
Keesokan harinya dengan tubuh dan pikiran yang segar, barulah Ding Tao mulai lagi mempelajari isi kitab itu, kali ini dia mencurahkan lebih banyak lagi perhatian pada tiap-tiap bagian.
Seharian dia membaca dan sedikit sekali kemajuannya. Di akhir hari itu, Ding Tao menghempaskan diri ke tanah dan mendesah.
Jika saja waktu tidak begitu mendesak, Ding Tao merasa senang bisa mempelajari isi kitab yang begitu rumit dan memusingkan itu. Tapi Ding Tao mulai menyadari dunia persilatan yang sepertinya tenang ini, sungguh sedang bergelombang hebat di balik permukaan. Pengkhianatan Tiong Fa hanyalah satu pucuk gunung es yang tampak di permukaan.
Tapi sejak kejadian di rumah keluarga Huang itu, Ding Tao merasakan semacam pertanda akan adanya badai melanda dunia persilatan. Perasaan ini membuat Ding Tao merasa sedang berada dalam sebuah pertandingan lari dengan musuh yang tidak terlihat. Lima hari tanpa kemajuan yang berarti membuat Ding Tao merasa jauh tertinggal dari bayangan musuh yang tidak terlihat ini.
Dengan perasaan segan, pemuda ini membuka kantung obat yang diberikan oleh Murong Yun Hua, dibacanya sekali lagi surat Murong Yun Hua dan petunjuk penggunaan Obat Dewa Pengetahuan.
Menurut keterangannya obat itu harus diminum 3 hari sekali, setelah 2 bulan mengkonsumsi obat itu obat diminum 3 hari dua kali dan 2 bulan berikutnya obat diminum 1 kali sehari. 6 bulan lamanya konsumsi obat tidak boleh dihentikan, bila aturan ini dilanggar ada kemungkinan akan menimbulkan efek yang tidak baik bagi tubuh.
Ding Tao tidak suka menyandarkan dirinya pada hal-hal di luar dirinya sendiri. Entah itu berupa senjata seperti Pedang Angin Berbisik, ataupun seperti Obat Dewa Pengetahuan yang diberikan oleh Murong Yun Hua ini.
Ding Tao tahu, untuk melatih beberapa ilmu terkadang ada obat yang harus diminum selama latihan. Entah itu untuk membantu tubuh untuk menerima ilmu itu atau sekedar melindungi organ-organ tubuh dari luka atau cedera yang ditimbulkan oleh latihan yang berat. Ding Tao bisa menerima hal-hal itu sebagai sesuatu yang perlu tapi dia tidak menyukainya. Itu sebabnya sampai saat ini dia tidak meminum obat pemberian Murong Yun Hua.
Tapi Ding Tao menghadapi tembok yang tinggi dan waktu terus berpacu dengan dirinya. Menyerah pada keadaan Ding Tao memutuskan untuk meminum obat itu besok pagi sebelum memulai kegiatannya, sesuai dengan anjuran yang tertulis. Dengan keputusa itu Ding Tao menutup kembali kitab yang dipinjamkan Murong Yun Hua dan mulai latihan-latihan yang biasa dia lakukan sebelum beristirahat.
Hari ke-enam, Ding Tao mengawalinya dengan meminum obat yang diberikan Murong Yun Hua. Setelah itu dia diam mengatur nafas, merasakan aliran hawa murni dalam tubuhnya, memberikan kesempatan bagi obat itu untuk bekerja. Kerja obat itu pada awalnya tidak terasa oleh Ding Tao, tapi bersama dengan berjalannya waktu, Ding Tao mulai merasakan khasiat dari Obat Dewa Pengetahuan. Ingatannya bekerja jauh lebih baik, panca inderanya menajam beberapa kali lipat, satu tingkat kesadaran dan kewaspadaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Sebenarnya ada perasaan ragu akan khasiat obat itu, tapi sekarang Ding Tao mulai menyesal mengapa dia tidak menuruti saja nasihat Murong Yun Hua sejak awal. Ding Tao belum mulai mempelajari kitab itu lagi, tapi dari apa yang dia rasakan Ding Tao memiliki keyakinan bahwa hari ini dia akan mendapatkan banyak kemajuan.
Tetap dalam posisi duduk bersila dan mata terpejam, Ding Tao mulai menggali ingatannya. Tanpa perlu membuka kitab itu, Ding Tao bisa mengingat dengan jelas setiap detail dari apa yang pernah dia baca. Penemuan ini membuat semangat Ding Tao berkobar.
Dengan tekun dalam posisi yang sama pemuda itu mulai mempelajari, merenungkan dan menelusuri apa yang telah dia baca selama beberapa hari ini.
Begitu tenggelam Ding Tao dalam mempelajari ilmu itu, hingga jalannya waktu tidak lagi dia rasakan. Tanpa terasa hari sudah mulai mendekati malam, tubuhnya terasa lemas dan Ding Tao pun tersadar bahwa dia sudah lupa akan waktu. Perlahan pemuda itu menenangkan semangatnya dan membuka mata.
Kakinya sudah lama mati rasa dan perutnya sekarang terasa lapar, tapi hal itu tidak dapat membuat Ding Tao kehilangan semangatnya.
Kemajuan yang dia capai dalam satu hari ini jauh melebihi apa yang dia capai selama lima hari sebelumnya. Dengan fisik lemah tapi semangat berkobar pemuda itu memnuhi kebutuhan fisiknya untuk makan dan beristirahat.
Tidak berani dia untuk meneruskan pembelajarannya , dipaksanya untuk menutup mata dan beristirahat. Lama kemudian baru Ding Tao bisa tertidur, meskipun sudah biasa melatih agar pikirannya tunduk pada kehendaknya. Khasiat obat itu membuat pikirannya bekerja dengan energi yang melonjak-lonjak. Ditambah lagi dengan semangatnya yang bangkit setelah mendapat kemajuan yang berarti.
__ADS_1
Keesokan harinya Ding Tao tidak sabar untuk segera mulai merenungkan isi kitab itu. Tapi kali ini dia tidak sampai lupa dengan kebutuhan fisiknya.
Demikian berlanjut hingga 4 hari lamanya, pada hari ke-11 Ding Tao sudah berhasil memahami isi kitab itu. Memang benar kata-kata ayah Murong Yun Hua, dengan mengamati sifat hawa liar Tinju 7 Luka yang mengeram di tubuhnya dan pemahamannya akan isi kitab itu, Ding Tao menemukan kecocokan di antara keduanya. Sehingga pemuda itu yakin bahwa benar kitab ini adalah sumber dari ilmu Tinju 7 Luka milik perguruan Kongtong.
Hanya dalam pengembangannya sifat merusak dan liar dari hawa pukulan itu dikembangkan jauh lebih hebat. Ketika Ding Tao berhasil mempelajari isi kitab itu, dalam hati dia merasa ngeri melihat arah yang diambil oleh pendiri perguruan Kongtong dalam mengembangkan ilmu itu.
Karena sifat perusak yang begitu dahsyat dan ganas dari Tinju 7 Luka, diiringi dengan timbulnya sifat liar dari hawa murni yang dilatih. Sifat-sifat ini bukan saja membahayakan korban dari Tinju 7 Luka tapi juga membahayakan pemiliknya sendiri.
Memiliki ilmu Tinju 7 Luka, tidak ubahnya memelihara harimau untuk menerkam lawan. Jika tidak hati-hati bukan tidak mungkin harimau itu akan berbalik menyerang pemiliknya.
Beruntung Ding Tao mendapatkan kesempatan mempelajari ilmu dari kitab itu, lewat pemahamannya dan hasil renungannya
Ding Tao sudah memiliki pegangan tentang bagaimana dia harus menjinakkan hawa liar dalam tubuhnya.
Dengan apa yang sudah dipahaminya mulailah Ding Tao berlatih sesuai jalan yang dia dapatkan. Pertama-tama Ding Tao mulai menghimpun hawa murni mengikuti petunjuk dari kitab yang dia baca. Menghimpun dan perlahan-lahan menyatukannya dengan himpunan hawa murni yang sudah dia miliki sebelumnya. Meskipun berbeda sifat dan dasar, tapi karena cara pengolahan dan penghimpunan hawa murni mengikuti petunjuk kitab itu tidaklah liar dan seganas hawa murni Tinju 7 Luka, Ding Tao tidak mengalami kesulitan untuk menyatukannya dengan himpunan hawa murni yang sudah dia miliki sebelumnya.
Karena sudah memiliki dasar yang baik, dalam 1 bulan, latihan yang dilakukan menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Apalagi dalam menjalani latihan itu, Ding Tao hanya mengkonsumsi buah-buahan, akar-akaran dan jamur-jamur liar.
Setelah merasa himpunan hawa murni dari tenaga inti bumi cukup berimbang dengan himpunan hawa murni yang telah dia miliki sebelumnya, mulailah Ding Tao berlatih untuk menggunakan kedua hawa murni yang berlainan sifat itu dalam jurus-jurus yang sudah dia miliki sebelumnya.
Tenaga inti bumi, berbeda dengan Tinju 7 Luka hasil pengembangannya, bersifat melumpuhkan tapi tidak melukai.
Sementara hawa murni yang dimiliki Ding Tao sebelumnya memiliki sifat yang ulet dan liat, sesuai untuk bertahan, memperpanjang stamina dan menguatkan tubuh. Dengan dua jenis hawa murni yang berlainan sifat tapi dikombinasikan penggunaannya dengan indah, jurus-jurus serangan dan pertahanan Ding Tao berkali-kali lipat lebih kuat dan berbahaya.
Menggunakan dua hawa murni yang berbeda sifat tentu bukan hal yang mudah, tapi obat pemberian Murong Yun Hua meningkatkan kemampuan otak dan syaraf Ding Tao, ditunjang dengan dasar dan bakat yang baik. Apa yang seharusnya butuh waktu bertahun-tahun dapat dikuasai Ding Tao dalam hitungan bulan. Tiga bulan lamanya Ding Tao dengan tekun mematangkan penguasaannya terhadap dua macam hawa murni yang sekarang ada dalam tubuhnya itu.
Setelah berhasil meyakinkan penguasaannya, butuh 1 bulan lagi lamanya bagi Ding Tao untuk sedikit demi sedikit, membangkitkan hawa liar Tinju 7 Luka yang tertidur dalam tubuhnya dan dengan usaha yang tekun Ding Tao berhasil mengubah sifat liar dan ganas dari hawa liar Tinju 7 Luka, karena pada dasarnya Tinju 7 Luka adalah Tenaga Inti Bumi yang keganasan dan sifat merusaknya diperkuat, maka dengan mempelajari Tenaga Inti Bumi, Ding Tao memiliki jalan untuk mengolah hawa liar Tinju 7 Luka dalam tubuhnya menjadi Tenaga Inti Bumi untuk disatukan dengan hawa murni Tenaga Inti Bumi yang sudah dia himpun sebelumnya.
Demikianlah setelah kurang lebih 4 bulan setengah, Ding Tao terbebaskan dari gangguan yang diakibatkan oleh Tinju 7 Luka.
Bukan hanya itu, dalam waktu yang singkat itu, Ding Tao mengalami peningkatan yang tidak sedikit dalam hal imu silat.
__ADS_1
Meskipun jurus-jurus yang dimiliki tidak bertambah, namun dari pengalaman dan dari segi pengendalian tenaga, Ding Tao mengalami peningkatan yang sangat pesat.
Akhirnya Ding Tao mengakhiri latihannya, pagi hari itu Ding Tao mandi berendam di kolam yang ada. Pada awalnya tubuhnya mengerut merasakan dinginnya air, rasa kantuk yang tersisa langsung terusir jauh-jauh. Dinginnya air tidak mampu memadamkan semangat Ding Tao yang menyala-nyala, pemuda itu bahkan berendam hingga seluruh tubuhnya masuk ke dalam air. Setelah beberapa saat tubuhnya mulai beradaptasi dan rasa dingin yang tadi menyerang, sekarang berubah menjadi kawan. Ding Tao memejamkan matanya, menikmati dinginnya air yang menyegarkan.
Dengan batu-batuan yang ada digosoknya segala daki dan kotoran yang melekat di tubuhnya. Tidak lupa dia mencuci rambutnya sampai seluruh kulit kepalanya terasa seperti mau tercabut.
Keluar dari kolam Ding Tao sungguh-sungguh merasa sudah menjadi manusia yang baru. Pakaian yang selama ini dipakainya dibakar habis. Sudah berbulan-bulan Ding Tao tidak pernah berganti pakaian. Ada untungnya juga karena sekarang
Ding Tao jadi memiliki 2 setel pakaian bersih tanpa perlu mencuci pakaian.
Memakai mata pedang yang tajam, dengan hati-hati Ding Tao mencukur bulu-bulu rambut pendek di wajahnya.
Ketika Ding Tao melangkahkan kakinya keluar dari hutan, dia sudah terlihat segar, rapi dan tampan. Meskipun tubuhnya sedikit lebih kurus namun dengan langkah kakinya yang makin ringan dan mantap, dan sorot matanya makin tajam, Ding Tao jadi nampak lebih berwibawa dan meyakinkan.
Ada saatnya Ding Tao merasa ragu akan arah tujuannya hari ini, tapi sudah cukup lama dia memikirkannya dan dia memutuskan untuk segera mengembalikan kitab Tenaga Inti Bumi pada Murong Yun Hua. Ding Tao yakin setelah Murong Yun Hua mendengar penjelasannya gadis itu tentu tidak akan mendesaknya lagi tentang menjadi pewaris keluarga Murong. Ding Tao juga masih teringat dengan pertemuan mereka yang terakhir, pemuda itu sudah berjanji untuk mengingat kenangan yang manis bersama Murong Yun Hua dan melupakan kejadian yang memalukan di hari dia berpamitan pada Murong Yun Hua. Ding Tao sudah berjanji tentu akan dia tepati. Jika hari ini ada keraguan untuk berkunjung, bukankah itu artinya Ding Tao tidak benar-benar melupakan kejadian itu? Lagipula Ding Tao merasa tidak enak menyimpan kitab yang bukan miliknya.
Hatinya pun sedang dalam suasana yang riang, setelah berhasil menyembuhkan dirinya dari bekas Tinju 7 Luka. Betapapun Murong Yun Hua dan Murong Huolin mendapatkan tempat yang khusus dalam hatinya, dan di saat dia merasa
sangat berbahagia ini dia ingin sekali membagikannya pada orang-orang yang dia kasihi.
Setengah berlari pemuda itu pergi menyusuri jalan, menuju ke kediaman keluarga Murong. Dalam waktu yang singkat, dari kejauhan Ding Tao sudah bisa melihat bangunan rumah
keluarga Murong. Tak urung jantungnya sedikit berdebar-debar, meskipun tidak seluruhnya adalah debar-debar kecemasan. Sulit untuk menghindaro kenyataan bahwa meskipun dia menolak tapi dirinya menikmati juga apa yang dilakukan oleh Murong Yun Hua.
Tapi sebelum dia sampai di sana tiba-tiba nalurinya merasakan adanya bahaya. Di luar sadarnya saraf-saraf di tubuhnya menegang, satu hawa membunuh bisa dirasakannya menanti beberapa langkah di depan.
Ding Tao pun berhenti melangkah, ditajamkannya telinga dan mata, diamatinya keadaan di sekelilingnya. Matanya yang tajam akhirnya menangkap sosok seseorang yang berbaju hijau daun sedang bersembunyi di gerumbulan dedaunan di atas sebuah pohon, tidak jauh lagi dari dirinya. Tangannya bergerak meraih pedang yang tergantung di pinggang.
Dengan pedang terhunus, dia menunjuk sosok yang sedang bersembunyi itu,
" Hei, sahabat yang ada di sana, mengapa tidak memunculkan diri saja?"
Terdengar tertawa mengikik mendirikan bulu roma,
__ADS_1
" Hihihihi Ding Tao… Ding Tao… lama dicari tidak tahunya bersembunyi di hutan. Kenapa keluar, apakah kau kangen denganku?".