
X. Bermain-main dengan maut
Selama beberapa hari perjalanan Ding Tao menuju Bukit Songshan berjalan tanpa banyak halangan. Setiap kali melewati kota atau desa kecil, atau berjalan bersama rombongan lain, Ding Tao tetap dengan penyamaran yang sama. Hanya saat berjalan sendirian, dia berjalan seperti biasa.
Tapi salah jika Ding Tao mengira dirinya sudah aman dengan penyamaran yang sederhana itu. Penyamaran Ding Tao mungkin bisa menipu mereka yang belum berpengalaman. Tapi mata awas mereka yang sudah kenyang makan asam garamnya dunia persilatan, bisa mengendus penyamaran Ding Tao yang sederhana itu.
Ding Tao yang cermat dalam bekerja tidak mudah terbuai dengan keadaan yang tenang itu. Meskipun Ding Tao kurang dalam pengalaman, tapi sifatnya yang cermat membuat pemuda itu tidak lalai dalam mengamati keadaan di sekelilingnya, serta orang-orang yang dia temui sepanjang perjalanan. Setelah berjalan beberapa hari dan melewati dua tiga kota, Ding Tao mulai sadar bahwa dirinya sedang diikuti orang. Pemikiran itu mulai timbul ketika dia menyadari bahwa ada orang-orang yang sama, yang pernah dia temui beberapa hari sebelumnya, secara mengherankan muncul kembali di kota dia berada. Padahal mereka sudah dia tinggalkan beberapa hari sebelumnya.
Sejak itu pengamatannya ditingkatkan, terutama terhadap orang-orang yang dia curigai itu. Dengan sengaja Ding Tao mengambil jalan memutar, pemuda itu tidak mengambil jalan yang akan langsung mengantarnya menuju ke pusat Biara
Shaolin. Sedikit menyimpang, Ding Tao melewati terlebih dahulu beberapa kota kecil.
Otaknya yang cerdas, matanya yang awas dan sifatnya yang tekun, bekerja keras. Satu hari, Ding Tao dengan sengaja berlama-lama, melepas lelah di sebuah penginapan. Dari hasil pengamatannya ada tiga kelompok berbeda yang sedang mengikuti dirinya.
Kelompok pertama, terdiri dari sekitar 11 orang, bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara bergantian.
Terkadang dua orang akan mengikuti Ding Tao dari dekat, sampai dia beristirahat di kota tertentu. Kemudian untuk menyamarkan pengintaian mereka, kelompok yang berbeda akan ganti mengikuti Ding Tao. Menurut perkiraan Ding Tao, tentu kelompok-kelompok kecil yang lain, mengikuti dari jarak yang lebih jauh, di mana Ding Tao tidak melihat mereka, namun mereka masih bisa berhubungan lewat kode ataupun tanda yang ditinggalkan.
Dengan cara mengintai bergantian ini, Ding Tao tidak merasa sedang diikuti, sampai kelompok yang sama kembali bertugas mengikuti dirinya. Jika saja Ding Tao tidak dengan cermat selalu mengamati orang-orang yang dia temui, tentu muslihat mereka ini tidak akan diketahuinya.
Inilah salah satu kesalahan banyak orang dalam menilai Ding Tao. Seringkali orang mengartikan kejujuran Ding Tao sebagai kebodohan. Ding Tao jujur dan sering mudah ditipu karena
kejujurannya, tapi dia bukan bodoh. Apalagi dia baru saja kena dikelabui oleh Tiong Fa, seorang tetua yang menimbulkan kekaguman dalam hatinya, ternyata seorang pengkhianat yang bermuka dua. Ding Tao yang jujur jadi lebih berhati-hati dalam bertindak, apalagi menghadapi orang yang tidak dia kenal.
__ADS_1
Kelompok kedua, adalah sepadang laki-laki dan perempuan yang ahli menyamar. Pada satu hari mereka akan berjalan di dekat Ding Tao sebagai sepasang pedagang, yang perempuan pun menyamar jadi laki-laki. Kemudian setelah sampai di kota, mereka berganti samaran pula menjadi sepasang kakek dan nenek. Pernah juga mereka menyamar sebagai seorang ayah dengan anak perempuannya.
Penyamaran mereka sungguh bagus. Jika saja Ding Tao tidak menjadi lebih waspada setelah terbongkarnya muslihat dari kelompok yang pertama, mungkin dia tidak akan pernah menyadari muslihat sepasang laki-laki dan perempuan ini.
Semenjak Ding Tao curiga dirinya sedang diikuti, maka pengamatannya terhadap rekan-rekan seperjalanannya semakin dipertinggi. Ketika Ding Tao sadar, dalam perjalanannya, kapanpun itu, setiap saat, setidaknya selalu ada dua orang dengan tinggi badan yang sama, yang berada dalam jarak jangkauan untuk mengikuti dirinya. Timbul pula rasa curiganya.
Tinggi kedua orang itu jadi makin nampak, karena keduanya selalu bersama. Tentu saja Ding Tao sadar, bisa jadi perasaan itu timbul karena ketakutannya. Sudah hal yang jamak, ketika seorang pencuri mau beraksi, seakan-akan jalan dipenuhi polisi. Atau ketika seorang pasangan suami istri menginginkan keturunan, tiba-tiba jalanan sepertinya dipenuhi dengan ibu yang sedang hamil. Ding Tao sadar, pengamatannya pun tentu dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya yang merasa terancam oleh tersebarnya berita bahwa dirinya memiliki Pedang Angin Berbisik.
Oleh karena itu Ding Tao pun menyiapkan satu ujian. Dengan sengaja dia berpura-pura sudah beristirahat di dalam kamar, padahal dari celah kecil di jendela dia mengamati pasangan yang dia curigai itu. Ketika mereka berlalu, maka ganti Ding Tao yang dengan diam-diam mengikuti mereka. Sampai didapatnya keterangan di mana pasangan itu menginap dan di kamar nomor berapa.
Keesokan paginya, pagi-pagi buta, Ding Tao sudah pergi untuk mengawasi kamar tempat pasangan itu menginap dan benar juga pasangan yang berbeda muncul dari kamar itu.
Belum puas, Ding Tao pun mengikuti pasangan itu diam-diam dan benar juga, pasangan itu menunggu di tempat yang strategis, mengintai, siap untuk mengikuti Ding Tao kembali di hari itu. Tidak ingin orang tahu bahwa muslihatnya sudah terbongkar, Ding Tao masuk kembali ke penginapannya kewat pintu belakang dan baru setelah matahari terbit cukup lama dia melanjutkan perjalanan.
Kelompok pengintai ketiga, terbongkar secara tidak sengaja.
dia tuju. Merpati pos memang sering digunakan, tapi sekali lagi bagi orang dalam situasi seperti Ding Tao, setiap hal bisa menjadi sebuah tanda dari satu ancaman terhadap dirinya.Seandainya saja pemuda ini bukan seseorang yang berkarakter kuat, mungkin syarafnya sudah terlalu tegang dan jadi gila.
Atau jadi terhimpit ketakutan, putus asa lalu bunuh diri.
Tapi Ding Tao dengan cermat dan tenang menguji setiap keanehan yang dia tangkap. Maka melihat hal itu, timbul pertanyaan apakah burung merpati itu terbang untuk memberi tanda pada orang di kota tujuan dia berikutnya bahwa dia sedang mengarah ke sana?
Maka dengan sengaja Ding Tao berbalik arah, masuk kembali ke dalam kota yang baru saja dia tinggalkan. Matanya yang awas mengamati sekelilingnya, benar saja, seekor merpati pos kembali dilepaskan.
__ADS_1
Keesokan paginya Ding Tao berpura-pura hendak melanjutkan perjalanan, matanya dengan awas mengamati hingga dilihatnya orang yang kemarin melepaskan merpati pos, ternyata sudah siap lagi di sana. Dengan tenang Ding Tao berjalan ke arah orang itu. Orang itu terlihat sedikit gugup, namun berpura-pura sedang sibuk dengan peliharaannya. Ding Tao tidak menegur orang itu, tapi dia lewat cukup dekat untuk mengamati lebih jelas orang tersebut.
Setiap ciri yang tidak wajar, terekan di benaknya. Hari itu Ding Tao kembali tidak melanjutkan perjalanan.
Keesokan paginya Ding Tao memilih tujuan yang berbeda, dan keluar dari gerbang lain kota itu. Matanya sekali lagi mengawasi di sekitar jalan keluar dari kota dan benar saja, ada yang siap melepaskan merpati. Berlagak sedang menanyakan jalan, Ding Tao pergi untuk menegur orang itu, bertanya macam-macamtentang jalan yang hendak dia tempuh. Setelah puas bertanya-tanya, Ding Tao pun mengambil jalan itu dan seekor merpati dilepaskan mengarah ke sebuah persimpangan yang akan dia lewati.
Tapi satu hal membuat DIng Tao tersenyum, dua orang yang berbeda, sama-sama membawa merpati pos dan di pergelangan tangan mereka, terdapat sebuah tatoo yang sama.
Sebuah tatoo berbentuk laba-laba berkaki tujuh.
Demikianlah setiap kecurigaan dia uji dan akhirnya setelah puas menguji Ding Tao sampai pada kesimpulan bahwa ada 3 kelompok berbeda yang sedang mengikuti dirinya. Setelah sampai pada kesimpulan itu, Ding Tao pun beristirahat dambil memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan.
Beberapa pertanyaan dia ajukan pada dirinya sendiri.
Apa tujuan dari mereka mengikutinya? Pertanyaan ini cukup mudah untuk dijawab, jawabannya adalah Pedang Angin Berbisik.
Jika demikian, bukankah dia bisa membebaskan diri dari ancaman bahaya dengan mengungkapkan kebenarannya, bahwa pedang itu sudah dicuri oleh Tiong Fa? Sambil menggeleng-geleng pemuda itu mengenyahkan ide itu dari benaknya. Yang pertama, hal itu akan menyusahkan keluarga Huang, meski Tiong Fa yang dituju, tapi hingga saat ini Tiong Fa masih menjadi bagian dari keluarga Huang.
Yang kedua, semakin sedikit orang yang tahu bahwa pedang itu ada dalam genggaman Tiong Fa, semakin besar kesempatan bagi dirinya untuk merebut kembali pedang itu dari tangan Tiong Fa.
Dan yang ketiga, tidak ada jaminan bahwa mereka akan membiarkan dia hidup setelah dia mengungkap keberadaan Pedang Angin Berbisik yang sebenarnya. Yang lebih mungkin adalah, mereka akan membungkam mulutnya untuk selamanya agar sesedikit mungkin orang yang tahu jejak terakhir dari Pedang Angin Berbisik.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa mereka tidak juga bergerak untuk menangkap dirinya, merebut pedang itu. Atau kalau mereka dapatkan Ding Tao tidak membawa pedang itu, setidaknya berusaha mengorek keberadaan pedang itu dari dirinya, mengapa? Ding Tao berpikir untuk beberapa lama sebelum dia menjawab. Jawabannya adalah karena ketiga kelompok itu sadar bahwa ada kelompok lain yang juga mengikuti dirinya. Tentunya saat yang satu bergerak yang lain tidak akan diam saja.
__ADS_1
Lalu jika benar demikian, apa yang akan mereka lakukan?
Menghela nafas Ding Tao berusaha membayangkan dirinya sedang berada dalam situasi yang dihadapi oleh pengintai-pengintainya itu. Yang pertama, dia akan menunggu, jika dua pihak bertempur memperebutkan dirinya, maka pihak ketiga dapat mengambil keuntungan. Tapi hal itu pula yang menyebabkan ketiganya saling menunggu sampai sekarang. Tentunya harus ada langkah lain yang diambil.