
Sore hari, jam pulang kantor. Bagas sudah masuk ke ruangan mama nya. Di ruangan itu ada Sandriza dan juga tante Melinda. Kegelisahan muncul dalam diri Sandriza. Betapa tidak? Mas Bagas sudah lebih dulu menang start dibandingkan dengan Zio yang punya rencana ingin menjemput dirinya dan mengantarnya ke sanggar.
" Sandriza! Ayo aku antar kamu ke sanggar?" ajak Bagas sambil berdiri dan mulai mendekati mama nya untuk pamit dan bersalaman.
" Sekarang?" tanya Sandriza.
" Iya, tunggu apa lagi? Lebih awal datang di sanggar, bukannya itu lebih baik. Itu akan menunjukkan bukti kamu itu disiplin dan bertanggung jawab. Benar tidak ma?" kata Bagas malah minta pendapatnya mamanya.
" Kamu sudah boleh pulang kok, Sandriza! Tante masih mampir- mampir lagi nanti setelah pulang dari kantor." terang tante Melinda yang rencananya memang pulang dari kantor ada janji dengan Koko di apartemen milik Koko. Mereka akan berkencan di sana.
Akhirnya Sandriza berdiri dari tempat duduknya dan pamitan dengan tante Melinda. Bagas menarik tangan Sandriza keluar ruangan itu. Beberapa mata yang memandang mengira kalau Sandriza ada hubungan spesial dengan Bagas, putra dari presdir perusahaan kosmetik itu. Bagas tidak peduli akan tatapan kekecewaan dari mata wanita-wanita yang bekerja dengan mama nya itu.
" Mas Bagas! Aku bisa jalan sendiri!" kata Sandriza yang berusaha melepaskan tangan Bagas.
" Biarkan saja! Aku kalau tidak menggandeng mu kamu bisa berjalan sangat lambat." protes Bagas.
__ADS_1
Mereka sudah sampai di area parkiran dimana mobil Bagas diparkir di sana. Sedangkan tidak jauh di sana, Zio sudah mengamati gerak- gerik dari mereka berdua.
" Sialan! Laki-laki itu selalu merusak rencana aku. Dia selalu saja menghalangi jalanku untuk bertemu dan dekat dengan Sandriza." kata Zio pelan yang masih ada di dalam mobilnya.
Zio mengirimkan chat kepada Sandriza kalau dirinya menunggu di depan gedung atau perusahaan kosmetik itu. Sandriza membacanya dan matanya mulai mencari- cari keberadaan mobil Zio berhenti menunggu dirinya.
" Bagaimana ini?" pikir Sandriza mulai berpikir untuk lari dari mas Bagas. Tapi niatnya akhirnya disudahi nya.
" Sepertinya benar kata, mas Bagas! Zio sangat posesif sekali dengan aku. Dia laki-laki yang akan mencari kepuasan dari aku saja. Suatu hari kalau aku lengah pasti direnggut lah mahkota aku." pikir Sandriza kembali.
" Ayo masuk! Ngapain bengong aja?" kata Bagas yang membuyarkan lamunan Sandriza.
" Aku kan menunggu kamu dari toilet! Sedangkan ini mobil masih kamu kunci mas!" protes Sandriza. Mas Bagas yang menyadarinya kalau kunci mobilnya masih ia bawa dan memang belum dia buka kuncinya.
" Hehehe maaf, aku khilaf!" sahut Mas Bagas.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam mobil itu. Bagas tersenyum sendiri karena dirinya sangat tahu kalau laki-laki yang bernama Zio itu ingin menjemput Sandriza dan sudah menunggu nya jauh dia area parkiran.
" Kenapa senyum- senyum sendiri, mas?" tanya Sandriza yang melihat Mas Bagas sedari tadi senyum- senyum tidak jelas.
" Tidak apa- apa! Apakah kamu juga ada janji dengan seseorang?" tanya Mas Bagas.
" Siapa?" tanya Sandriza.
" Laki-laki kurang ada sopan nya itu!" jawab Bagas yang sudah menjalankan mobilnya dan melewati mobil Zio yang sedari tadi juga menunggu Sandriza pulang dari kantor.
" Maksud aku, Zio itu? Apakah dia masih ingin mengganggu kamu?" tuduh Zio.
" Yah begitu lah! Resiko banyak penggemar begini, mas!" sahut Sandriza.
" Wlee, banyak penggemar!" ucap Bagas tidak Terima namun sambil tersenyum melirik Sandriza.
__ADS_1