
Meskipun sebenarnya cukup lama Huang Ying Ying berbaring dengan wajah merona merah, mengingat kejadian yang telah terjadi. Lama, sebelum akhirnya dia tertidur pulas, terbuai dalam mimpi yang indah.
Jika Huang Ying Ying tertidur, beda lagi dengan Ding Tao.
Segera setelah dia berpamitan pada Huang Ying Ying, pemuda ini mulai bermeditasi, berusaha memulihkan himpunan hawa murninya yang sedikit banyak membuyar. Berkerut alis pemuda itu ketika dia merasakan adanya hawa murni liar di dalam tubuhnya.
Mungkin itulah hawa murni dari pukulan Tinju 7 Luka, yang dikatakan Tabib Shao. Pemuda itu tidak berani terlalu gegabah, perlahan-lahan dia berusaha mengatur hawa murni dalam tubuhnya.
Awalnya dia berupaya untuk mendorong hawa murni yang liar itu ke dalam tantien, menyatukannya dengan hawa murninya sendiri. Tapi usaha itu gagal, keduanya tidak bisa menyatu, melainkan saling melawan.
Gagal dengan usahanya, maka usaha lain coba dilakukan oleh pemuda itu, diusahakannya untuk mendorong keluar hawa murni liar itu dari tubuhnya. Tapi usaha inipun gagal, hawa murni yang liar ini tidak mudah untuk diatur. Kembali dua hawa murni yang berbeda sifat dalam tubuhnya saling melawan.
Semakin keras Ding Tao berusaha mengendalikan hawa murni liar itu, semakin kuat pula perlawanannya.
Khawatir justru memperparah luka di tubuhnya, Ding Tao terpaksa membiarkan hawa murni yang liar itu bercokol dalam tubuhnya. Sekarang perhatiannya lebih tercurah pada usaha untuk menguatkan hawa murninya sendiri. Setidaknya hal itu akan dapat membantu dirinya untuk mengamankan hawa murni asing itu dari kemungkinan untuk merusak tubuhnya dari dalam.
Entah berapa lama Ding Tao larut dalam latihannya, ketika dia berhenti, tubuhnya terasa jauh lebih nyaman, meskipun jauh di dalam sana, masih terasa ada kekuatan asing yang diam tapi tidak juga menghilang.
Ketika teringat dengan penjelasan Huang Ying Ying mengenai keadaan dirinya, sesuai dengan pengamatan Tabib Shao Yong, pemuda itu mengeluh perlahan. Tanpa menggunakan hawa murninya dalam sebuah pertarungan, ibaratnya dia harus berkelahi dengan tangan dan kaki yang terikat.
Mau tidak mau Ding Tao pun jadi teringat dengan Pedang Angin Berbisik, berbekal pedang itu di tangan dalam keadaannya sekarang ini tentu akan sangat membantu.
Kekurangannya dalam hal tenaga, masih bisa diimbangi dengan tajamnya pedang. Kembali teringat pemuda itu dengan pesan-pesan gurunya.
Tekad yang kuat terbentuk dalam dirinya, selama dia masih hidup, dia akan berusaha untuk memenuhi pesan gurunya.
Entah dengan pedang pusaka atau tanpa pedang. Sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya, yang pertama kali harus dia lakukan adalah menyembuhkan dirinya. Sepanjang dirinya masih menderita luka yang menghalangi dia untuk dengan bebas menggunakan hawa murninya, tidak ada artinya Pedang Angin Berbisik ada di tangannya.
Jangankan dalam keadaan terluka, dalam keadaan segar bugar pun, masih perlu dipertanyakan apakah dia bisa menandingin Ren Zuocan atau tidak.
Lebih baik Pedang Angin Berbisik berada dalam tangan Tiong Fa, daripada jatuh ke tangan Ren Zuocan. Apalagi pemuda itu masih teringat tutur kata Tiong Fa yang penuh semangat. Ding
Tao pun berharap, serangan Tiong Fa pada dirinya tidak sepenuhnya didorong oleh ketamakan pribadi seperti dugaan Huang Ying Ying dan kakaknya.
" Mungkin saja dia masih berpikir jika aku tidak pantas untuk menyandang pedang itu. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga, terlampau mudah pedang itu lepas dari tangan. Bukankah
Pendekar besar Jin Yong, kehilangan pedang itu karena diracun orang? Seharusnya ku pun lebih berhati-hati dalam soal makan dan minum. Kejadian yang menimpa Pendekar Jin Yong dan pengalamanku kemarin malam, harus jadi pelajaran yang berharga".
Demikian pemuda itu berpikir dan berpikir.
Semakin lama dia berpikir, semakin kuat keyakinannya bahwa untuk sementara ini lebih baik dia tidak berusaha untuk mendapatkan kembali Pedang Angin Berbisik.
" Biarlah tersimpan di sini, jika kami berusaha untuk mendapatkan kembali pedang itu tapi gagal. Tetua Tiong bisa saja menghilang bersama dengan pedang itu dan makin sulit lagi bagi kami untuk mendapatkannya kembali. Biarlah Tetua
Tiong menyimpannya untuk sekarang ini, dalam keadaanku yang sekarang, kesempatan Tetua Tiong untuk berhasil menghadapi Ren Zuocan dengan menggunakan pedang itu lebih besar daripada kesempatanku".
Jika bukan Ding Tao, siapa lagi yang bisa berpikir seperti itu?
Betapa banyak jago dunia persilatan yang rela mati untuk mendapatkan pedang itu, tapi Ding Tao bisa melepaskannya tanpa sesal. Bukan berarti dia sudah melupakan pesan gurunya, tapi dia memahami semangat yang terkandung dalam pesan gurunya itu. Bukan masalah kepemilikan pedang yang
__ADS_1
penting, melainkan usahanya untuk meredam ambisi Ren Zuocan yang membahayakan negara.
Setelah mencapai satu keputusan, Ding Tao pun menjadi lebih tenang. Memejamkan mata, pemuda itu membiarkan rasa lelah dan kantuk menguasai dirinya, memberikan waktu bagi tubuhnya untuk menyembuhkan diri.
Ketika semua orang sudah terlelap tidur, justru ke empat pimpinan dalam keluarga Huang sedang melakukan pertemuan rahasia.
" Tabib keparat !! Bagaimana bisa dia berani-beraninya menghubungi Adik Ying, jika bukan gara-gara dia, masalah tentu tidak jadi serumit ini", geram Huang Ren Fang.
Tiong Fa yang sedari tadi menundukkan kepala, menghela nafas,
" Sudahlah, kali ini aku yang salah. Segala sesuatunya berjalan tidak sesuai rencana. Dimulai dari kegigihan Ding Tao mempertahankan pedang itu dan kemudian berlanjut dengan kekalahan demi kekalahan, pada puncaknya kekalahanku dalam pertandingan".
Menggeleng perlahan, Tiong Fa berdiri lalu berjalan hilir mudik di dalam ruangan itu,
" Kegagalan yang berturut-turut itu, ditambah lagi oleh ketidak mampuanku dalam menerima kenyataan akan bakat Ding Tao yang melebihi dugaanku, membuatku berbuat terlalu sembrono".
" Apa maksudmu?", tanya Tuan besar Huang Jin dengan dingin.
Tiong Fa menoleh ke arahnya dan maklum, pernyataannya tadi bisa juga dianggap sebagai satu sindiran, karena pada akhirnya Tuan besar Huang Jin-lah yang membuat rencana untuk mengambil pedang Ding Tao malam itu juga. Malam yang di mana kehidupan Zhang Zhiyi diakhiri.
" Tidak perlu gusar begitu Adik Jin, kalau kita mau berpikir lebih jernih, bukankah memang terlalu terburu-buru apa yang kita lakukan malam itu? Pertama Ding Tao masih beberapa hari tinggal di rumah kita, ada banyak waktu untuk membuat rencana yang lebih matang. Tapi yang lebih penting lagi adalah, pun seandainya semuanya berjalan sesuai rencana, bagaimana kita akan menjelaskan munculnya Pedang Angin Berbisik di tangan keluarga Huang?"
" Hampir semua orang penting dalam keluarga kita sudah mengetahui bahwa Ding Tao memilikinya, jika tiba-tiba pedang itu jatuh ke tangan kita, bukankah dengan mudah bisa ditebak bahwa kita telah merampas pedang itu secara paksa? Pada akhirnya masalah yang mirip meskipun tidak sama persis dengan masalah yang kita hadapi sekarang akan muncul. Yaitu retakan-retakan dalam keluarga kita sendiri, yang akan melemahkan kedudukan kita".
" Kita semua berbuat kesalahan, terlalu terburu nafsu melihat pedang ada di depan mata. Tapi aku akui kesalahan terbesar ada padaku. Sejak kegagalanku untuk mendapatkan pedang itu dengan cara damai sampai dengan kegagalanku untuk membungkam Ding Tao untuk selamanya. Kegagalanku yangberulang-ulang ini yang menempatkan kita pada posisi yang sekarang ini".
Huang Yunshu menatap sosok Tiong Fa dengan matanya yang tajam, meskipun keriput sudah menggariskan guratan waktu di wajahnya yang tua,
" Benarkah itu Kakak Tiong?", tanya Tuan besar Huang Jin dengan raut wajah yang dingin.
Meskipun dia bisa menerima penjelasan Tiong Fa, hatinya masih panas mengingat kekacauan yang terjadi dan saat ini kekesalannya itu tertumpah pada Tiong Fa. Tiong Fa bukan Tiong Fa namanya jika gugup atau marah melihat pandang mata Huang Jin yang dingin. Di hadapan orang lain, wajahnya selalu terlihat tenang, tidak ada yang bisa tahu gejolak perasaan dalam hatinya.
" Sebenarnyalah demikian, sejak aku terpaksa membunuh Zhang Zhiyi, aku sudah sadar, terlalu banyak lubang dalam pekerjaanku malam itu. Kecuali jika ada dewa-dewa yang menolongku, hampir sudah bisa dipastikan cepat atau lambat akan ada orang-orang yang menyadari keterlibatanku, setidaknya mencurigai keterlibatanku. Jadi aku pun mulai membuat rencana untuk membebaskan kita dari permasalahan itu".
" Jadi apa rencanamu itu?"
Dengan senyum tipis Tiong Fa menjawab,
" Kita berikan saja apa yang mereka inginkan. Pada waktunya, kau berhasil mengungkapkan bukti-bukti pengkhianatanku. Sayang aku terlalu cepat mencium hal itu dan berhasil melarikan diri".
Berkilat mata Huang Jin,
" Dan apa yang akan kau lakukan setelah berhasil melarikan diri?"
" Hmm… beberapa orang dari keluarga Huang ternyata sudah lama beralih kesetiaannya padaku, dengan sendirinya mereka itu pun ikut menghilang bersamaan dengan menghilangnya diriku. Tidak jelas apa yang terjadi, tapi jika ada kejahatan di luar yang dilakukan Tiong Fa, hal itu tidak ada hubungannya dengan keluarga Huang",
selesai mengucapkan hal itu Tiong Fa kembali duduk di kursinya, dan dengan tenang menatap ke arah Huang Jin, menunggu keputusannya.
" Hmm… dengan jalan itu, maka nama keluarga Huang pun bisa dibersihkan dari keterlibatanmu dalam masalah Ding Tao dan pedangnya. Meski sepertinya kekuatan keluarga Huang terpecah, tapi sebenarnya tidak, karena kau dan pengikutmu tetap bekerja bagi keluarga. Justru pengaturan ini membuat kedudukan keluarga Huang semakin aman. Kami yang berdiri dalam terang dan kau yang bekerja dalam gelap. Tapi apa keuntungannya bagimu? Pengaturan ini memang sangat menguntungkan keluarga Huang, tapi bagaimana dengan dirimu?"
__ADS_1
Tiong Fa menegakkan badannya dan menampilkan wajah sedih untuk beberapa saat lamanya,
" Aku akan meninggalkan keluargaku, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan pengkhianatanku, dengan sendirinya keluarga Huang akan berdiri untuk melindungi mereka. Kemurahan hati Tuan besar Huang Jin tiada bandingan, putera Tiong Fa si pengkhianat bahkan diangkat anak".
Melihat Tuan besar Huang Jin tidak mengatakan apa-apa, Tiong Fa melanjutkan uraiannya,
" Dengan demikian, pekerjaanku dalam gelap yang mendukung gerakan keluarga Huang untuk tampil ke depan dalam dunia persilatan, sama juga artinya aku sedang bekerja demi anak keturunanku sendiri".
Kemudian dengan seringai di wajahnya dia menambahkan,
" Lagipula, menikmati uang dan kekuasaan, entah itu dalam kegelapan atau di bawah terangnya matahari, sama sekali tidak ada bedanya bagiku. Semua tetap sama, semakin keluarga Huang berkuasa semakin besar pula kuasaku".
Dengan dingin Tuan besar Huang Jin menambahkan,
" Pengaturan ini pun, justru semakin memperbesar kebebasanmu untuk menggunakan kekuatan yang ada di tanganmu, demi tujuanmu sendiri".
Tiong Fa tidak merasa perlu untuk menutupi apapun dari saudara iparnya ini, kepercayaan mereka sejak lama dibangun atas dasar saling membutuhkan,
" Ya, tapi kaupun tahu, aku cukup bijak untuk mengetahui, bahwa lebih baik aku bersungguh-sungguh bekerja demi keluarga Huang daripada mengkhianatinya. Kerajaan yang terpecah hanya akan menjadi lemah dan menjadi mangsa empuk bagi lawan-lawanmu ".
" Hmm…, lalu bagaimana dengan Pedang Angin Berbisik?", tanya Tuan besar Huang Jin.
Tiong Fa yang sudah memikirkan hal itu menjawab dengan ringan,
" Sebaiknya untuk sementara pedang itu aku yang membawa".
Tuan besar Huang Jin tidak mengatakan apa-apa, hanya alis matanya saja yang terangkat, meminta penjelasan lebih lanjut.
Perasaannya sudah jauh lebih tenang, rencana Tiong Fa tampaknya akan membereskan semua kekacauan yang terlanjur terjadi.
" Hanya sampai aku berhasil membunuh Ding Tao, setelah itu, kita bisa mengatur siasat agar terjadi bentrokan antara keluarga Huang dengan sekelompok pengkhianat. Hasil dari pertempuran itu, meskipun tokoh utamanya, yaitu aku, berhasil lolos. Tapi Pedang Angin Berbisik jatuh ke tangan keluarga Huang",
jawab Tiong Fa, menjelaskan rencananya mengenai Pedang Angin Berbisik.
" Kurasa tidak perlu sejauh itu, Pedang Angin Berbisik, sebaiknya disimpan di sini, daripada Paman Tiong membawa-bawanya keluar. Tentu saja kita tidak akan mempergunakannya, sampai Ding Tao mati dan rencana penyerangan ke sarang Paman Tiong Fa terjadi", ujar Huang Ren Fang.
Tajam mata Tiong Fa melirik ke keponakannya, kemudian dengan tersenyum dingin dia menjawab,
" Tentu saja, tidak masalah, meskipun membuat pekerjaan kita sedikit lebih banyak, karena jika pedang itu memang ada di tanganku, tentu lebih mudah untuk menunjukkan hal itu, bahwa memang akulah yang malam itu menyatroni kamar Ding Tao"
" Ya paman benar, tapi kurasa paman cukup cerdik untuk mengerjakan itu semua tanpa benar-benar memiliki pedang itu di tangan. Bahkan untuk sementara kita bisa menyebar desas-desus di luaran bahwa Ding Tao masih memiliki pedang itu dan mempercepat matinya pemuda itu. Kalaupun dia lolos dari pelacakan kita, akan banyak orang di luar sana yang mengendus-endus keberadaannya".
Kesal hati Tiong Fa, tapi dia tidak mau memperpanjang masalah itu,
" Hmm, sudah kukatakan tadi, tidak ada masalah. Kalau menurutmu itu lebih baik, tapi tentu saja keputusan tetap ada di tangan ayahmu".
Huang Jin tersenyum dingin,
" Kalau Kakak Tiong, tidak ada masalah, akupun tidak ada masalah. Jadi biar saja pedang itu disimpan di sini".
__ADS_1
Tuan besar Huang Jin mengangguk-angguk puas, semua masalah sudah berhasil dipecahkan. Tidak ada kerugian berarti, hanya seorang Zhang Zhiyi.