
Walaupun sangat lambat Sandriza menjalankan mobilnya, yang penting Sandriza bisa sampai ke apartemen nya. Sampai di depan apartemen, Sandriza menghubungi Mery untuk meminta bantuan untuk sama- sama memapah Handoko yang tinggi besar itu. Sandriza sangat kesulitan jika memapahnya sendiri menuju apartemen.
*******
" Terimakasih banyak Mery!" kata Sandriza setelah mereka sudah memasuki apartemen itu dan membaringkan tubuh Handoko yang mabok berat. Sandriza mulai melepaskan sepatu dan juga kaos kaki Handoko. Handoko masih saja memejamkan matanya masih dalam keadaan pengaruh dari minuman beralkohol kadar tinggi.
" Akan aku buatkan kopi, yah!" kata Mery. Sandriza mengerucutkan dahinya.
" Untuk siapa?" tanya Sandriza.
" Untuk kamu, Sandriza!" jawab Mery sambil tersenyum.
" Oh kirain untuk Mas Han!" sahut Sandriza. Mery tersenyum.
__ADS_1
" Mas Han, cemplung kan saja ke bak mandi saja. Supaya mas Han cepat sadar. Hehe." ujar Mery.
" Dia sudah lebih tenang dan mulai tidur kok. Tadi di jalan masih saja ngoceh-ngoceh tidak jelas."cerita Sandriza. Mery bergegas keluar membuatkan minuman hangat untuk Sandriza.
" Aku tidak mabok, sayang!" ucap Handoko masih dengan memejamkan matanya. Sandriza mulai melepaskan kancing- kancing kemeja milik Handoko yang bau alkohol dari minuman yang telah diminum nya. Kini tampak jelaslah bagian dada bidang milik Handoko. Sandriza mengelap bagian atas tubuh Handoko dengan handuk basah.
" Sandriza, kopinya aku letakkan di atas meja yah." kata Mery yang sudah masuk ke dalam kamar Sandriza lalu meletakkan kopi itu di atas meja dekat kursi sofa panjang di kamar nya.
" Lauren, kemari lah!" kata Handoko sambil menggapai tangannya merengkuh tubuh Sandriza hingga berada di atas Handoko. Sandriza berusaha berdiri dari posisi itu. Namun Handoko malah semakin membuat Sandriza tidak bisa melepaskan diri ketika posisi nya kini menjadi Sandriza di bawah Handoko.
" Kamu dimana saja, hah? Lauren? Kenapa kamu meninggalkan aku ketika aku sangat tergantung padamu?" ucap Handoko sambil mengusap pipi Sandriza dengan lembut.
" Siapa Lauren? Apakah kekasih mas Handoko sebelum aku?" pikir Sandriza. Handoko mengusap bibir Sandriza dengan jarinya yang lentik. Handoko memainkan nya. Sandriza merasakan gejolak aneh di sana. Namun Sandriza merasa kalau saat ini Handoko hanya menganggap dirinya sebagai wanita lain bukan dirinya.
__ADS_1
" Lauren, aku menginginkan kamu saat ini. Apakah kamu tidak merindukan aku?" ucap Handoko lagi. Handoko kini mulai mendekati bibir Sandriza dan dekat dan lebih dekat lagi hingga Handoko mulai mengecup dan berlama-lama di sana. Sandriza serasa sulit bernafas. Tubuh Sandriza semakin memanas. Apalagi tangan Handoko mulai bermain dengan nakal menerobos ke dalam kemejanya dan bermain dengan dua benda kenyal miliknya. Tangannya mulai me re mas daerah sana. Sandriza mulai men de sah.
" Lauren, kali ini aku akan membuat kamu tidak bisa lari lagi dari aku." bisik Handoko. Sandriza membulat matanya penuh amarah.
" Aku bukan Lauren! Aku Sandriza!" kata Sandriza kini tangannya mulai menampar keras wajah Handoko dengan kasar. Handoko semakin kuat mencengkram tangan Sandriza supaya tidak lepas.
" Aku menyukai kamu, Lauren! Jadi ijinkan aku membuatmu bahagia dengan semua ini. Oke! Diam dan nikmati saja." kata Handoko mulai liar bermain di sana. Sandriza sekuat tenaga mendorong Handoko.
Sandriza mulai berteriak memanggil Mery. Sandriza butuh pertolongannya Mery untuk menyingkirkan badan Handoko yang menindihnya. Mery datang dan menarik paksa badan Handoko. Sandriza mulai mengatur nafasnya.
" Terimakasih Mery!" ucap Sandriza lalu keluar dari kamar itu meninggal Handoko sendiri kembali tidur dengan telanjang dada. Sandriza mulai menangis tersedu-sedu mengingat Handoko menyebutkan nama wanita selain dirinya. Ini sangat menyakiti nya.
" Lauren? Siapa dia?" batin Sandriza. Mery masih bingung dengan Sandriza yang kini masih menangis tersedu- sedu.
__ADS_1