PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
BREAK


__ADS_3

Setelah syuting hari itu usai, Sandriza bersama Mery kembali ke penginapan yang sudah disiapkan segalanya oleh tim. Sandriza dan Mery memang satu penginapan dengan artis- artis senior lainnya. Walaupun tetap terpisah kamar dengan yang lainnya.


Setelah selesai syuting hari itu, memang semua sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi tidak bagi tim editor dan kru film. Mereka tetap masih bekerja dengan tugas-tugas nya masing-masing. Apalagi tim editor yang bekerja keras untuk mendapatkan hasil gambar dan menggabungkan potongan-potongan adegan-adegan itu.


Mungkin hanya artis saja yang benar-benar rehat atau kadang-kadang kembali menghapal dialog nya yang akan dibaca ketika besok syuting lagi, supaya tidak ada lagi pengulangan dan kesalahan. Ini akan membantu mempercepat segala proses syuting juga.


Di kamar Sandriza tiduran santai di atas kasur itu Kembali Handoko mengajaknya video call. Padahal saat ini, Mery sedang memijat kaki Sandriza. Bukan Sandriza yang menyuruhnya namun Mery melakukan nya dengan senang hati.


" Kamu harus kasih gaji lebih, si Mery tuh. Manja banget sih, kamu yank! Capek banget yah, syuting hari ini?" kata Handoko. Mery Hanya tersenyum saja.


" Pasti itu! Bonusnya pasti di kasih dong! Tapi soal gaji itu urusan kamu loh, mas!" ucap Sandriza. Handoko terkekeh.


" Baik- baik! Kapan selesai syuting nya? Sudah hampir satu minggu lokasi nya di luar kota terus sih? Kapan pulang ke kota?" tanya Handoko. Sandriza tersenyum.


" Kangen yah?" goda Sandriza sambil melihat ke arah Mery. Mery hanya tersenyum.


" Kangen banget! Kamu jangan lupa makan, yank! Tadi Mery laporan kamu makan telat." kata Handoko. Mery nyengir kuda.


" Yang penting masih makan kan, mas?" sahut Sandriza.


" Jangan telat dong! Kerja dan nyari duit perlu, tapi juga ingat kesehatan dan badan kamu juga sayang! Kalau kamu sakit, lalu siapa nanti yang menyakiti aku?" ujar Handoko. Sandriza terkekeh.


" Mas, aku mau pijit badan dulu. Mau lepas baju. Aku matiin yah!" kata Sandriza. Handoko malah tersenyum.


" Jangan dimatiin dong! Mau lihat juga." goda Handoko. Sandriza mematikan video call itu. Sandriza. mulai dipijit bagian tubuhnya.


*******

__ADS_1


Di lain kamar. Rose kini bersama sang sutradara. Dia adalah Roy, sahabat dari Handoko. Antara Roy dan Handoko memang beda gaya hidup dan prinsip-prinsip nya. Roy sudah terlanjur mengikuti gaya barat. Gonta-ganti pasangan dan partner ranjang sudah biasa Roy lakukan. Apalagi ketika seorang artis sama-sama kesepian dan membutuhkan kehangatan. Apalagi ketika syuting di luar kota seperti ini akan terjadi cinta lokasi. Efek dari suasana dan pengaruh lingkungan membuat artis dan kru saling terbawa suasana. Terkadang sama-sama artis juga terjadi cinta lokasi juga. Hal ini seperti sudah sangat biasa terjadi, apalagi setelah bersama minum- minum beralkohol setelah usai syuting dan berakhir di ranjang yang panas.


Di kamar Rose, Roy mulai bergumul dengan wanita itu. Artis senior yang sudah berstatus janda, bercerai karena diketahui telah berselingkuh dengan sesama aktor tampan. Keduanya sudah saling berpelukan di atas peraduan itu. Rose dan Roy masih di balik selimut kamar itu. Mereka masih polos setelah bergulat dengan penuh peluh.


" Apakah kamu juga mengenal Sandriza, si tokoh utama dalam film ini, Roy?" tanya Rose. Roy terkekeh.


" Apakah kamu juga sempat mencicipi nya?" tanya Rose lagi.


" Tidak! Aku tidak berani mendekati wanita itu! Dia wanitanya bos Han! Mau disembelih leher aku jika aku nekat menggoda nya?" sahut Roy. Rose memicingkan matanya.


" Wanita nya bos Han? Bukankah pria itu terkenal tidak mudah digoda dengan wanita mana pun?" sahut Rose. Roy tersenyum menyeringai.


" Benar! Dia kekasihnya!" jawab Roy. Rose kini mulai mencium Roy lebih dulu dengan ganas. Roy tertantang dengan semua itu. Rose kini dikuasai oleh Roy.


" Mau berapa kali lagi kamu sanggup?" ucap Roy kini benar-benar sudah membuat Rose diposisi bawah tubuhnya. Rose tersenyum dan mulai men de sah.


Rose mulai menikmati setiap pergerakan Roy yang membuat dirinya mengakui akan keperkasaan Roy. Laki-laki itu seperti tidak mengenal lelah walaupun sudah lebih dari dua kali melakukan nya bersama Rose. Kini keduanya terkulai di atas kasur penginapan itu setelah Roy benar-benar melepaskan segala hasrat nya yang masih menggunung ketika melakukan nya bersama wanita yang berbeda-beda. Fantasi permainan di atas ranjang nya benar-benar diacungi jempol seribu oleh Rose. Rose dibuat lemas kedua kakinya akan permainan luar Roy.


" Apakah setelah ini kamu masih menuntut aku bermain kembali?" goda Rose. Roy sesaat menyeringai lalu turun ke peraduan itu. Rose tertawa terpingkal- pingkal ketika Roy tidak menyadari kalau dirinya tidak mengenakan sehelai benang apapun yang melekat di tubuhnya. Roy malah tersenyum cuek dengan kelakuan nya.


" Kita makan dulu, dan sedikit minum anggur lagi. Setelah itu, aku ingin kamu yang mendominasi aku. Biarkan aku pasrah menerima ke agresifnya kamu terhadap aku. Oke?" tantang Roy. Rose ikut turun di ranjang itu dan memunguti pakaian nya yang sudah berserakan di lantai kamar itu.


" Baiklah! Kita ke kafe dan keluar dari penginapan ini?" kata Rose.


" Baiklah! Tapi resikonya, Anak-anak akan mengetahui hubungan ini? Kamu tidak akan mempersoalkan nya?" tantang Roy.


" Aku sih bebas! Aku sudah tidak memiliki suami. Sedangkan kamu, masih ada istri kamu yang menunggu kamu pulang. Jika istri kamu mengetahui betapa bejatnya suaminya selalu tidur dan gonta- ganti dengan wanita di luar, apa reaksi dia terhadap kamu, hah?" kata Rose.

__ADS_1


" Mungkin dia akan memotong burung aku!" sahut Roy sambil memegang punya nya yang masih belum juga mengenakan boxer nya.


" Hahaha bang sat! Tutup milik kamu itu! Bahkan sudah dua kali itu senjata masih saja tegak berdiri seperti tiang bendera. Menantang dan menjulang ke angkasa luar." kekeh Rose.


" Ini salah satu bukti kalau aku tidak cukup puas kalau hanya cuma satu wanita dalam hidup aku. Kamu sudah membuktikan nya kan, Rose?" kata Roy. Rose malah mengernyitkan dahinya.


" Bagaimana dengan istri kamu ketika menghadapi kamu di tiap malam- malam kalian?" tanya Rose penasaran.


" Istri aku bisa membuat aku satu kali puas dalam satu malam saja! Tapi kenapa ketika dengan wanita lain punya aku selalu tegak berdiri walaupun sudah memuntahkan laharnya. Aneh bukan?" cerita Roy. Rose menjadi heran.


" Mungkin inilah yang membedakan antara yang halal dengan yang haram. Hahaha." sahut Rose. Roy manggut-manggut seolah-olah membenarkan apa kata Rose.


" Mungkin saja benar kata kamu! Ketika aku bermain dengan istri aku, aku sudah cukup puas dan aku merasakan damai dengan dia. Milik istri aku seperti setiap hari seolah perawan terus. Sungguh aku tidak berbohong." ucap Roy. Rose malah penasaran.


" Lalu kenapa kamu jadi liar dan suka bermain dengan wanita di luar seperti ini, hah?" sahut Rose.


" Ini sudah menjadi kebiasaan aku. Setelah aku melaksanakan nya dengan artis pendatang baru itu, aku menjadi ketagihan dan menganggap semua ini biasa saja. Aku tidak berpikir dosa dan akan mendapatkan penyakit dalam kebebasan ini." kata Roy.


" Siapa artis pendatang baru yang kamu maksud kan?" tanya Rose penasaran.


" Wah kalau aku bilang, kasihan dia. Dia sudah top sekarang. Aku tidak ingin mengungkapkan nya." sahut Roy. Rose mengeluh akan jawaban Roy yang tidak bikin puas dirinya.


" Ayolah Roy! Kasih tahu aku! Imbalannya aku bikin kamu puas sampai dua kali lagi deh, dan aku di atas." kata Rose berusaha memberikan penawaran.


" Tidak! Tanpa aku bilang siapa orangnya pun, nanti kamu juga akan membuat aku kamu dominasi." kata Roy.


" Bang sat! Ba ji ngan!" sahut Rose sambil memukul pantat milik Roy yang masih terbuka.

__ADS_1


__ADS_2