Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
42. Chapter 42


__ADS_3

Malam itu, setelah bertengkar dengan ayahnya di depan banyak orang. Masih banyak hal penting lainya yang terjadi.


Sesosok bayangan tampak bersembunyi di sudut bangunan, mengamat-amati kamar tempat Huang Ying Ying berada. Saat terlihat nona muda itu berlari menuju ke kamarnya sambil berulang mengusap mata, mengeringkan air mata yang tidak hentinya mengucur, terdengar ******* sedih bayang-bayang itu.


Menengok ke kiri dan ke kanan dilihatnya apakah ada orang di sana, keadaan sepi sudah lama orang menghentikan pencarian di bagian itu. Tapi masih juga ditunggunya beberapa lama. Saat orang itu yakin tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, dengan sedikit membungkuk dia berlari cepat ke arah Huang Ying Ying yang baru saja hendak membuka pintu kamarnya.


" Nona muda Ying, Nona muda Ying."


, setengah berbisik, setengah memanggil, bayang-bayang itu ingin memanggil tapi takut juga jika suaranya terdengar orang lain.


Terlonjak kaget gadis itu saat tiba-tiba didengarnya suara memanggil. Cepat dia menutup kembali pintu yang baru saja dibuka, sambil bersender di depan pintu dengan suara gemetar dia bertanya,


"Siapa?"


" Oh… Tabib Shao Yong… ada apa? Kau mengagetkanku."


―Maaf nona, maaf…sebentar… biar kuatur dulu nafasku."


, dengan nafas tersengal tabib yang cukup berumur itu menyandar di tiang dekat pintu kamar Huang Ying Ying.


Sembari menunggu nafasnya teratur, matanya melihat ke sana ke mari, mengawasi keadaan di sekitar tempat itu, khawatir ada orang lain yang melihat. Huang Ying Ying yang melihatnya, jadi ikut pula melihat ke kiri dan ke kanan.


" Eh Tabib Shao, sebenarnya ada apa?"


, lenyap sudah tangisnya yang tadi berderai.


Maklum sifatnya memang periang jika dia tadi hingga sampai menangis itu karena memang beban yang tidak tertahan. Tapi menghadapi situasi yang unik dari Tabib Shao Yong, tidak urung rasa ingin tahunya lebih menonjol daripada kesedihan sebelumnya dan untuk sementara lupalah gadis itu dengan masalah antara ayah dan pemuda pujaan.


Tabib Shao Yong yang sudah tidak tersengal, sekali lagi memandang ke sekeliling tempat itu sebelum berbisik,


" Nona muda, tahukah kau obat apa yang tadi kauberikan pada Ding Tao?"


Dengan perlahan Huang Ying Ying menggeleng, matanya menatap tajam pada Tabit Shao, mengharap penjelasan lebih lanjut.

__ADS_1


" Menurut nona muda, apakah Ding Tao meminumnya?"


Terdiam sesaat Huang Ying Ying akhirnya dengan ragu-ragu dia menjawab,


" Entahlah Tabib Shao, jika menurut setahuku


Ding Tao yang kukenal akan meminum obat itu, tapi Ding Tao yang kukenal juga tidak akan membunuh Zhang Zhiyi apalagi jika alasannya untuk mencuri ilmu pusaka keluarga kami."


Tabib Shao, menggigit bibirnya sebelum dengan muka pucat dan keringat dingin menetes berkata,


" Nona, jika kukatakan bahwa Ding Tao tidak bersalah, akankah nona percaya? Jika kukatakan aku memiliki bukti-buktinya dengan jelas, akankah nona melindungiku?"


Berkilat mata Nona muda Huang,


" Tabib Shao, aku percaya sepenuhnya bahwa Ding Tao tidak bersalah dan jika kau memiliki buktinya, aku akan melakukan apa pun yang ada dalam kemampuanku untuk melindungimu."


Kata-katanya jelas dan tegas, saat dia bersikap demikian, sikapnya tidak kalah berwibawa dari ayahnya. Tabib Shao yang menanggung beban di hatinya merasakan satu kelegaan besar.


" Nona, bisakah kita membicarakan ini di dalam kamarmu?"


" Saya tahu ini permintaan yang tidak sopan, tapi nyawaku mungkin berada dalam bahaya, dan bila aku meneruskan apa yang kuketahui pada nona, bukan tidak mungkin nyawa nona pun akan terancam bahaya."


Tercenung sesaat Huang Ying Ying dengan cepat mengambil keputusan, setelah memastikan tidak ada orang di sekitar situ, ia membuka pintu kamarnya dan menggamit Tabib Shao untuk ikut masuk. Ketika Tabib Shao hendak menutup pintu kamar, cepat gadis itu mencegahnya,


" Jangan, biarkan saja terbuka."


" Cukup paman berdiri menempel di sana, tidak akan terlihat dari luar.", ujarnya sambil menunjuk ke sebuah sisi dalam kamarnya, tidak jauh dari pintu, tapi dari luar tidak terlihat karena terhalang oleh tembok kamar.


Tabib Shao mengangguk tanpa banyak memprotes. Melihat Tabib Shao bergerak ke arah yang dia tunjukkan, Huang Ying Ying mengambil jarak, lalu duduk di sebuah kursi yang ada di sana, lalu mengarahkan pandangan matanya keluar, tidak menatap ke arah Tabib Shao.


Dari luar tidak terlihat Huang Ying Ying sedang berbicara dengan seseorang di dalam kamarnya. Bila hal itu ketahuan juga atau bila Tabib Shao ternyata berniat jahat, maka pintu yang terbuka maka pintu yang terbuka bisa jadi bukti bahwa Huang Ying Ying tidak melakukan perbuatan yang tercela di sana. Dengan pengaturan yang demikian Huang Ying Ying juga dapat melihat keluar, mengamati keadaan di luar.


Dengan suara yang tidak terlalu keras dan pandangan mata ke arah luar Huang Ying Ying bertanya,

__ADS_1


" Jadi, apa yang mau kau katakan Tabib Shao?"


" Obat yang diminta ayahmu itu, memang baik buat kondisi Ding Tao yang menderita banyak luka luar di tubuhnya. Yang paling penting baginya adalah istirahat yang secukupnya, obat itu akan membuat pernafasannya menjadi longgar, aliran darah yang lancar, tapi juga… obat itu akan membuat Ding Tao tertidur dengan pulasnya."


" Jadi maksud paman, bila Ding Tao meminum obatnya, maka tidak mungkin dia akan dapat berkeliaran malam-malam dan menyatroni kamar ayahku…"


" Ya, itulah nona."


" …Tapi seperti yang kukatakan, Ding Tao yang dulu pasti akan meminum obat yg kuberikan, Ding Tao yang dulu juga tidak akan melakukan kejahatan yang dituduhkan."


berdebar hati Huang Ying Ying, karena Tabib Shao mengatakan bahwa dia memiliki bukti, berarti ada jalan untuk membersihkan nama Ding Tao. Tapi jika itu benar, maka Tabib Shao memegang bukti yang akan menghancurkan nama keluarganya.


Tabib Shao menelan ludah beberapa kali sebelum dia menjawab, tanpa terasa tubuhnya sedikit gemetar membayangkan akibat dari apa yang telah dia lakukan,


―Nona… ketika aku mendengar apa yang dilakukan Ding Tao. Aku teringat dengan obat yang nona minta dariku, karena merasa penasaran, aku pergi ke kamarnya untuk memeriksa."


" Bau obat di kamar itu memastikan bahwa dia telah memasak obatnya, aku periksa ke setipa sudut dan bisa kupastikan obat bukan pula dibuang. Lagipula untuk apa dia memasaknya jika obat itu hendak dibuangnya?"


" Hanya itu saja Tabib Shao?"


" Bukan nona, bukan hanya itu…", terdiam ragu Tabib Shao, haruskah dia meneruskan penjelasannya?


" Lalu, lanjutkan keteranganmu Tabib Shao."


" Sebenarnya saat aku sampai di kamar Ding Tao, bukan masalah obat yang menarik perhatian pertamaku. Tapi ceceran darah di lantai, tempat tidur yang patah, bekas-bekas orang memeriksa kamar itu."


Meskipun jantung Huang Ying Ying berdebaran, tapi dia berusaha tenang,


" Lalu apa kesimpulan paman, bagaimana hal itu menjadi bukti bahwa Ding Tao tidak bersalah?"


Setelah mengambil nafas dalam-dalam, Tabib Shao melanjutkan,


" Nona muda, kita semua tahu sifat Ding Tao, kejadian malam ini tidak sesuai dengan sifatnya itu. Kemudian ada obat tidur itu, setelah melihat keadaan kamarnya satu gambaran terbentuk dalam pemikiranku."

__ADS_1


# Terimakasih Buat semua yang Sudah like & komen. 🥰🥰🥰


__ADS_2