Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
43. Chapter 43


__ADS_3

" Jika Ding Tao ini Ding Tao yang kita kenal. Dan apa yang kita lihat sepanjang hari ini, menunjukkan bahwa Ding Tao yang sekarang sama jujur dan setianya dengan Ding Tao dua tahun yang lalu. Ding Tao tentu telah meminum obat yang kuberikan dan tidak lama kemudian dia akan tertidur pulas.


Terbukti dari bau obat yang memuhi kamar, bahkan dari ceceran darah itu. Ya, ceceran darah itu sudah kuselidiki pula dan jelas bukan hanya ceceran darah, tapi ada juga bekas-bekas obat yang sudah bercampur dengan asam lambung, ikut tersembur bersama muntahan darah."


Menceritakan penemuannya tanpa terasa Tabib Shao menjadi semakin bersemangat, lupalah sudah tabib tua itu pada ketakutannya,


" Jadi nona lihat, ada cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa Ding Tao tertidur pulas oleh obat itu, lalu apa yang terjadi? Dari patahnya tempat tidur dan dari pola semburan darah yang terlhat berawal dari bagian pembaringan dekat bantal Ding Tao, bisa kubayangkan apa yang terjadi.


Seseorang telah memanfaatkan keadaan Ding Tao yang tertidur pulas dan mengirimkan pukulan yang keras ke arah pemuda itu."


" Pukulan itu tentu dilambari pula dengan hawa murni, sehingga cukup berat sampai melukai bagian dalam tubuh Ding Tao dan membuat dia menyemburkan darah. Meskipun sudah meminum obat tidur, tapi pukulan itu tentu akan membangunkannya dan mungkin saat itulah, entah dengan cara apa, Ding Tao melarikan diri dari penyerangnya."


Huang Ying Ying yang mendengarkan penjelasan Tabib Shao menjadi semakin tegang, kejadian itu bisa tergambar dengan jelas dalam benaknya. Ada perasaan bersalah karena dialah yang mengantarkan obat tidur itu pada Ding Tao, ada juga ketakutan bahwa Tabib Shao akan berhasil mengungkap rahasia yang akan menghancurkan nama keluarganya. Jika demikian, apakah yang harus dia lakukan? Tegakah dia untuk mengkhianati kepercayaan Tabib Shao pada dirinya dan melenyapkan tabib itu?


" Tapi satu hal yang pasti nona, bahwa cerita Tuan Tiong Fa adalah cerita bohong. Kukira, kejadian sebenarnya adalah dia menyusup ke dalam kamar Ding Tao untuk mencuri Pedang Angin Berbisik. Kemudian Zhang Zhiyi memergokinya sedang mengejar Ding Tao, saat itulah dengan Pedang Angin Berbisik di tangannya Tuan Tiong Fa memenggal kepala Zhang Zhiyi."


Sedikit terengah Tabib Shao bercerita, dipandangnya wajah Huang Ying Ying yang menegang, apakah gadis itu akan percaya pada keterangannya? Dengan tegang dia menanti reaksi dari gadis itu.

__ADS_1


" Tabib Shao, sadarkah kau dengan tuduhanmu itu? Lalu bagaimana dengan tercurinya buku pusaka keluarga Huang milik ayah?"


" Kukira nona, Tuan Tiong Fa sudah terlebih dahulu mencurinya sebelum pergi ke kamar Ding Tao, atau bisa juga Zhang Zhiyi memergoki dia saat dia keluar dari kamar ayah nona dan bukan saat dia keluar dari kamar Ding Tao. Meskipun kupikir kemungkinan pertama yang lebih mungkin, karena jika tidak tentu Tuan Tiong Fa tidak akan berani melemparkan kesalahan pada Ding Tao."


Mendengar jawaban Tabib Shao, perlahan-lahan pahamlah gadis ini akan sangkaan dari Tabib Shao itu dan sebagian besar dari ketegangannya menghilang. Rupanya tabib tua ini tidak menyangka bahwa Tiong Fa melakukan itu semua atas perintah ayahnya. Dan kalau dipikir baik-baik, memang ini lebih mudah dipercaya daripada kenyataan yang sesungguhnya.


Dihadapkan pada pertentangan antara, kenyataan yang dia lihat di kamar Ding Tao dan pernyataan Tiong Fa, sampailah tabib tua ini pada kesimpulan itu.


Sekarang tabib tua ini menemui dirinya, tentu karena berharap bahwa dia bisa menyampaikan hal itu pada ayahnya. Sekarang apa yang harus dia lakukan, otak gadis ini berputar keras. Apa yang diketahui Tabib Shao sangatlah penting bagi Ding Tao.


Jika dia tidak berhati-hati, nyawa tabib tua itu bisa hilang. Pada saat yang sama gadis itu harus memikirkan nama baik keluarganya.


" Masalahnya, ketika aku hendak menemui ayah nona, kulihat Tuan Tiong Fa ada juga di sana. Menunggu sekian lama, tidak juga Tuan Tiong Fa beranjak dari sisi ayah nona. Kemudian aku berpikir, bahwasannya Tuan Tiong Fa adalah salah satu orang kepercayaan ayah nona. Aku takut, keteranganku tidak dipercaya. Kemudian teringat di antara keluarga Huang, hanya nona yang berlaku sangat baik terhadap Ding Tao, dari dulu hingga sekarang. Jadi dalam kebingunganku, kuputuskan untuk menemui nona. Kuharap nona bisa memberi jalan keluar.",


jawab tabib tua itu dengan sedih, mengingat situasinya yang serba sulit saat ini.


Lama gadis itu terdiam, saat dia berbicara suaranya terdengar tenang, sebuah rencana sudah terbentuk dalam benaknya,

__ADS_1


" Tabib Shao apakah kau sempat melihat Kakak Ren Fu? Apakah dia ikut dengan orang-orang lain mencari-cari Ding Tao?"


" Terakhir kulihat, kakak nona Huang Ren Fu memimpin sekelompok penjaga, mencari-cari di sekitar kompleks utara."


Nona muda itu berdiri lalu melangkah ke luar, sekali lagi dilihatnya keadaan yang sepi-sepi saja. Sesudah kelompok yang tadi lewat, tidak ada lagi yg melewati bagian ini untuk kedua kalinya. Tangannya mengepal, rencana sudah tersusun, seperti orang yang hendak melemparkan dadu dalam sebuah perjudian. Berhasil atau gagal, menang atau kalah, bahkan hidup atau mati, terkadang hasil akhir dari hal-hal yang penting dalam hidup ini terasa tidak ubahnya seperti perjudian.


Sambil menutup pintu kamar dia berkata pada Tabib Shao,


" Tabib Shao, sebelum aku kembali, jangan buka pintu kamar dan jangan biarkan seorangpun masuk ke dalam, sebisa mungkin biarkan orang berpikir bahwa tidak ada siapa-siapa di dalam."


" Sebentar aku akan pergi mencari Kakak Ren Fu dan merundingkan hal ini bersamanya, sementara itu kau periksalah isi lemari pakaianku."


Dadu sudah dilemparkan, tidak ada lagi kesempatan untuk mundur. Huang Ying Ying menutup pintu kamarnya dan bergegas mencari kakaknya yang dia percayai Huang Ren Fu.


Dua bersaudara ini memang sangat dekat satu dengan yang lain. 6 tahun lamanya Huang Ren Fu menjadi anak bungsu dalam keluarga itu. Ketika tahu ibunya sedang mengandung anak yang ke-5 bukan main senangnya anak itu. Akhirnya dia bukan lagi menjadi yang terkecil.


Kakaknya yang sulu Huang Ren Fang, memiliki sifat yang keras pada adik-adiknya. Bukan jahat, hanya keras, sebagai putera sulung, dia memiliki kesadaran yang tinggi akan aturan keluarga dan hal itu diterapkannya pula pada adik-adiknya.

__ADS_1


Anak yang kedua, Huang Ren Yi, sifatnya pendiam, dia lebih suka menyendiri dan membaca buku. Anak yang ketiga, Huang Ren Ho, orangnya sangat jahil, Huang Ren Fu seringkali dikerjainya, lagipula kakaknya yang ketiga ini lebih suka keluyuran di luar dan bermain dengan teman-teman sebayanya.


__ADS_2