Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
9. Chapter 9


__ADS_3

Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, hal-hal lain jadi terlupakan.Malam begitu sepi, derap kuda yang melambat terdengar jelas.


Ding Tao menajamkan matanya, mencoba menembus kegelapan malam, di kejauhan dilihatnya sesosok bayangan.Siapa lagi jika bukan Wang Chen Jin, tidak ada orang lain yang berkeliaran selarut itu, Ding Tao berdiri meninggalkan bayang-bayang yang menyembunyikan dirinya, tidak lupa pedang sudah siap di tangan, karena bila bayangan itu bukan Wang Chen Jin yang ditunggunya, besar kemungkinan tentu bukan orang baik-baik.


Dengan jantung berdebar-debar dia berjalan menghampiri penunggang kuda itu. Tanpa terasa keringat membasahi tangannya.


Penunggang kuda itu melihat Ding Tao dan turun dari kudanya, dengan dituntun dibawanya kuda itu mendekat ke arah Ding Tao, ketika jarak di antara mereka sudah tak begitu jauh, terdengar penunggan kuda itu berbisik menyapa,


" Saudara Ding Tao, engkaukah itu?"


Mendengar suara itu, hati Ding Tao pun lega. Sambil mempercepat langkah kakinya dia menjawab,


"Benar tuan muda, ini saya, Ding Tao."


Tidak terlihat dari tempat Ding Tao, Wang Chen Jin tersenyum kejam, perlahan tanngannya meraba ke arah hulu pedang yang disimpan di samping pelana.


"Apakah kau datang sendirian?"


"Ya tuan muda, kupikir sebaiknya demikian, lagipula tuan muda menyampaikannya dengan berahasia. Jadi kuputuskan untuk datang sendirian."


"Bagus sekali, memang cermat pemikiranmu Saudara Ding."


Sambil saling bercakap, tak terasa mereka sudah bertatapan muka, tak sedikitpun tampak ada niat jahat di raut wajah Wang Chen Jin.


"Tuan muda, sebenarnya ada masalah apa dengan nona muda Huang?"


Alis Wang Chen Jin berkerut, senyum persahabatan yang tadi terlihat di wajahnya, berubah menjadi seraut wajah yang penuh kekhawatiran. Perubahan ini membuat Ding Tao jadi berdebar-debar, ada masalah apa dengan gadis pujaannya.


"Hmmm... sebaiknya kita mencari tempat yang lebih baik untuk membicarakannya."


Wang Chen Jin menebarkan pandangan ke sekitar tempat itu, mencari tempat yang cukup tersembunyi sehingga dia bisa menyembunyikan mayat Ding Tao dengan cepat. Setidaknya memberi lebih banyak waktu baginya sebelum kematian Ding Tao diketahui orang.


Ding Tao dalam hati merasa sedikit heran, apa yang dimaksud Wang Chen Jin sebagai tempat yang lebih baik. Malam begitu sepi, sehingga rasanya di mana pun sama sepinya, atau mungkin Wang Chen Jin ingin berbicara sambil duduk-duduk dengan sedikit nyaman? Tentu itu maksudnya, pikirnya dalam hati.

__ADS_1


Sementara itu mata Wang Chen Jin tertumbuk pada sebuah sumur yang berada di dekat tempat itu, dalam hati dia bersorak, tapi di luar wajahnya tidak berubah.


"Mari kita pergi ke sana."


"Baiklah"


Berdua mereka berjalan ke arah sumur itu dalam diam. DingTao yang tidak tahu apa yang akan dikatakan dan Wang Chen Jin yang dengan tegang menanti-nanti saat yang tepat untuk menghabisinya.


Semakin dekat dengan sumur itu, jantung Wang Chen Jin berdebar semakin kencang. Ding Tao yang seharusnya tidak bisa menjenguk ke dalam hati Wang Chen Jin, tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar.


Seperti mendapatkan peringatan, Ding Tao bisa merasakan adanya bahaya yang mengancam dirinya.


Hal ini sulit dijelaskan, apakah memang ada pertolongan dari dewa-dewa yang melindungi orang yang baik.


Ataukah ini alam bawah sadar Ding Tao yang bekerja, menerjemahkan masukan-masukan, keanehan-keanehan dari Wang Chen Jin, dan sebelum alam sadar Ding Tao mengambil kesimpulan, intuisinya telah terlebih dahulu mencapai kesimpulan.


Jika hendak diperdebatkan antara mereka yang mempercayai keberadaan dewa-dewa dan mereka yang tidak mempercayainya, tentu tidak akan pernah ditemukan titik temu.Tapi yang pasti intuisi Ding Tao itu telah menyelamatkan nyawanya.


Saat pedang dicabut, suara mata pedang yang bergesekan dengan sarungnya, terdengar bagaikan sambaran guruh di telinga Ding Tao yang sudah tegang sejak tadi. Naluri Ding Tao membuatnya melompat cepat, membuang tubuhnya menjauh dari sumber suara itu.


Bajunyapun dalam waktu singkat menjadi kotor penuh debu akibat bergulingan di atas tanah, tapi tak ada waktu untuk memikirkan semua hal kecil itu.


Di hadapannya telah berdiri seorang musuh yang akan menghabisinya bila dia lalai sekejap mata saja.


Wang Chen Jin yang tidak menyangka bahwa serangannya yang tiba-tiba itu bakal meleset, terlambat beberapa detik untuk meneruskan serangannya.


Beberapa detik yang singkat itu sudah cukup untuk Ding Tao melompat berdiri dan mencabut pedang.


Sejenak keduanya berhadapan, bagaikan pengulangan dari pertarungan beberapa hari sebelumnya, untuk kedua kalinya dua orang pemuda dengan sifat yang jauh bertolak belakang berhadapan untuk mengadu tajamnya pedang dan kerasnya kepalan.


Wang Chen Jin yang lebih berhati-hati kali ini tak hendak buru-buru menyerang seperti pada pertarungan sebelumnya.Ding Tao yang memang pada dasarnya tidak menyukai konflik dan banyak berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu.


Keduanya berdiri diam dengan pedang di tangan.

__ADS_1


Ding Tao bersiap dalam posisi pembukaan jurus pertama dari 3 jurus dasar pedang keluarga Huang. Tangan kanan yang menggenggam pedang menjulur ke depan dengan ujung condong menghadap ke tanah, tangan kiri menyilang di depan dada. Kaki kanan di depan, sementara kaki kiri di belakang, menunjang badan yang berdiri tegak berimbang.


Wang Chen Jin, berdiri tegak, kedua kaki yang agak merenggang, sedikit menekuk dan bertumpu pada ujung bagian depan telapak kaki. Tangan kanan menggenggam pedang, bersilang di depan dada dan tangan kiri bersiap di pinggang.


Kali ini Wang Chen Jin tidak ingin gagal untuk kesekian kalinya, kegesitan Ding Tao, menghindar dari serangannya yang tiba-tiba membuat dia jauh lebih berhati-hati.


Tidak lagi dia menilai rendah pemuda itu seperti pada pertarungan yang sebelumnya.


Apalagi sekarang dia berkepentingan untuk menghabisi pemuda itu secepatnya, dalam benaknya berkelebatan jurus serangan dan bagaimana Ding Tao nanti akan berusaha mengatasinya.


Tiba-tiba disadarinya betapa kokoh pertahanan dari pemuda di hadapannya. Berdebaran jantung Wang Chen Jin ketika menyadari hal tersebut, dari pengalaman ini terbukalah pikirannya, bahwa jurus-jurus dasar pun memiliki kedalamannya sendiri.


Mungkin ada puluhan orang yang mengambil pembukaan seperti Ding Tao, tapi apakah mereka mampu menjadikannya benteng yang kokoh seperti yang dilihatnya sekarang ini?


Posisi siku, pergelangan tangan dan pedang, siap menghadang setiap serangan dari depan. Gerakan menangkis serangan, berapa banyak kombinasinya, pada dasarnya tidak jauh berbeda, dan kedudukan tubuh atas Ding Tao secara keseluruhan memungkinkannya untuk menangkis setiap serangan dengan sebaik mungkin.


Jika Wang Chen Jin berusaha menghindari hadangan di depan dengan berpindah posisi ke sisi lain, kedudukan kaki Ding Tao pun memungkinkannya untuk berganti arah dengan cepat.


Bahkan hal itu bisa berbalik membahayakan Wang Chen Jin jika dia tidak berhati-hati, karena bisa juga terjadi Ding Tao akan bergerak cepat lurus ke depan dan memotong pergerakannya, seperti pada pertarungan yang lalu.Dengan demikian Wang Chen Jin pun berlaku hati-hati.


Ding Tao yang terlihat bagai benteng yang kokoh di mata Wang Chen Jin, sesungguhnya tidak kalah berdebar-debar.


Diperhatikannya kuda-kuda Wang Chen Jin yang ringan,


seperti anak panah siap lepas dari busurnya, tapi ke arah mana anak panah itu akan meluncur sungguh dia tidak bisa menduga.


Pedang menyilang dan kepalan tersembunyi di belakangnya.Memandang pedang bergerak, melupakan kepalan bisa jadi berbahaya.


Tapi sebaliknya kepalan yang tersembunyi bisa menjadi pengalih perhatian sementara gerakan pedang yang menjadi pembuka serangan, justru sedang mengambil kedudukan untuk menyerang.


Dalam tegangnya Ding Tao berdiam menanti lawan mengambil inisiatif terlebih dahulu.Yang ingin menyerang tak dapat untuk segera menyerang.


Yang sedang bertahan tak berani bergerak dan membuka peluang pada lawan untuk menyerang.

__ADS_1


Seandainya Ding Tao memiliki lebih banyak pengalaman mungkin akan berbeda pula sikapnya.Seandainya Wang Chen Jin mengetahui kebimbangan lawan di hadapannya, mungkin akan berbeda pula sikapnya.


__ADS_2