
Seketika keduanya tersentak ketika panggilan masuk di ponsel milik Sandriza membuyarkan pikiran Sandriza dan Bagas. Sandriza bergegas mengangkat panggilan masuk itu dan ternyata Fatika yang sudah kebingungan mencari keberadaan Sandriza.
" Aku di rumah mas Bagas! Aku baik- baik saja Fatika!" ucap Sandriza seraya melihat ke arah Bagas yang masih menatap ke wajah Sandriza yang kini terlihat menjadi canggung karena teringat kejadian semalam.
" Siang ini ada jadwal syuting, Sandriza! Kamu ingat itu bukan?" tanya Fatika.
" Iya, tapi boleh kah aku istirahat hari ini saja? Badan aku pegel semuanya." kata Sandriza.
" Tidak bisa! Semakin cepat kerja tim ini kelar, kita secepatnya bisa kembali ke Indonesia. Apa kamu ingin dimarahi oleh semua kru? Tentu saja Mr Viktor dan juga Om Mario sudah mempercayakan peran utama itu ke kamu. Kamu jangan mengecewakan mereka." kata Fatika.
" Yah.. yah.. aku tahu! Baiklah! Aku akan langsung ke lokasi saja. Oke?" ucap Sandriza. Bagas mengerutkan dahinya.
__ADS_1
" Mau sekarang pergi? Habiskan dulu makanan kamu! Setelah itu biar aku yang antar kamu!" ucap Bagas. Sandriza kembali duduk dan kembali mengeksekusi makanan dan minuman yang telah dibuat oleh Bagas. Bagas masih memperhatikan Sandriza tanpa berkedip.
" Setelah ini kamu harus berhati-hati Sandriza! Banyak yang iri, cemburu atas kesuksesan kamu! Semalam untung saja aku yang mendapatkan tawaran itu dari teman kamu. Kalau orang lain bagaimana?" ucap Bagas. Sandriza tidak berani menatap wajah Bagas. Betapa malunya Sandriza jika ingat kejadian malam itu. Pasti dirinya sangat liar dengan laki-laki di depannya itu.
" Aku sudah selesai!" ucap Sandriza. Bagas menyambar jaket kulitnya dan mengenakannya. Sandriza berdiri dan sedikit merapikan dandanannya.
" Untung saja pakaian mama masih pas di badan kamu. Kamu terlihat sangat cantik sekali mengenakan pakaian mama." kata Bagas seraya mendekati Sandriza. Sandriza berdiri mematung dengan kepala. menunduk. Bagas mengangkat dagu milik Sandriza. Sandriza menatap bola mata Bagas.
" Walaupun pada akhirnya aku merasakan kehilangan kamu. Tapi melihat kamu bahagia, itu sudah membuat aku merasa bersyukur dan ikut merasakan kebahagiaan kamu. Walaupun aku merasakan sepi dan sakit ketika melepaskan kamu." ucap Bagas. Sandriza mulai berani menatap mata Laki-laki yang sudah dia anggap kakaknya itu.
" Mas Bagas patah hati melihat aku bersama Handoko?" tebak Sandriza. Handoko membenarkan ucapan Sandriza dengan merapikan rambut Sandriza.
__ADS_1
" Kebahagiaan kamu itu yang aku inginkan." ucap Bagas. Sandriza seketika memeluk Bagas.
" Terimakasih mas Bagas!" sahut Sandriza dengan terisak. Bagas merangkum kedua pipi Sandriza dan mengusap air mata yang jatuh dari sudut matanya.
" Hai, hai! Kenapa kamu yang menangis?" tanya Bagas seraya mengusap sisa air mata di pipi Sandriza.
" Aku.. aku sudah menyakiti mas Bagas. Dan semua karena keegoisan aku." kata Sandriza.
" Hai Hai tidak! Itu tidak benar! Lupakanlah semuanya. Sudahlah, ayo aku antar kamu ke lokasi syuting. Apakah kamu mau dimarahi seluruh tim karena keterlambatan kamu?" ucap Bagas. Sandriza tersenyum menatap wajah teduh Bagas.
" Nanti malam jemput aku, aku mau di rumah ini dan mau masakan mas Bagas lagi." ucap Sandriza manja. Bagas terkekeh seketika. Wanita ini cepat sekali merubah ekspresi nya dari sedih ke ceria. Benar- benar bakat akting yang sudah mumpuni.
__ADS_1