
" Karena itu bagaimana kalau sekarang kita melakukan saut pertandingan persahabatan, antara dirimu, dengan orang-orang dalam keluarga Huang. Jika kau berhasil mengalahkan kami, maka itu berarti kau memang memiliki kemampuan yang lebih dari kami untuk melindungi pedang itu. Tapi jika tidak, kukira kaupun tidak berkeberatan untuk mempercayakan pengawasan pedang itu pada keluarga Huang.‖
Sebenarnya usulan Tiong Fa ini tentu saja jauh dari adil. Untuk membuktikan dirinya Ding Tao tentu harus melayani orang-orang dari keluarga Huang sendirian. Di mana letak keadilannya? Tapi bila mengikuti argumentasi Tiong Fa, tentu saja orang jadi dibuat setuju oleh pendapatnya.
Dengan menggigit bibir akhirnya Ding Tao pun mengangguk setuju,
―Tetua Tiong, sebenarnya aku merasa malu, tapi kurasa itulah jalan yang terbaik. Sehingga jika nanti kuserahkan pedang ini ke dalam pengawasan keluarga Huang, bukan berarti aku melanggar pesan guruku. Namun memang keluarga Huang lebih pantas untuk menyimpannya.‖
Demikianlah dengan kelicinan lidahnya Tiong Fa berhasil mengatur panggung sandiwara, di mana setiap orang berhasil dimainkan menurut kemauannya.
Huang Jin, Huang Yunshu dan Huang Ren Fang, serta beberapa orang kepercayaan keluarga Huang yang lain, yang mengetahui tentang rencana ini, mengangguk-angguk dengan puas. Dalam hati mereka bersyukur ada orang macam Tiong Fa dalam keluarga mereka. Bersyukur tapi juga bergidik, ketika membayangkan bila Tiong Fa justru berdiri di pihak lawan.
Pertandingan persahabatan itu dilakukan di ruang latihan, selain mereka yang hadir pada jamuan makan malam itu, tidak ada yang lain yang hadir di sana.
Tiong Fa sendiri sudah mengatur siapa-siapa yang hadir dalam jamuan makan malam itu. Selain putera dan puteri Huang Jin, anak-anak muda yang lain adalah bibit-bibit muda yang berbakat dari keluarga Huang. Lalu kemudian mereka yang sudah berpengalaman di dunia persilatan dan merupakan orang pilihan dalam keluarga Huang. Dan kelompok terakhir tentu saja Huang Jin dan orang-orang kepercayaannya.
Pendek kata, tanpa disadari orang lain, Tiong Fa sudah mengatur agar segenap kekuatan keluarga Huang berkumpul malam itu.
Huang Ying Ying mungkin bisa dijadikan perkecualian, tapi bahkan kehadirannya sebagai puteri Huang Jin pun bisa dimanfaatkan Tiong Fa sebaik-baiknya. Dalam rencana yang ada di angan-angannya sudah terbayang, bagaimana Ding Tao akhirnya akan tunduk di tangan salah satu jagoan keluarga Huang.
Dia sudah membayangkan kata-kata penghiburan yang akan diucapkan, lalu dengan sedikit dorongan dia akan menempatkan Huang Ying Ying sebagai penghibur dan perawat Ding Tao. Dalam sekali jerat, bukan hanya pedang didapatkan tapi keluarga Huang pun akan mendapatkan satu kekuatan lagi.
Tentu saja, kalau nanti ternyata Ding Tao keok di tangan anggota terlemah yang hadir malam itu, Tiong Fa akan membalikkan keadaan. Si cantik Huang Ying Ying, baginya terlalu berharga jika hanya digunakan untuk menggaet jagoan kelas kambing.
Suasana di ruang latihan itu jadi sedikit menegangkan, meskipun tadinya banyak yang memandang Ding Tao sudah terlalu sombong setelah dua tahun menghilang. Setelah mereka siap untuk berhadapan dalam satu pertarungan, mau tak mau mereka mulai bertanya-tanya, apakah bukan mereka yang kelewat tinggi menilai diri sendiri.
Ding Tao sendiri justru mendapatkan ketenangannya di ruang latihan itu. Baginya tidak ada masalah apakah dirinya akan menang atau kalah saat itu.
__ADS_1
Ding Tao yang sudah dibuat percaya penuh pada kemuliaan hati para pemimpin keluarga Huang, tidak melihat adanya masalah jika pedang itu jatuh ke tangan mereka. Jika sampai dirinya yang memenangkan pertandingan itu…
Yah, sejujurnya Ding Tao sendiri tidak pernah berpikir bahwa dia akan memenangkan pertandingan itu, meskipun dia berharap juga bahwa setidaknya dia bisa memenangkan beberapa pertarungan agar gurunya tidak menjadi malu sudah mendidik dia sebagai murid.Inilah pertarungan yang pertama sejak dua tahun yang silam.
Ada juga dalam hatinya rasa penasaran dan ingin menguji, sebenarnya sudah sejauh mana kemajuannya dalam menekuni ilmu bela diri.
Karena itu wajah-wajah yang tegang dari orang-orang muda dalam keluarga Huang, tampak begitu kontras dengan wajah Ding Tao yang tenang, dan penampilannya yang tenang ini tentu saja membuat banyak perasaan yang hadir di situ semakin bergetar.
Terutama mereka yang belum mempunyai keyakinan penuh atas kemampuannya sendiri.
Perlahan-lahan Tiong Fa mengedarkan pandangannya ke sekeliling arena. Kali ini Tiong Fa memang berperan sebagai sutradaranya, bahkan Huang Jin yang menjadi kepala dari keluarga Huang pun tidak ikut memberikan masukan sedikitpun, karena dua alasan.
Yang pertama, dia percaya penuh pada kelicinan Tiong Fa, dalam hatinya Huang Jin mengakui bahwa kecerdikan orang kepercayaannya ini ada di atas kecerdikannya sendiri.
Seandainya pernah timbul sedikit saja kecurigaan dalam hatinya atas kesetiaan Tiong Fa, Huang Jin tidak akan segan-segan untuk menghabisi nyawanya.
Tapi baik Tiong Fa maupun Huang Jin cukup cerdik untuk mengetahui bahwa mereka berdua saling membutuhkan.
Alasan yang kedua adalah, seandainya ada kesalahan perhitungan, apa pun itu, Huang Jin tidak mau namanya ikut jadi tercemar. Pada saat terakhir dia masih bisa melemparkan kesalahan itu pada pundak Tiong Fa, meskipun tidak seluruhnya.
Pandangan mata Tiong Fa jatuh pada seorang anak muda yang menjadi juara dalam ujian kelulusan 6 tahun yang lalu.
Dengan anggukan kepala dia memberikan perintah pada anak muda itu untuk maju ke depan, menjadi kelinci percobaan untuk menguji sejauh mana kemajuan ilmu Ding Tao.
Feng Xiaohong nama anak itu, dalam umur 12 tahun dia berhasi lulus sebagai peserta terbaik, otaknya encer dan cepat menyerap setiap pelajaran.
Kalau ada kekurangannya, maka itu terletak pada sifatnya yang cepat puas diri. Guru-gurunya harus menyesuaikan kecepatan pelajaran yang baru dengan kemampuannya menyerap pelajaran. Mungkin ini salah satu kelemahan orang yang berotak encer, justru karena dia lebih cepat dalam memahami sesuatu, maka cepat pula dia ingin mempelajari yang baru.
__ADS_1
Berbeda dengan Ding Tao yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyelami kegunaan beberapa jurus hingga ke dasar-dasarnya. Feng Xiaohong ini melahap ratusan jurus dalam waktu yang sama.
Tiong Fa tentu saja tahu kelemahan Feng Xiaohong, tapi seperti biasa otaknya yg cermat selalu bekerja tidak tanggung-tanggung, dua sasaran yang dia inginkan. Melihat tingkat kemajuan Ding Tao, dan itu dapat dinilainya dengan menghadapkan Ding Tao dengan Feng Xiaohong yang berpengetahuan luas meskipun agak dangkal.
Dan sasaran yang kedua, adalah menyadarkan Feng Xiaohong akan perlunya menekuni dan menyelami jurus-jurus yang sudah dia pelajari.
Dua pemuda itu pun mulai berhadapan, Feng Xiaohong bukan orang bodoh, dia sempat melihat pertarungan antara Wang Chen Jin dengan Ding Tao, di mana variasi serangan Wang Chen Jin akhirnya berhasil dimentahkan oleh balasan Ding Tao yang sederhana namun tepat.
Bahkan pertarungan itu sempat membangkitkan minatnya untuk kembali menelaah setiap jurus yang sudah dia pelajari.
Tapi ibaratnya jika Ding Tao menyelam sampai ke dasar lautan dan mengamati seluruh isinya. Feng Xiaohong sudah merasa puas, ketika dia merasa sudah melihat dasarnya.
Sebuah jurus yang indah segera dilancarkan oleh Feng Xiaohong, pedang kayunya bergerak membuat lingkaran serangan. Dengan cerdiknya disisakannya lubang di antara serangan itu.
Jika Ding Tao bergerak menghindar maka serangan susulan akan terus menerus mengikutinya. Jika Ding Tao termakan siasat itu dan berusaha membalas menyerang menggunakan lubang pertahanan yang sengaja disisakan, maka sebuah serangan mematikan sudah disiapkan oleh Feng Xiaohong.
Pedangnya akan berbalik mengurung jalan keluar Ding Tao sementara pukulan tangannya akan melancarkan serangan yang mematikan.
Ini adalah salah satu jurus tingkat tertinggi yang boleh dipelajari oleh orang yang tidak berhubungan darah dengan keluarga Huang. Tiong Fa merasa puas melihat keputusan Feng Xiaohong, dia sendiri tentu saja akan mampu memecahkan kepungan itu, terutama berlandaskan himpunan tenaganya yang sudah terpupuk jauh lebih lama.
Tapi apakah Ding Tao mampu memecahkan jurus serangan itu?
Pada gebrakan pertama Ding Tao bergerak menyurut ke belakang, mereka yang sedang mengamati pertandingan itu melihatnya dengan berbagai tanggapan. Bagi mereka yang berada di tingkat terbawah, jurus yang dikeluarkan Feng
Xiaohong adalah jurus pamungkas dari bagian lanjutan yang diajarkan pada mereka yang tidak memiliki pertalian darah dengan keluarga Huang.
Sudah tentu, bagi mereka jurus ini adalah jurus yang tidak terpecahkan, bagi mereka Ding Tao yang belajar dari Gu Tong Dang adalah sama dengan mereka. Bagi Ding Tao tentulah
__ADS_1
jurus ini adalah jurus serangan yang pamungkas, tidak terpecahkan.
Bagi mereka, masalahnya hanyalah siapa yang lebih cepat mengambil inisiatif, siapakah yang lebih mahir dalam menyerang dan siapakah yang lebih kuat.