PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
SISI ROMANTIS


__ADS_3

Sudah dua hari ini Handoko benar-benar menggempur Sandriza dengan sesuatu yang menjadi kebanggaan nya. Pagi sudah memeluk mentari dengan hangat, sinarnya sudah tidak malu- malu lagi menyeruak di atas semesta. Handoko ingin pagi ini memberikan hadiah yang spesial buat istri tercintanya. Karena tanpa keluh dan kesah, Sandriza benar-benar melayani dan mengikuti apa pun yang diinginkan oleh Handoko terhadap dirinya. Dalam artian beberapa kali, Handoko aji mumpung dengan pertemuan dengan istrinya itu setelah hampir satu bulan mereka saling berjauhan dan puasa tidak Melakukan kegiatan yang enak itu.


Handoko sibuk di ruang dapur rumah mas Bagas, karena hari keduanya di negara itu Sandriza mengajak Handoko ke rumah Mas Bagas. Tidak ada keberatan dari Bagas karena mereka menginap di rumah milik nya itu. Handoko masih berkutat dengan masakan nya. Sesaat Bagas menatap heran dengan Handoko. Pria dengan bertubuh kekar berotot dan juga memiliki kulit bersih, nyaris seperti aktor kondang yang selalu tidak luput dari perawatan tubuh maupun wajah itu. Handoko nyaris sempurna dari gestur tubuhnya. Kali ini, sibuk dengan karyanya membuat masakan yang katanya kesukaan dari Sandriza.


Dalam. pikiran Bagas wanita seperti Sandriza, mampu membuat laki-laki yang memiliki kharisma di depan karyawan maupun anak buahnya itu bisa seketika menunduk di hadapan Sandriza. Sepertinya rela melakukan apapun supaya bisa menyenangkan hati Sandriza. Tidak heran jika Handoko melakukan hal itu, dirinya pun juga begitu bahagia dan dengan rasa ikhlas nya ingin membuat Sandriza tersenyum puas karena surprise dan berusaha menyenangkan wanita yang berambut panjang itu.


Handoko tersenyum lebar dan puas dengan karyanya yang sudah siap untuk dieksekusi. Makanan itu dihias nya dengan sempurna lalu di letakkan nya di atas meja. Di depan Bagas yang kini masih menikmati secangkir kopi buatan dari Handoko sendiri.


" Ini untuk aku?" goda Bagas. Handoko tentu saja tidak Terima jika hasil masakan nya dimakan begit saja oleh Bagas.


" Tidak! Itu untuk Sandriza!" protes Handoko. Bagas mencoba sedikit dari hasil makanan itu. Namun tangan itu dengan cepat ditampik oleh Handoko. Bagas meringis disertai tawa kekeh nya.

__ADS_1


" Astaga! Ini cuma sedikit saja loh!" sahut Bagas.


" Itu untuk Sandriza. Milik kamu masih ada di pan di atas kompor. Baiklah, aku akan ambilkan untuk kamu." kata Handoko dengan cepat mengambil sisanya untuk Bagas dan dirinya. Bagas merasa beruntung melihat hal itu, adik angkat nya mendapatkan suami yang sangat menyayangi dirinya dan menjadikan dirinya seperti tuan putri.


" Ini untuk kamu! Ini untuk aku." kata Handoko seraya memberikan makanan itu di depan Bagas satu porsi.


" Dimana Sandriza?" tanya Bagas. Handoko tersenyum meringis.


" Kamu tampaknya benar-benar membuat adik angkat ku sangat kelelahan. Rasanya ingin aku sentil saja adik kecilmu yang nakal itu." ucap Bagas. Handoko tertawa terbahak.


" Satu bulan aku puasa. Ini pasti membuat Sandriza semakin bergairah dengan aku. Aku hanya mengikuti kemauannya saja kok. Sebagai suami yang harus memberikan nafkah lahir dan juga batin. Bukankah begitu, bro?" dalih Handoko. Kembali Bagas memukul lengan Handoko dengan keras.

__ADS_1


" Aku akan membangunkan adik aku dulu." kata Bagas.


" Eh tidak! Biar aku saja yang membangunkan istri aku." protes Handoko.


" Oke, oke! Kalau laki-laki itu bukan kamu, tidak akan aku berikan Sandriza jatuh pada laki-laki manapun." kata Bagas. Handoko nyengir kuda.


" Jadi, kamu mengaku kalah bukan jika rival nya aku? Hahaha." sahut Handoko.


" Soal tampan, aku pemenangnya. Soal menggombal, itu lah juaranya kamu." kata Bagas. Handoko segera berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar dimana Sandriza saat ini masih tertidur. Membangunkan dan memberikan sedikit kejutan yang manis untuk Sandriza.


" Gelang kaki ini begitu indah, pasti Sandriza menyukai nya." gumam Handoko.

__ADS_1


__ADS_2