Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
81. Chapter 81


__ADS_3

" Ren Zuocan tidak perlu mengirim banyak orang, cukup kirim 4 atau 5 jagoan kepercayaannya. Kemudian sebagian besar justru orang-orang dari dalam perbatasan, dia bisa memakai orang-orang dari dalam perbatasan sendiri. Bukan tidak mungkin sejak berita tentang Pedang Angin Berbisik tercium, dia sudah mulai menanamkan orangnya di sekitar kota Wuling. Begitu dia mendapat kepastian, saat itu juga mereka bergerak."


Wang Xiaho merasa tenggorokannya kering, ketika dia mengangkat cangkir the untuk diminum, baru dia sadar, bahwa tangannya gemetaran. Melihat tangannya gemetaran, cepat-cepat diletakkannya cangkir kembali ke meja, sambil menunggu hatinya tenang. Chen Wuxi berpura-pura tidak melihatnya, dia bisa membayangkan perasaaan Wang Xiaho saat itu. Dirinya pun sampai sekarang masih susah makan dan tidur bila teringat penyerangan atas keluarga Huang.


" Saudara Wang, sudah beberapa hari ini, sejak mendengar kabar itu dan mencapai kesimpulan yang sama, tidak bisa tidur nyenyak dan makan dengan nikmat. Meskipun bukti-buktinya belum cukup kuat, tapi jika berita pembasmian keluarga Huang itu benar, berarti Ren Zuocan sudah masuk dalam rumah kita, bukan hanya sekedar menunggu di depan halaman."


Wang Xiaho yang sudah bisa menenangkan diri, perlahan menyeruput the yang dihidangkan,


" Saudara Chen, berita itu sendiri apakah tidak ada yang coba memastikan?"


" Berita itu pertama kali, aku dengar dari salah seorang saudara seperguruanku, Wang Ming, dia mendengar kabar itu dari salah seorang rekannya. Beberapa hari kemudian, beberapa saudara yang lain tanpa sengaja berkumpul di sini karena mendengar berita yang sama. Kesimpulan kami sama seperti kesimpulanmu barusan. Untuk meyakinkan, dua dari mereka bersedia pergi ke Wuling untuk memastikan kabar. Harusnya dalam 2-3 hari ini mereka akan mampir ke mari untuk menyampaikan hasil penyelidikan mereka."


" Siapa yang pergi ke Wuling?", tanya Wang Xiaho, teh hangat yang manis tidak lagi terasa nikmat, meskipun hatinya sudah jauh lebih tenang tapi perasaan akan adanya bahaya yang datang mengancam tidak juga hilang.


" Fu Tong si tongkat besi dan Pendeta Tao pengelana, Liu Chuncao."


" Hmm, mereka orang-orang yang teliti, kukira, kabar yang nanti kita dapatkan, tentu akan lebih cermat lagi."


"Saudara Wang, bagaimana kalau kalian menginap saja di sini sambil menunggu kedatangan mereka? Aku pun rasanya tidak bisa tenang memikirkan hal ini sendirian.", Chen Wuxi dengan ramah menawarkan.

__ADS_1


Wang Xiaho berpikir sebentar kemudian menggelengkan kepala,


" Berita ini benar-benar membuat hati orang jadi tidak tenang. Kupikir biarlah aku sendiri dan dua-tiga orang kepercayaanku ikut menunggu berita itu. Sisanya akan kukirim pulang untuk meningkatkan kewaspadaan."


"Hee, bukankah kau berencana untuk mengawal barang lagi dua-tiga hari ke depan?", tanya Chen Wuxi.


" Tadinya begitu, tapi mendengar kabar ini, seleraku jadi hilang. Saudara Chen, jujur saja, tiba-tiba aku merasa ketakutan. Kupikir sebaiknya segenap orangku berkumpul saja di pusat biro pengawalan kami. Segera setelah medengar kepastiannya dari Fu Tong dan Liu Chuncao, akupun akan kembali ke markas dan mengambil keputusan."


" Hmm… aku mengerti, aku sendiri sudah memulangkan beberapa muridku yang kunilai belum siap untuk ambil urusan di luaran. Murid baru aku tidak terima, sedangkan murid yang sudah lama belajar dan sedang berada di luaran, aku undang untuk datang kemari.", ujar Chen Wuxi sambil menghela nafas.


" Ya… badai mau datang, rumah-rumah baiknya diperkuat.", ikut-ikut menghela nafas, Wang Xiaho kemudian memandang anak buahnya.


Dengan jantung berdebaran mereka mengangguk. Beberapa yang masih muda justru perasaannya bercampur antara cemas dan bergairah. Yang lebih tua apalagi yang berkeluarga, pikirannya lebih tenang dan bisa menimbang dengan baik, mereka lebih berpikir untuk menghindar, hanya saja untuk meninggalkan Wang Xiaho sendirian mereka tidak tega.


Melihat kecemasan di wajah pengikutnya Wang Xiaho menjadi jatuh kasihan,


" Kalian tidak perlu terlalu kuatir, biro pengawalan kita, bisa dibilang hanya lalat kecil saja di depan orang-orang macam mereka. Tidak nanti mereka mengganggu kita, setelah aku mendapatkan kepastian, aku akan memutuskan. Kukira


tidak ada salahnya Biro Pengawalan Golok Emas, dibubarkan untuk sementara waktu."

__ADS_1


Mendengar perkataan Wang Xiaho beberapa orang terlihat akan mendebat keputusannya, tapi Wang Xiaho cepat mengangkat tangan, memberi tanda agar mereka tidak berbicara,


"Dengar, mungkin kalian tidak ingin membubarkan Biro Pengawalan yang sudah kita rintis selama bertahun-tahun. Tapi sebaiknya kita tahu diri, jika badai itu benar-benar datang, apalah artinya kita ini? Aku tidak ingin di antara kalian ada yang jatuh korban sia-sia. Biarlah kita menunggu keadaan tenang, baru kita pikirkan kemudian."


" Bagaimana dengan Ketua Wang sendiri?", tanya A Sau.


Lama Wang Xiaho tidak menjawab,


" Hmm… aku sudah tua, tidak ada anak, tidak ada isteri, orang tua sudah lama meninggal, saudara sudah lama tidak berjumpa. Kalau aku ada sedikit tenaga untuk disumbangkan pada negara, apalah artinya Wang Xiaho, tidak mati oleh pedangpun, paling-paling umurku tinggal beberapa tahun saja."


Anggota Biro Pengawalan Golok Emas yang mendengar hal itu, menundukkan kepala dengan susah hati. Beberapa orang yang sama seperti Wang Xiaho, tidak ada keluarga yang menjadi tanggungan, dalam hati sudah membuat keputusan, ke mana Wang Xiaho pergi, mereka akan mengikut ketua mereka itu.


Suasana di ruangan itu pun menjadi sendu, meskipun belum berpisah, tapi rasanya perpisahan itu sudah tidak bisa dihindari lagi. Beberapa anggota yang muda, lebih-lebih lagi merasa demikian, karena sebagian besar dari mereka, mempelajari ilmu silat dari Wang Xiaho. Bagi mereka Wang Xiaho bukan hanya seorang pimpinan tapi juga guru. Chen Wuxi hanya bisa menghela nafas, perguruannya sendiri pun menghadapi persoalan yang sama. Anak isterinya sudah dia ungsikan ke rumah mertua. Di perguruan hanya tinggal mereka yang sudah kenyang asam garamnya dunia persilatan.


" Saudara Wang, tadi kaubilang Ding Tao ada di kota ini, menurutmu apakah baiknya kita undang dia kemari?", ujar Chen Wuxi memecahkan keheningan.


" Apa? Oh ya, benar, ah semakin tua aku jadi semakin pikun. Kenapa sampai lupa dengan pemuda itu, berita ini entah benar entah tidak, sebaiknya dia ikut tahu. Bukan tidak mungkin orang-orang Ren Zuocan masih ada yang berkeliaran di Wuling. Bila tidak berhati-hati nasibnya bisa jadi sama seperti Pendekar besar Jin Yong.", sambil menepuk kepala Wang Xiaho memaki dirinya sendiri.


" A Sau, kau dan A Chu, cepat cari Ding Tao, kalau ketemu ajak dia kemari.", perintahnya pada dua anggota termuda dalam kelompoknya, karena persamaan umur, keduanya yang paling akrab dengan Ding Tao selama perjalanan.

__ADS_1


Bergegas dua orang pemuda itu berpamitan lalu pergi mencari Ding Tao di kota.


__ADS_2