
Beberapa hari sebelum hari istimewa itu, para pengurus usaha keluarga Huang yg berada di beberapa kota lain pun mulai berdatangan. Baik yang datang sendiri, maupun yang datang bersama-sama dengan keluarga dan orang kepercayaannya.
Sahabat-sahabat dekat keluarga Huang pun turut berkunjung, orang-orang tua dan berjenggot yang pernah memiliki nama besar. Wajah-wajah keras dan tubuh berotot yang pekerjaannya dalam dunia persilatan hanya disampaikan dengan bisik-bisik dan dari mulut ke mulut. Guru-guru silat yg terkenal dengan murid andalannya. Pendek kata berbagai macam golongan hari itu berkumpul.
Kedatangan mereka itu sudah menjadi satu keramaian tersendiri, baik mereka yang berjumpa setelah setahun penuh tidak bertemu, maupun pembicaraan ttg orang-orang yang mereka bawa, yang tentunya dipandang memiliki kelebihan dan kisahnya sendiri.
Yang sudah tua, ramai membicarakan perkembangan keluarga Huang dan kisah-kisah di masa lalu. Yang masih muda ramai membicarakan harapan mereka di masa depan, tidak luput juga mereka membicarakan kecantikan atau ketampanan dari pemuda yang ini atau gadis yang itu.
Pada hari itu hampir seluruh kegiatan dalam keluarga Huang dihentikan, bahkan penjagaan pun tidak seketat biasanya, maklum saja hampir seluruh dedengkot keluarga Huang sedang berkumpul sehingga sulit dibayangkan bakal ada orang yang berani mencari gara-gara di hari itu.
Setelah upacara sembahyangan di pagi hari dan upacara syukuran yang dipimpin seorang pendeta tao, maka tiba saatnya untuk anak-anak muda yang bekerja di keluarga Huang untuk mengikuti ujian kenaikan tingkat.
Hari itu kurang lebih ada 23 orang yang mengikuti ujian kelulusan, 7 di antaranya dibawa dari cabang perusahaan keluarga Huang.
Ujian itu dilaksanakan di sebuah lapangan yang cukup luas, di salah satu sisinya didirikan beberapa tenda besar, tempat orang-orang penting dalam keluarga Huang dan undangan-undangan duduk.
Ketika mereka masuk ke dalam lapangan, tepuk tangan pun terdengar. Beberapa orang terdengar bersuit, ada juga yang memanggil-manggil nama orang yg mereka kenal. Salah satunya adalah nona muda kelurga Huang yang berteriak cukup keras,
"Ayo Ding Tao!! Semangat !!"
Ding Tao yang sedari tadi menunduk pun mendongakkan kepala, wajahnya yang bersemu merah, semakin bersemu merah. Dilihatnya nona muda keluarga Huang melambaikan tangannya, sampai salah seorang kakak lelakinya menarik tangannya sambil tertawa besar.
Ding Tao yang berada di antara 23 orang itu pun merasa berdebar-debar. Wajahnya yang bersemu merah lebih banyak menunduk, dalam hatinya dia merasa malu, karena peserta yang lainnya berumur jauh lebih muda dari dirinya. Apalagi Ding Tao termasuk tinggi untuk pemuda seusianya, sehingga dia jadi lebih menonjol lagi dari ke-23 orang itu.
Sekilas dilihatnya di deretan terdepan, Tuan besar Huang Jin, bersama isteri dan anak-anaknya, sedang bercakap-cakap dengan salah satu undangan, seorang laki-laki berusia 40-an, kumis dan jenggotnya yang lebat ditata rapi, badannya tinggi tegap menambah wibawanya.
Di sebelahnya seorang pemuda yang tampan dengan senyum yang menawan, yang sibuk berusaha mengajak nona muda keluarga Huang untuk mengobrol.
Setelah seluruh peserta berbaris rapi di dalam lapangan, Tuan besar Huang Jin berdiri dan memberikan kata sambutan.
Tiba-tiba Ding Tao merasa sebal dengan pemuda tampan itu. Dia sendiri merasa heran apa sebabnya dia merasa sebal, kata-kata sambutan dari Tuan besar Huang Jin pun tidak sepenuhnya masuk dalam ingatannya, setiap kali dia menegakkan kepala tentu yang dilihatnya adalah pemuda tampan itu, yang berusaha memikat si nona muda.
Sifat nona muda keluarga Huang memang terbuka dan sedikit kelaki-lakian, dengan cepat merasa akrab dengan sahabat barunya.
Ketika Ding Tao melihat pemuda itu akrab dengan nona muda keluarga Huang, semakin lama semakin sebal pula hatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuan besar Huang Jin sudah selesai dengan kata sambutannya dan para peserta mulai menyebar dan bersiap untuk mendemonstrasikan jurus-jurus.
Ding Tao pun segera bersiap,
Pertama-tama mereka menjalankan 9 jurus dasar tangan kosong. Satu demi satu, jurus diperagakan, meskipun semuanya memperagakan jurus yang sama, terdapat perbedaan-perbedaan dari seorang dengan yang lain.
Beberapa memperagakan jurus-jurus itu dengan setiap kembangan-kembangannya yang membuat jurus-jurus itu terlihat lebih indah tanpa mengurangi kekuatannya.
Yang lain lebih menonjolkan kekuatan dari jurus itu, memperagakannya dengan gerakan yg lebih sederhana tapi cepat dan keras.
Ada juga yang lebih memperhatikan ketepatan perubahan dari tiap jurus, bergerak dengan tenang, tidak terlalu cepat, tidak pula lambat, setiap gerakan tampak mengalir sambung menyambung. Namun dengan mudah bisa dilihat mereka memperagakan jurus yang sama.
Ding Tao termasuk mereka yang memperhatikan tiap detail, tiap kembangan dan setiap bagian terkecilnya, hanya sayang meskipun gerakannya mantap tapi tak seindah yang lain.
Seorang lelaki tua dengan baju hitam sederhana, mondar-mandir, memperhatikan gerakan tiap-tiap orang, dia adalah pelatih Gu, Gu Tong Dang. Orang tua ini sudah berumur 70-an, menjadi pelatih silat keluarga Huang sejak Tuan besar Huang
Jin masih muda. Ilmu silatnya bukanlah yang terbaik, tapi bakatnya dalam sebagai pendidik sulit dicari bandingannya. Matanya pun jeli dalam menilai bakat seseorang.
Dia juga yang bertanggung jawab untuk melatih Ding Tao dan atas penilaiannya pula Ding Tao tidak pernah diluluskan pada ujian tahun-tahun sebelumnya.
9 jurus dasar tangan kosong selesai diperagakan, penonton pun memberikan tepuk tangan. Pedang dibagikan krn setelah ini mereka akan memperagakan 3 jurus dasar pedang keluarga. Huang.
Sesaat lamanya pandang mata mereka beradu dan ketidak sukaan berkembang di hati keduanya. Ding Tao tidak berlama-lama memikirkan hal itu, dia sadar saat ini dia harus memusatkan pikirannya pada ujian yang dia hadapi.
Pedang-pedang selesai dibagikan, sekali lagi ke 23 peserta berbaris rapi dan menunjukkan kebolehan mereka, 3 jurus berlalu dengan cepat dan tibalah saatnya Gu Tong Dang menyampaikan hasil ujian hari itu.
Dengan langkah-langkah yang tenang dia berjalan ke arah Tuan besar Huang Jin, membawa selembar kertas di tangannya. Tersenyum-senyum, kakek tua ini sesekali melirik ke arah para peserta yang memperhatikan tiap langkahnya dengan wajah tegang.
Entah sudah berapa puluh kali dia menjalani ritual yang sama, tapi tidak pernah bosan dia memandangi wajah-wajah muda penuh semangat itu.
Selembar kertas itupun berpindah tangan, Tuan besar Huang Jin membaca hasil penilaian Gu Tong Dang untuk beberapa saat.
Perhatian segenap mereka yang ada di lapangan itupun tertuju pada Tuan besar Huang Jin, ketika Tuan besar Huang Jin tampak menggelengkan kepalanya, setiap orang pun bertanya-tanya, ada apa gerangan.
Ketegangan pun mulai merayap, ketika Tuan besar Huang Jin tampak berdiskusi dengan Gu Tong Dang, apalagi ketika beberapa orang kepercayaan dalam keluarga Huang dipanggil berdiri dan turut ikut menyampaikan pendapatnya.
__ADS_1
Inilah satu kejutan bagi mereka yang sudah menyaksikan ritual yang sama selama bertahun-tahun, biasanya hasil penilaian Gu
Tong Dang selalu diterima Tuan besar Huang Jin tanpa pertanyaan, sepertinya tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.
Setelah beberapa lama berdiskusi tampaknya mereka mencapai satu kesimpulan yang sama. Masing-masing kembali ke tempat duduknya sementara Tuan besar Huang Jin dengan langkah yang tegap maju ke depan.
Seperti suara daun yg berdesir-desir, terdengar bisik-bisik di antara penonton yang berada di pinggir lapangan, semuanya sibuk ikut berbisik, mempercakapkan keanehan pada tahun ini.
Tuan besar Huang Jin pun berdehem keras dan mengangkat tangannya sebagai tanda agar semuanya diam.
Setelah mendapatkan perhatian dari setiap orang, maka mulailah dia membacakan hasil ujian.
Suaranya menggema dilambari tenaga dalam, terdengar ke seluruh penjuru dengan jelas.
"Kita sebagai bagian dari keluarga Huang, tidak pernah lalai akan asal usul kita sebagai orang-orang dari dunia persilatan."
"Tidak pernah lalai akan nama besar pendiri perkampungan ini."
"Tidak pernah lalai dalam mengasah dan memperdalam ilmu yang sudah menjadi warisan keluarga Huang dari generasi kegenerasi berikutnya."
"Hari ini kita mengadakan satu ujian, bagi generasi yang baru, satu tahapan bagi mereka untuk membuktikan bahwa mereka layak untuk dipercaya..."
"Memperdalam dan memperkaya ilmua warisan keluarga Huang."
"Dan hasil dari ujian tahun ini..."
Entah sengaja atau tidak, atau dari kebiasaan Tuan besar Huang Jin memberikan jeda sebelumm mengumumkan hasil ujian, tentu saja membuat setiap orang dengan berdebar menunggu.
"Seluruhnya lulus !!!"
Sorak sorai pun terdengar dari berbagai penjuru, wajah para peserta ujian pun menunjukkan kelegaan. Bagi Ding Tao dan beberapa peserta yang lain yang sudah takut tidak akan lulus ujian yang ada hanya kelegaan yang besar tetapi bagi beberapa peserta yang lain dan juga sebagian besar penonton masih ada pengumuman yang mereka tunggu-tunggu, yaitu peserta yang lulus ujian dengan nilai terbaik.
Ketika gemuruh sorak sorai mulai mereda, Tuan besar Huang Jin pun melanjutkan,
"Dan peserta dengan nilai terbaik adalah...
__ADS_1
Ding Tao !!!"
Gemuruh sorak sorai mengalahkan sorak sorai sebelumnya, maklum penonton terbanyak tentu mereka yang tinggal di perkampungan keluarga Huang, dari cabang-cabang usaha yang tersebar di beberapa kota, jumlahnya mungkin hanya dua-tigapuluh orang, sementara Ding Tao mempunyai hubungan yang baik dengan seluruh penduduk di situ.