
Diam-diam Mengintip memperhatikan sepasang suami istri yang masih berbau pengantin baru itu. Bramantyo masih panas- panasnya menggempur istri nya ketika dirinya memiliki banyak waktu sepulang dari kantor ya. Sandriza tidak bisa menolak jika Handoko punya cara untuk membuat Sandriza terbawa dalam keinginan nya. Yang awalnya Sandriza enggan dan tidak bersemangat menjadi menggila tatkala Handoko dengan liar dan ganas membuat aliran darah Sandriza memburu dengan kencang. Ini yang disukainya oleh Handoko ketika istrinya bisa mendominasi permainan dan Handoko tidak terlalu banyak aktif dan bekerja.
Mery diam-diam menginginkan itu. Betapa perlakuan Handoko selalu manis dengan Sandriza. Mery ingin memiliki suami seperti Handoko yang matang, mapan, dewasa, selalu hangat dan penuh perhatian.
" Aku sudah lama menyukai kamu, mas Han! Namun aku tahu hubungan kita hanya sebatas atasan dan karyawan sejak dulu. Walaupun kita sudah sangat dekat dan bahkan kita sering bersama dalam melakukan perjalanan bisnis. Hingga akhirnya kamu melemparkan aku untuk mendampingi wanita mu. Wanita yang kamu cintai. Namun aku cukup senang dan bahagia bisa sering melihat kamu. Entah sampai kapan kamu menyadari jika aku sejak dari dulu menyukai kamu." kata Mery yang saat ini menempelkan tubuhnya ke balik tembok kamar milik majikannya, yaitu Kamar utama suami istri itu.
.
__ADS_1
Mery hanya menghayal jika saat ini dirinya sedang bercengkrama dengan Handoko. Dengan penuh kehangatan dan kemanjaan melakukannya. Mery membayangkan bisa hidup bersama dengan laki-laki itu yang sudah lama ia cinta. Perasaan yang sudah lama ia pendam dan tidak berani ia ungkapkan. Mery takut jika Handoko malah membenci nya. Mery khawatir jika Handoko malah memberhentikan dirinya untuk bekerja di rumah itu sebagai asisten pribadi istrinya.
Dengan menjadi asisten pribadi Sandriza, Mery hampir setiap hari bisa melihat Handoko di rumah itu. Walaupun Mery harus menelan kenyataan pahit dan kecemburuan nya karena menyaksikan keduanya selalu hangat dan mesra. Mery sudah kebal jika melihat mereka selalu manja dan romantis baik dari sebelum mereka menikah dan berpacaran maupun saat ini ketika mereka akhirnya menikah.
Mery masih belum bisa melepaskan harapan indahnya jika suatu hari nanti dirinya bisa merasakan kebersamaan nya dengan Handoko. Apalagi bisa mengungkapkan rasa cinta nya pada laki-laki yang memiliki tubuh yang kekar dan kokoh. Mery pasti dengan senang hati dan suka rela jika Handoko menerima nya walaupun menjadi wanita simpanannya. Pikiran jahat dan nakal sering muncul dibenak Mery, namun sampai saat ini Handoko masih baik- baik saja dan seperti nya benar-benar menganggap dirinya hanyalah seorang teman saja. Atau bahkan hanya sebagai asisten pribadi atau partner kerja saja.
Mery memejamkan matanya, mengkhayalkan jika Handoko melakukan itu dengan nya. Suara indah dan men de sah serta erotis itu samar- samar terdengar dibalik tembok itu. Mery menikmati semuanya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamar utama itu. Kedua pasangan pengantin yang masih panas- panas nya itu mulai membuat panas peraduan itu. Sedikit teriakan yang tertahan serta erangan lolos dari mulut keduanya. Mereka sangat bersemangat untuk bekerjasama dan bekerja keras membuat keturunan mereka berkembang. Apalagi Handoko, dia benar-benar ingin memiliki banyak anak dari isteri nya.
Keduanya kini terlihat letih dan berkeringat di kamar utama itu. Dinginnya AC kamar utama mereka masih kalah dengan panasnya kobaran cinta mereka. Mereka menyudahi permainan itu setelah keduanya dalam pelepasannya secara bersamaan. Seutas senyuman terlempar dari sudut keduanya. Perasaan bahagia dan penuh kedamaian ada dalam pasangan suami istri itu. Dunia seperti milik berdua.
"Terimakasih istriku tercinta! Kamu membuat aku seperti laki-laki yang sangat beruntung itu." ucap Handoko seraya mengecup kening Sandriza dengan kelembutan.
" Sama-sama, mas Han! Bersama dengan kamu, aku seperti menjadi seorang tuan putri yang selalu dimanjakan." kata Sandriza dengan senyuman khasnya.
__ADS_1
" Semoga secepatnya kita mendapatkan keturunan kita." kata Handoko.
" Aamiin, mas Han!" sahut Sandriza lalu membenamkan kepalanya dibawah ketiak Handoko.