
Selang berapa lama, suara klakson mobil diluar pagar berbunyi. Bagas segera mengintip dari kaca. Rupanya Zio, si laki-laki pacar Sandriza sudah datang dan menanti Sandriza untuk mendatangi nya.
" Enak saja, laki-laki itu! Dia bahkan tidak mau turun dan masuk ke rumah. Minta ijin dulu sama aku atau mama dulu kenapa? Ini main bunyi klakson segala biar Sandriza cepat- cepat keluar dan masuk ke mobilnya. Ini tidak bisa di biarkan." pikir Bagas sambil mulai berencana.
" Aku mau membawa Sandriza pergi untuk bermalam mingguan. Rasain loh, Zio!" pikir Bagas mulai jahil.
*******
Sandriza keluar dari kamarnya dengan penampilan baju yang sama. Sandriza tidak mengikuti nasihat dari Bagas yang menyuruhnya mengganti rok mininya dengan celana panjang. Hal itu membuat Bagas geram dan niatnya untuk menggagalkan kencan malam mingguan nya bersama Zio akan Bagas gagalkan.
" Sandriza, kenapa tidak kamu ganti rok mini kamu dengan celana panjang?" tanya Bagas sambil menghalangi langkah Sandriza untuk keluar dari pintu utama rumah itu.
" Mas Bagas! Aku rasa ini sudah sangat bagus dan modis. Kenapa aku harus mengganti nya dengan celana panjang? Lagi pula Zio sudah menunggu aku di depan. Kasihan Zio nanti bisa lama menunggu aku." Sandriza beralasan.
" Ya sudahlah kalau tidak mau mengganti pakaian kamu. Ayo ikut dengan aku!" kata Bagas sambil menarik paksa tangan Sandriza ke luar rumah menuju mobilnya yang sudah sedari tadi Bagas siapkan di luar garasi mobil.
" Mas Bagas! Jangan menarik aku seperti ini. Sakit tanganku, mas! Mas Bagas!" ucap Sandriza sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Mas Bagas yang menariknya.
__ADS_1
Bagas tidak perduli Sandriza yang berontak dan ingin melepaskan cengkraman tangan nya yang kokoh dan kuat. Bagas membuka pintu mobilnya dan dengan paksa memasukkan Sandriza ke mobilnya di kursi depan. Lalu dengan cepat, Bagas masuk kedalam mobilnya dan menguncinya.
" Mas? Itu Zio sudah menunggu aku loh mas! Kami mau malam mingguan!" ucap Sandriza namun Bagas tetap tidak perduli malah sudah mulai menghidupkan mobilnya dan cepat menjalankan nya dengan cepat.
" Aku tidak perduli dengan laki-laki itu! Aku tidak menyukai nya Sandriza! Dia itu laki-laki yang tampaknya baik tapi suka merusak wanita. Apakah kamu tidak takut jika nanti kamu diperkosa nya?" ucap Bagas vulgar sekali.
" Dia kan pacar aku, mas!" sahut Sandriza mulai protes.
" Kalau dia pacar kamu, lalu kamu dengan rela hati mau diperkosa olehnya?" Lagi-lagi Bagas bicara blak-blakan.
" Aduh sudah jauh yah! Kasihan Kak Zio masih menunggu aku di depan rumah." kata Sandriza sambil melihat ke belakang.
Betapa Zio penuh amarah mendengar semua itu. Dalam hati Zio menaruh dendam kepada Bagas yang sudah menggagalkan kencan malam mingguan nya bersama Sandriza. Padahal rencana indahnya adalah, Zio akan mengajak Sandriza menginap di hotel dan akan membuka segel Sandriza dengan penuh kehati- hatian. Ini sungguh pikiran mesum yang selayaknya memang harus digagalkan oleh Bagas.
Bagas memang salah satu putra tante Melinda yang sangat posesif.
" Mas Bagas! Nanti setelah ini kalau Zio marah dengan aku, mas Bagas lah yang harus bertanggung jawab. Acara malam mingguan kami jadi gagal gara- gara Mas Bagas." ucap Sandriza sambil cemberut.
__ADS_1
" Malam mingguan kamu aku ganti sekarang juga tapi dengan aku. Kamu mau kemana biar aku antar!" ucap Bagas sambil mengurangi kecepatan mobilnya.
" Ya sudahlah! Kita makan enak dulu, biar kamu tidak cemberut dengan aku." kata Bagus sambil mengusap pucuk rambut milik Sandriza.
Sandriza merapikan rambutnya yang berantakan karena diacak-acak oleh Bagas.
" Mas Bagas cepatlah mencari pacar, supaya tidak selalu mengganggu aku terus." protes Sandriza.
" Ide yang bagus! Bagaimana kalau kamu pacaran sama aku saja. Bagaimana?" kata Bagas penuh candaan.
" Mas Bagas ini loh! Selalu saja seperti itu. Kita ini saudara mas, tidak mungkin berpacaran." kata Sandriza.
" Kamu salah! Kita bukan saudara kandung. Yang benar adalah keluarga kamu sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh mama aku. Dan akhirnya kamu dianggap seperti anaknya sendiri oleh mama aku." jelas Bagas.
" Tapi aku sudah menganggap mas Bagas seperti kakak aku." sahut Sandriza.
" Terserah kamu! Yang penting aku menganggap kamu pacar aku. Jelas kan?" kata Bagas asal.
__ADS_1
" Mas Bagas suka bercanda terus." protes Sandriza.
" Sudahlah, ayo kita turun dan makan enak sepuasnya. Lupakan Zio, si laki-laki brengsek itu!" kata Bagas akhirnya sambil turun dari mobilnya lalu membukakan pintu mobil samping untuk Sandriza.