
Bagas mengajak Sandriza jalan- jalan ke mall. Berbelanja baju dan juga sepatu. Bagas ingin merubah penampilan Sandriza supaya lebih elegan dan seperti kalangan atas. Sesekali Sandriza menolak jika mas Bagas mengambilkan barang yang super mahal. Bagi Sandriza itu terlalu mahal untuk dirinya.
" Nanti habis tabungan, mas Bagas loh!" sindir Sandriza. Bagas tertawa saja.
" Tidak! Ayo kita ke bagian tas. Sepertinya kamu memang perlu punya tas yang branded juga. Jadi ketika jalan dengan mama, mama pun tidak malu karena asistennya berpenampilan kece badai." kata Bagas. Sandriza tersenyum menyeringai.
Ketika mereka selesai membeli beberapa tas itu, Bagas dan Sandriza berjalan ke rumah makan siap saji. Sandriza mulai mengantri sedangkan Bagas sudah duduk di kursi paling ujung.
" Hai bro!" sapa seorang laki-laki berperawakan tinggi besar. Lalu laki-laki itu duduk dan bergabung dengan Bagas.
" Eh Mas Dengan siapa?" tanya Bagas sambil celingukan mencari sosok yang lain selain laki-laki yang kini ikut duduk bergabung di mejanya.
" Sama adik aku, Isa." jawab laki-laki itu yang tidak lain tidak bukan adalah Handoko. Bagas tersenyum.
__ADS_1
" Dimana?" tanya Bagas.
" Masih antri memesan makanan dan minuman nya." sahut Handoko. Bagas manggut-manggut saja.
" Kamu sendiri dengan siapa?" tanya Handoko.
" Sama adik aku! Adik dari saudara jauh sih." jawab Bagas lalu keduanya menatap dua orang yang baru datang membawa makanan nya yang diletakkan di atas nampan.
" Kita duduk disini juga, mas?" tanya Isa. Sandriza mulai meletakkan makanan dan minuman milik Bagas ke depannya. Demikian juga Isa, memberikan makanan dan minuman milik Mas Handoko di depannya. Kini kedua nya menggeser kursi dan duduk bergabung untuk makan bersama. Mereka mulai menyantap makanan dan minuman yang sudah ada didepan nya. Sesekali Handoko tetap melirik dan mencuri pandang wajah Sandriza. Baginya ini adalah kesempatan emas bisa menatap Sandriza lebih dekat. Isa mulai melihat kakaknya yang memperhatikan wanita yang ditaksirnya. Kaki Isa mulai menendang pelan kaki milik kakaknya itu. Namun karena salah sasaran yang kini bersuara malah Sandriza.
" Aww!" ucap Sandriza pelan. Isa terkejut. Yang lainnya ikut saling melemparkan pandangan.
" Ada apa dik?" tanya Bagas kepada Sandriza. Sandriza bingung.
__ADS_1
" Tidak apa- apa, mas!" sahut Sandriza. Isa mulai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Isa meringis merasa bersalah karena salah sasaran. Handoko sedikit meledeknya.
" Ada film bagus loh, bagaimana kalau kita nonton film bareng-bareng." usul Isa. Handoko mengernyit dahinya.
Handoko dan Bagas saling bertatapan.
" Kalau aku sudah tidak ada jadwal hari ini. Kau memang sengaja ngajak jalan Sandriza untuk belanja. Tadi Sandriza aku culik di kantor nya. Karena mamaku sendiri pimpinannya. Hehe." cerita Bagas. Handoko tersenyum menyeringai.
" Aku juga tidak ada jadwal. Sengaja santai jam segini. Namun Isa dan juga Sandriza nanti sore sudah harus latihan teater. Kamu ngajak nonton, apakah kamu lupa kalau hari ini ada latihan?" Handoko mengingatkan Isa, adiknya. Isa kembali menggaruk alisnya.
" Tapi masih ada waktu kok. Kalau sekarang kita nontonnya." sahut Isa. Sandriza seperti menurut saja keputusan apa yang akan diambil oleh tiga laki-laki dewasa di dekat nya itu. Selagi masih dengan mas Bagas, Sandriza masih aman. Walaupun Mas Bagas masih suka menggoda nya. Namun itu tidak serius dan hanya candaannya saja.
" Ayo kalau begitu!" ajak Bagas lalu menggandeng Sandriza sebelum dua laki-laki itu meraih tangan Sandriza untuk modusnya.
__ADS_1