
" Astaga, urusan asmara memang membuat orang muda hilang akal… seorang berbakat pun tidak lepas dari jerat asmara…", keluh Chen Wuxi sambil menggelengkan kepala.
Wang Xiaho tiba-tiba memukul meja,
" Hah, sudah hidup begini lama, masakan tidak memiliki guna. Saudara Chen bisakah kau meminjamiku dua ekor kuda? Aku akan berusaha menyusul Ding Tao, sekuat apapun anak itu, akan lebih cepat jika menunggang seekor kuda."
" Hemm, tentu saja, apakah kau akan ikut pergi ke Wuling?", tanya Chen Wuxi.
" Ya, kupikir sebaiknya begitu, pikirannya sedang kalut, meskipun ilmu silatku tidak ada seujung kukunya, dalam keadaan begini kepalaku lebih dingin.", Wang Xiaho mengangguk dengan tegas.
Menoleh pada orang-orangnya, Wang Xiaho meninggalkan pesan, " Kalian segera kembali ke kantor kita, sesegera mungkin aku akan kembali, tapi jika sampai 3 bulan tidak ada kabar dariku, kalian bagikan saja uang yang ada dan bubarkan Biro Pengawalan Golok Emas, untuk sementara jangan ikut campur urusan dunia persilatan. Tidak usah merasa sayang, jika memang masih ada umur, kita akan bertemu lagi."
Sementara Wang Xiaho memberi pesan pada orang-orangnya, salah seorang murid Chen Wuxi sedang bergegas menyiapkan kuda. Chen Wuxi bukan orang yang kaya, di rumahnya hanya ada 3 ekor kuda. Tapi 2 yang terbaik dia siapkan untuk Wang Xiaho dan Ding Tao. Inilah kelebihan Chen Wuxi, tidak pernah banyak berhitung jika itu untuk membantu teman. Dengan sendirinya banyak orang merasa suka menjadi sahabatnya.
Orang pun jadi segan untuk mencari urusan dengan guru tua ini.Matahari sudah mulai tenggelam dan langit mulai gelap, saat Wang Xiaho memacu kudanya sepanjang jalan menuju Wuling, kira-kira 3-4 li di luar kota, barulah dia menyusul Ding Tao yang berlari dengan cepat di depannya. Ding Tao memang cepat, tapi kuda yang ditunggangi Wang Xiaho lebih cepat. Begitu melihat sosok Ding Tao di depannya, Wang Xiaho tanpa ragu berteriak memanggil,
" Ding Tao… Ding Tao… tunggu sebentar!"
Mendengar suara Wang Xiaho, Ding Tao memperlambat larinya, keringat sudah bercucuran membasahi pakaiannya.
Suara derap kaki kuda makin mendekat, saat suara itu sudah sangat dekat Ding Tao berhenti berlari dan menanti Wang Xiaho.
" Ada apa paman? Jangan kuatir, aku memang mencemaskan keadaan Adik Ying, tapi sambil berlari pikiranku sudah mulai tenang. Meskipun hatiku tetap meronta untuk secepatnya sampai ke Wuling." ujar Ding Tao saat mereka sudah bertatapan muka.
" Hemm, kalau mau ke Wuling secepatnya, lebih baik pakai kuda, nah kau naiklah kuda ini, aku akan menyertaimu sampai ke Wuling." , Jawab Wang Xiaho sambil menyerahkan tali kekang pada Ding Tao.
Ding Tao memandang Wang Xiaho dengan pandangan terkejut campur berterima kasih. Wang Xiaho melihatnya dan tertawa,
" Hahaha, jangan terlalku sungkan denganku, ini bukan kuda milikki, kedua kuda ini milik guru Chen."
" Paman berdua sungguh terlalu baik", jawab Ding Tao sambil melompat ke atas pelana.
" Hahaha, bukankah katamu di antara sahabat tidak usah banyak perhitungan. Ayo, marilah kita lanjutkan perjalanan, mumpung langit cerah."
" Baiklah paman, mari.", jawab Ding Tao.
Wang Xiaho tidak banyak bicara, diamatinya saja Ding Tao yang kelihatan jelas pikirannya sedang terpaku di kota Wuling.
Tapi jagoan tua itu merasa lega, karena kekuatiran Ding Tao itu tidak mengabutkan penalaran anak muda itu. Ding Tao merasa cemas itu sudah jelas, tapi Ding Tao tidak kehilangan akal sehatnya, bukannya memacu kudanya secepat mungkin, pemuda itu memacu kudanya secukupnya saja, sehingga kuda tunggangannya tidak cepat lelah. Setelah yakin bahwa akal sehat Ding Tao berjalan dengan baik, Wang Xiaho membuka mulutnya.
" Ding Tao, perjalanan ke kota Wuling tidaklah dekat, bagaimana dengan rencana perjalananmu?"
" Ya, dengan berjalan kaki terus menerus, kutaksir butuh waktu setidaknya 1 minggu, beruntung Paman Wang menyusulku dengan membawa kuda. Jika kita bisa menjaga agar kuda kita tidak cepat lelah, sesekali menunggang kuda, sesekali berjalan. Lalu beristirahat secukupnya saja, aku berharap bisa menyingkatkan waktu jadi 3-4 hari saja."
" Hmm… kita langsung saja masuk ke kota?"
__ADS_1
" Tidak, kupikir begitu kota Wuling sudah tinggal setengah hari perjalanan, sebaiknya kita beristirahat dengan sebaik-baiknya, sehingga tubuh dan pikiran kita segar sewaktu memasuki kota Wuling."
Wang Xiaho mengangguk puas,
" Ding Tao, sebenarnya selain ingin berkenalan dan juga berbagi kabar tentang kejadian di Wuling ada hal lain yang aku dan Guru Chen ingin sampaikan. Apa kau tidak keberatan jika kita membicarakan hal ini di perjalanan?"
Ding Tao menoleh, memandang wajah Wang Xiaho dan meminta maaf,
" Maafkan sikapku yang kurang sopan paman, sungguh hatiku sangat kacau mendengar berita itu. Itu sebabnya tanpa mendengarkan penjelasan paman berdua lebih lanjut, aku berpamitan untuk pergi. Kuharap Paman Wang dan Guru Chen tidak merasa tersinggung oleh perbuatanku."
" Tidak masalah, kami pun pernah muda, berita itu berkaitan erat dengan orang yang kau kasihi, sudah tentu kau ingin secepat mungkin pergi ke Wuling untuk melihat keadaan. Tidak usah kaupikirkan lagi."
" Tentang persoalan yang ingin Paman Wang katakan, tentu saja tidak ada salahnya jika kita bicarakan sepanjang perjalanan. Mungkin lebih baik begitu, supaya pikiranku tidak terlalu keruh, mengkhawatirkan sesuatu, yang atasnya aku tidak bisa berbuat apa-apa.", ujar Ding Tao sambil menghela nafas.
"Hmm.. ", jawab Wang Xiaho pendek.
Untuk beberapa lama mereka menunggang kuda dalam keheningan, hanya suara derap kaki kuda yang terdengar.
" Ding Tao, tentang penyerbuan terhadap keluarga Huang, menurut pendapatmu, siapakah yang mungkin melakukannya?", tanya Wang Xiaho membuka percakapan.
Ding Tao mengerutkan alis, cukup lama pemuda itu berpikir, namun akhirnya dia menggelengkan kepala,
" Entahlah Paman Wang, aku tidak bisa membayangkan siapa orangnya yang tega dan memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu."
" Hmm… ada cukup banyak orang yang tega melakukan hal itu, demi mendapatkan Pedang Angin Berbisik."
" Ya, justru itulah, aku dan Guru Chen berpendapat, di balik pembunuhan ini ada masalah yang lebih besar daripada Pedang Angin Berbisik itu sendiri".
Dengan sabar Ding Tao menanti penjelasan Wang Xiaho.
" Ding Tao, kau pernah hidup dalam keluarga Huang cukup lama, menurutmu berapa banyak orang yang dibutuhkan untuk melakukan pembasmian terhadap keluarga Huang yang ada di Wuling?", tanya Wang Xiaho, tidak sadar bahwa pertanyaannya membut jantung Ding Tao serasa tertusuk.
Berusaha mengendalikan perasaan Ding Tao memaksa dirinya untuk berpikir, " Setahuku di Wuling sendiri ada sekitar 80 sampai 90 orang yang benar-benar bisa diandalkan dalam satu pertempuran. jika seluruh laki-laki yang bisa mengangkat senjata dihitung, jumlahnya bisa mencapai 120 orang lebih. Tapi yang benar-benar patut diperhitungkan kurasa tidak lebih dari 3 atau 4 orang, Tuan besar Huang Jin, Tetua Huang Yunshu, Huang Ren Fang putera sulung Tuan besar Huang Jin dan Wei Mo. Kemudian kira-kira ada 30-an orang yang jika bekerja sama akan bisa merepotkan seorang jagoan kelas atas."
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Ding Tao memberikan jawaban, " Mungkin 20-an orang dengan tingkatan setingkat Sepasang Iblis Muka Giok."
" Hmm… mencari 20 orang setingkat sepasang iblis itu, yg mau bekerja sama bukan pekerjaan gampang. Kau sudah pernah bertemu sepasang iblis itu, sedikit banyak kau bisa meraba sifat mereka, bisakah kaubayangkan orang-orang dengan harga diri setinggi itu mau bekerja sama? Bahkan dalam perguruan besar seperti Shaolin dan Wudang, mungkin hanya ada 5 atau 6 orang yang setingkat dengan mereka."
" Maksud paman, salah satu atau lebih dari satu perguruan besar bekerja sama, melakukan hal ini?", tanya Ding Tao.
" Justru itu yang membuatmu bingung bukan? Perguruan semacam Shaolin, Wudang atau Hoasan punya reputasi yang baik, rasanya tidak masuk akal jika mereka melakukan hal semacam ini. Lebih tidak terbayangkan lagi jika mereka bekerja sama untuk melakukannya. Siapapun yang memimpin dan merencanakan penyerangan ini pastilah seorang tokoh yang sulit dicari tandingannya."
Wang Xiaho diam menunggu Ding Tao sampai pada kesimpulannya sendiri, Ding Tao yang mengikuti uraian Wang Xiaho bisa merasakan itu, jadi daripada bertanya dia memilih memikirkannya sendiri.
" Ren Zuocan, ketua sekte Matahari dan Bulan?", tebak Ding Tao.
__ADS_1
" Itulah kesimpulanku dan Guru Chen, demikian juga kesimpulan para sahabat yang membicarakan hal ini. Kekhawatiran kami yang paling besar adalah, bahwa kabar angin yang mengatakan ada perguruan dan orang-orang dalam perbatasan yang diam-diam bersumpah setia padanya, adalah benar. Tapi hanya itu yang bisa menjelaskan penyerangan atas keluarga
Huang."
" Karena Ren Zuocan menginginkan Pedang Angin Berbisik dan dia sekaligus bisa menguji kesetiaan orang-orang yang sudah bersumpah setia padanya.", bisik Ding Tao dengan kemarahan yang tersembunyi.
" Ya, dan kukira bukan hanya itu saja, tapi sekaligus merupakan peringatan bagi mereka yang coba-coba menentang mereka. Keluarga Huang mungkin bukan organisasi terkuat dalam dunia persilatan, reputasi mereka masih di bawah perguruan seperti Kunlun, Hoasan dan Kongtong. Tapi juga tidak bisa diremehkan begitu saja. Tepatnya, mereka memiliki besaran kekuatan yang pas untuk dijadikan contoh bagi orang-orang dalam dunia persilatan."
" Jika hal itu benar…", Ding Tao tidak melanjutkan kata-katanya, tapi tidak ada rasa takut atau cemas pada wajahnya, yang terlihat adalah kegeraman dan kemarahan yang ditahan.
Ekspresi Ding Tao itu membawa rasa bangga dan lega di hati Wang Xiaho. Dengan jujur dalam hati dia mengaku bahwa ketika dia mengambil kesimpulan yang sama, yang dia rasakan adalah kengerian. Memang umur Ding Tao yang masih muda, berpengaruh dengan cara dia memandang segala sesuatu.
Tapi Wang Xiaho sudah merasakan kehebatan Ding Tao dan diapun meletakkan harapannya pada diri pemuda itu.
Menyaksikan wajah Ding Tao yang bersemangat, dia semakin yakin bahwa pilihan dirinya dan Chen Wuxi tidaklah salah.
" Ding Tao, kukira tentang siapa Ren Zuocan dan apa bahayanya orang itu bagi kita tidak perlu lagi kuutarakan.
Demikian juga dengan kekuatan yang berhasil dia kumpulkan, satu orang sendirian bukanlah tandingan bagi dirinya.", ujar Wang Xiaho.
" Ya, paman benar, dia memiliki anak buah yang ribuan jumlahnya. Di antara mereka banyak jagoan-jagoan kelas atas. Tapi aku akan mencoba peruntunganku di pertemuan 5 tahunan, itu adalah salah satu tugas yang dibebankan oleh guruku.", jawab Ding Tao.
" Nah, apa yang aku dan Guru Chen ingin sampaikan padamu berkaitan erat dengan masalah ini."
Ucapan Wang Xiaho berhasil mendapatkan perhatian Ding Tao.
" Beberapa sahabat, mengatakan bahwa mulai ada gerakan dari berbagai golongan dalam dunia persilatan kita. Ada rencana untuk mengadakan pertemuan besar sebelum pertemuan 5 tahunan, yang tujuannya untuk mempersatukan kita semua di bawah satu pimpinan. Pemilihan Wulin Mengzhu, sudah terlalu lama kedudukan itu kosong, dalam keadaan kritis seperti sekarang, inilah waktu yang tepat untuk mengadakannya.
Bagaimana menurut pendapatmu?"
Ding Tao memukul pahanya, " Wah, tepat sekali ide itu Paman Wang. Jika seluruh dunia persilatan mau bersatu, maka Ren Zuocan pun bukan apa-apa. Seharusnya dari dulu hal ini dilakukan."
" Heheh, memang seharusnya begitu, tapi kau tahu sendiri sifat keras kepala dan betapa susahnya orang-orang dalam dunia persilatan untuk menundukkan kepala pada orang lain. Tapi dengan semakin bertambahnya usia Biksu Khongzhe dan Pendeta Chongxan, dan dengan kejadian yang menimpa keluarga Huang…"
Mata Ding Tao mencorong tajam, suaranya dingin sewaktu berkata, " Hmm… kali ini Ren Zuocan salah perhitungan, maksudnya menakut-nakuti, tapi justru gertakannya membuat kita semua bersatu… dan akan kupastikan dia menyesali perbuatannya."
" Bagus, bagus, memang anak muda harusnya bersemangat seperti itu. Hahaha, aku dan Guru Chen sudah sepakat, jika pemilihan Wulin Mengzhu itu benar akan diadakan, kami akan mendukungmu untuk merebut kedudukan itu.", ujar Wang Xiaho sambil tertawa gembira.
Wajah Ding Tao pun jadi pucat karena kaget mendengar ucapan Wang Xiaho,
" Tunggu dulu paman, apa maksud paman? Aku tidak ada keinginan untuk menjadi Wulin Mengzhu. Seharusnya lebih pantas jika yang diangkat itu Biksu Khongzhe dari Shaolin atau Pendeta Chongxan dari Wudang.
Bukan aku."
" Hoho, tadi kau penuh semangat, kenapa sekarang jadi malu-malu seperti perawan yang mau dikawinkan?", tanya Wang Xiaho geli.
__ADS_1
Merah muka DIng Tao digoda demikian, " Paman Wang jangan salah paham, tidak pernah aku berpikir untuk menduduki kedudukan sebagai Wulin Mengzhu, tadi aku berkata demikian, maksudku aku akan mengerahkan segenap kemampuanku untuk membantu Wulin Mengzhu yang terpilih dalam melawan keganasan Ren Zuocan."