti oleh kakaknya Huang Ren Fu. Huang Ren Fu semalaman susah tidur, membayangkan keadaan adik perempuannya yang memasukkan‖ laki-laki ke dalam kamar. Ketika mereka bertemu pagi itu, ingin rasanya dia menginterogasi Huang Ying
__ADS_1
Ying, tapi rasa sayangnya mencegah dia untuk bertanya. Dia hanya bisa berharap dalam hati, kedua pasangan itu mampu menahan diri.
Tapi ketika Huang Ying Ying hendak kembali ke kamar, tanpa banyak omong, cepat-cepat pemuda itu menjajarinya. Huang Ying Ying tentu saja bisa mengerti, dia tidak sekeras malam sebelumnya. Kejadian semalam menyadarkan dia, bahwa godaan itu sedemikian besar, malah ada rasa bersyukur bahwa Huang Ren Fu mengikutinya. Sambil berjalan mengikuti Huang Ying Ying, Huang Ren Fu masih menyempatkan diri untuk mencomot 3 buah bakpau daging. Dia lihat Huang Ying Ying hanya sempat membawa sepotong kue dan beberapa macam buah-buahan.
Buat anggota keluarga yang lain, kedekatan dua bersaudara itu tidaklah terlalu mengundang pertanyaan. Mereka berdua memang dikenal saling menyayangi.
Sesampainya di kamar, mereka terlebih dahulu memastikan bahwa tidak banyak orang lalu lalang di luar. Huang Ren Fu memilih duduk di dekat jendela yang sengaja dia buka,
sehingga dia dapat dengan mudah mengamati keadaan di luar. Setelah dia yakin keadaan cukup aman, Huang Ren Fu mengangguk perlahan pada Huang Ying Ying.
Hati kedua bersaudara itu tidaklah tenang, di siang hari begini, tentu akan ada saja orang yang lewat.
" Kakak Ding, kami membawa sedikit makanan untukmu"
bisik Huang Ying Ying sambil membuka pintu lemari, tidak lebar-lebar, hanya setengah terbuka.
Ding Tao yang sudah menyelesaikan latihannya, menyambut Huang Ying Ying dengan senyuman. Ketika dilihatnya Huang Ren Fu duduk di pinggir jendela, pemuda itu pun mengangguk dengan sopan.
" Terima kasih Adik Ying, terima kasih Saudara Fu"
" Ini, makanlah saja dulu, tidak banyak yang bisa kubawa, tapi Kakak Ren Fu juga sempat mengambil 3 potong bakpau buatmu.", dengan lembut Huang Ying Ying meremas tangan pemuda itu, lalu pergi ikut berduduk dengan Huang Ren Fu di pinggir jendela.
Huang Ren Fu sudah mengambil papan catur dan sedang mengaturnya di atas meja kecil yang ada. Dua bersaudara itu dengan cepat mulai memainkan permainan catur sambil mengobrol, seakan-akan tidak terjadi sesuatu yang berbeda dari hari biasanya.
Dengan penuh syukur Ding Tao menikmati makanan yang mereka bawakan. Pemuda itu mengunyah makanannya perlahan-lahan, sesekali dia mencuri pandang pada dua bersaudara yang sedang bermain catur. Terkadang dia sempat bertemu pandang dengan Huang Ying Ying yang sedang melihat ke arah dirinya.
Jangankan berhari-hari, baru satu malam saja, hubungan mereka sudah terlihat jauh melangkah. Mungkin mereka sendiri tidak merasa, tapi Huang Ren Fu bisa melihat dengan jelas, perbedaan mereka berdua, hari ini dan hari-hari sebelumnya.
Sebagai seorang kakak, meskipun dia ikut berbahagia untuk adiknya, tidak urung terselip juga rasa khawatir dan dorongan untuk melindungi adiknya dari tindakan-tindakan yang tidak diinginkan. Otaknya pun berputar keras, mencari cara untuk mengeluarkan Ding Tao dari kamar Huang Ying Ying adiknya.
Tidak sabar rasanya pemuda ini menanti Ding Tao selesai bersantap, sebuah rencana sudah mulai terbentuk dalam benaknya. Ingin dia segera mengajukan rencana itu pada Ding Tao, tapi Ding Tao justru makan dengan begitu lambatnya.
Dua kali permainan sudah Huang Ren Fu memenangkan permainan catur itu dan satu kali Huang Ying Ying memenangkannya, sebelum Ding Tao selesai menyantap habis seluruh makanan yang dibawa.
Tiga kali sudah, ada pelayan yang datang dan pintu lemari pakaian harus terburu-buru ditutup sementara makanan dipindahkan dulu ke meja. Sudah tentu perasaan ketiga orang itu sangat tegang dan tidak nyaman dan berharap malam segera tiba kembali. Terkecuali Huang Ren Fu yang tidak tahu, haruskah dia merasa senang bila malam tiba. Rahasia keberadaan Ding Tao di kamar Huang Ying Ying akan lebih aman, tapi justru keamanan adiknya yang akan membuat dia susah tidur.
Karena itu ketika dia melihat Ding Tao selesai bersantap, segera saja Huang Ren Fu mengajak pemuda itu berbicara,
" Ding Tao, bagaimana keadaanmu hari ini?"
" Sudah lumayan baik Saudara Fu, kukira hari ini juga aku sudah bisa meninggalkan rumah kalian"
" Meninggalkan rumah kami?",
Huang Ren Fu menegas, meskipun dia tidak ingin Ding Tao berlama-lama di kamar Huang Ying Ying, tapi perkataan Ding Tao itu jauh di luar dugaannya.
__ADS_1
Apalagi bagi Huang Ying Ying, bukan main kagetnya, dengan suara tercekat dia bertanya,
" Kakak Ding, apa kakak sedang bercanda? Kondisi kakak belum pulih benar, mengapa hendak cepat-cepat pergi? Apakah Kakak Ding merasa sakit hati pada keluarga kami?"
" Adik Ying benar Saudara Ding, apakah kondisimu sudah benar-benar pulih, jika belum sebaiknya kau bersabar dulu",
tambah Huang Ren Fu yang merasa lega sekaligus khawatir.
Lega bagi adiknya tapi khawatir bagi Ding Tao, seperti sebagian besar dari anak muda yang menyaksikan pertandingan antara Ding Tao dan keluarga Huang, pertandingan itu telah menimbulkan kekaguman dan rasa simpati dalam hatinya.
" Adik Ying, jangan berpikir yang tidak-tidak. Tidak sedikitpun aku menyimpan rasa sakit hati pada keluarga kalian",
ujar Ding Tao berusaha menenangkan hati Huang Ying Ying.
" Saudara Fu, Kondisiku sudah jauh lebih baik dan kurasa istirahat lebih banyak tidak akan membuatnya jadi lebih baik lagi. Apalagi situasi sekarang tidak begitu nyaman untuk kita semua, karena itu setelah memikirkannya, aku memutuskan untuk berusaha keluar dari rumah kalian malam ini juga".
Memerah wajah Huang Ying Ying mendengar penjelasan Ding Tao, tentu saja dia mengerti apa yang dimaksudkan dengan situasi yang kurang nyaman, tapi hatinya masih berat untuk melepaskan pemuda itu.
Sambil menggigit bibir dia bertanya dengan lemah, " Tapi, bagaimana dengan urusan pedangmu? Apakah kau tidak menginginkannya kembali?"
Ding Tao menggeleng,
" Tidak, hal itu sudah kupikirkan pula baik-baik tadi malam. Dalam keadaanku sekarang ini, dengan cara apa hendak merebut kembali pedang itu? Kalaupun kemudian aku berhasil mencuri kembali Pedang Angin Berbisik dengan bantuan kalian, besar kemungkinan aku tidak akan berhasil mempertahankan pedang itu di luaran. Bukan tidak mungkin pedang itu justru akan jatuh ke tangan antek-anteknya Ren Zuocan. Lebih baik pedang itu ada dalam tangan Tetua Tiong daripada jatuh ke tangan mereka".
Sambil menggelengkan kepalanya sekali lagi dia menegaskan,
" Tidak, sudah kupikirkan baik-baik dan menurutku untuk sementara ini aku tidak akan melibatkan diri dengan masalah pedang itu".
" Saudara Ding, baik sekali pemikiranmu, tapi jika demikian apa yang akan kau lakukan dengan pesan Pelatih Gu untukmu?", tanya Huang Ren Fu.
" Pesan guru yang utama, adalah menggunakan bekal yang akan kumiliki untuk membantu dunia persilatan kita membendung ambisi Ren Zuocan dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya, dengan atau tanpa Pedang
Angin Berbisik. Menimbang keadaanku saat ini, maka yang terpenting adalah menyembuhkan luka dalam tubuhku terlebih dahulu. Mungkin aku akan mencoba pergi ke Shaolin dan memohon kebaikan hati Biksu Khongzhe.",
jawab Ding Tao dengan suara yang wajar, tanpa menyembunyikan apa pun.Huang Ren Fu semakin kagum pada pemuda itu, pada ketenangannya dan juga pada kebesaran hatinya.
" Saudara Ding, sungguh aku merasa kagum padamu. Jika kau mengijinkan aku memanggilmu sebagai sahabat, aku akan sangat merasa berbahagia",
ujar Huang Ren Fu dengan tulus.
Wajah Ding Tao pun memerah karena malu, " Saudara Fu terlampau tinggi memuji, tentu saja aku akan dengan senang hati menjadi sahabatmu".
Tertawa bergelak Huang Ren Fu bergerak melompat, dalam satu lompatan yang ringan dia sudah sampai di depan Ding Tao, tangannya terulur menawarkan persahabatan. Ding Tao pun dengan senang menerima uluran tangan itu. Jabatan tangan yang hangat mewakili perasaan dalam hati.
" Sahabat.", ujar Huang Ren Fu pendek.
__ADS_1
" Sahabat.", jawab Ding Tao tidak kalah pendeknya.