Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
24. Chapter 24


__ADS_3

Apa yang dikhawatirkan ternyata tidak terjadi, kesalah pahaman dua tahun yang lalu bisa diluruskan dengan mudah, bahkan bila menilik sikap dan perkataan Tuan besar Huang Jin, kesalah pahaman itu sendiri tidaj pernah ada.


Tiba-tiba barulah terasa, betapa penat tubuhnya. Melihat kasur yang empuk timbul keinginannya. Sudah dua tahun dia tidur hanya beralaskan kain, jangankan dengan kasur baru yang disiapkan Tuan besar Huang Jin, kasur kerasnya yang lama pun sudah jadi satu kemewahan. Dengan satu hembusan nafas lega dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


Terbayang kehidupan gurunya yang tua, Gu Tong Dang, yang saat ini tentu masih saja tidur beralaskan kain dan beratap ilalang. Dalam hati Ding Tao berjanji sesegera mungkin dia harus memberi kabar pada gurunya itu, seandainya saja dia bisa meyakinkan gurunya agar kembali pada keluarga Huang, tentu hidupnya akan jauh lebih baik dan tidak terlunta-lunta di usia tuanya.


Tapi untuk saat ini, lelah dan penat yang dirasakan mengalahkan segala macam pikiran yang ada. Sebentar memejamkan mata Ding Tao segera terlelap dalam tidur.


Entah untuk berapa lama dia terlelap, tiba-tiba saja kesadarannya dihentakkan kembali ke alam sadar dengan suara gedoran di pintu kamarnya disertai suara yang sudah sangat dikenalnya,


―Ding Tao! Ding Tao! Ayo buka…‖


―Ssst.. Adik Ying, jangan teriak-teriak. Bagaimana kalau dia sedang tidur, mungkin sebaiknya kita kembali saja nanti.‖


―Huuhh… jam segini tidur? Dulu dia tidak pernah malas, dua tahun keluyuran apa sekarang dia jadi pemalas?‖


Sekali lagi pintu kamarnya digedor dengan keras, ―Ding Tao! Baaanguuuuun !!!!‖


―Astaga … orang mati pun bisa bangun lagi kalau teriakanmu seperti itu.‖


―Bagus malah, memang aku mau membangunkan Ding Tao yang tidur setengah mampus.‖


―Aih… Adik Ying.‖

__ADS_1


Kemudian terdengar ketukan yang lebih perlahan dan panggilan yang jauh lebih sopan,


―Saudara Ding, apa kau sudah bangun? Ini aku Huang Ren Fu dan Ying Ying.‖


Senyum lebar terbit di wajah Ding Tao, sudah sejak tadi, mendengar percakapan mereka di luar hatinya merasa geli sekaligus bahagia. Bisa dibayangkannya bagaimana Huang Ren Fu mati kutu mennghadapi adiknya yang nakal itu.


Secepat mungkin dia membenahi pakaiannya dan menjawab panggilan Huang Ren Fu,


―Sebentar Tuan muda Huang, aku akan sedikit beberes.‖


Ketika dibukanya pintu maka yang pertama kali menyambutnya adalah sebuah cubitan yang keras dari Huang Ying Ying,


―Bagus ya, sedari tadi kupanggil tidak kau jawab. Begitu Kakak Ren Fu yang memanggil kau bukakan pintu.‖


―Aduh… aduh nona, maafkan aku. Tadi memang aku sedang tertidur pulas, baru saja tersadar saat mendengar suara Tuan muda Huang.‖


Sambil tersenyum kecut Ding Tao memberikan hormat pada kedua kakak beradik itu.


―Tuan muda Huang, nona muda Huang, senang sekali bertemu kalian lagi. Maafkan aku kalau sudah membuat keluarga kalian banyak susah.‖


Huang Ren Fu yang memang terbuka tabiatnya dengan bercanda memukul dada Ding Tao, ―


" Nah, apa sampai sekarang pun kau masih memanggil kami dengan sebutan tuan muda

__ADS_1


dan nona muda? Sedikit-sedikit sudah kudengar kisahmu dari ayah, sekarang kau menjadi tamu kami, jangan lagi panggil tuan dan nona, panggil saja Saudara Fu dan Adik Ying."


―Itu… sepertinya kurang sopan.‖, dengan sungkan Ding Tao bergumam.


―Kurang sopan apanya, Ding Tao apa kau mau kucubit lagi.‖


, ancam Ying Ying dengan nada menggoda.


Huang Ren Fu yang melihat gaya adiknya tertawa, ―Benar Ding Tao, kalau kau masih juga sungkan-sungkan, jangan salahkan aku kalau nanti tubuhmu memar-memar. Adik Ying setelah


mulai belajar ilmu pedang jadi tambah galak saja.‖


Dengan muka bersemu merah Ding Tao tertawa,


―Eh… baiklah, jadi nona muda… maksudku Adik Ying sekarang juga belajar ilmu pedang keluarga Huang?‖


―Hmmm… heran ya? Makanya sekarang kau mesti lebih hati-hati kalau berbicara denganku. Aku ini kan gadis berbakat, belajar apa saja tentu bisa. Jangan kau samakan dengan dirimu. Jurus dasar sudah aku selesaikan dalam 3 bulan pertama dan sekarang jurus lanjutan sudah hampir selesai kupelajari.‖


―Adik Ying, jangan menyombong, apa tidak kau dengar kata ayah, dalam dua tahun ini Ding Tao sudah mendapat banyak kemajuan.‖


, kata Huang Ren Fu yang merasa geli terhadap kesombongan adiknya.


Peringatan kakaknya itu hanya dijawab dengan cibiran saja oleh Huang Ying Ying. Tapi baik Ding Tao maupun Huang Ren Fu tidak merasa terganggu oleh ulah gadis muda itu, mereka mengenal dengan baik adat Ying Ying yang suka mengoceh dan berulah tapi hangat dan bersahabat.

__ADS_1


―Kakak Fu, aku sebenarnya ragu apa benar kata ayah, yang kuihat sih Ding Tao Cuma bertambah tinggiiii saja. Benar tidak Ding Tao?‖


, ujar Huang Ying Ying dengan kerling menggoda.


__ADS_2