
Di kantor Handoko. Sandriza beserta Mery sudah tiba di kantor itu. Sandriza masuk ke ruangan Handoko dengan senyum yang ceria. Handoko masih sibuk dengan kerjaannya. Namun ketika Sandriza tiba dan masuk di dalam ruangannya, Handoko seketika meninggalkan kerjaannya yang menumpuk dan menggiring Sandriza ke dalam kamar tempat beristirahat nya yang berada di dalam ruangan kerjaannya itu. Mery mendengus kesal harus menyaksikan keromantisan dan keharmonisan pasangan suami istri itu. Mery sangat cemburu dan sakit jika melihat Handoko selalu memperhatikan dan menyayangi Sandriza. Apalagi sekarang, mereka pasti akan bercengkrama melakukan tindakan dan permainan dewasa di dalam kamar itu. Mery mendengus kesal, dan akhirnya memilih pergi keluar dari ruangan itu.
Di dalam kamar yang dingin karena AC itu keduanya saling bertautan seolah-olah sudah lama tidak berjumpa. Baru saja tadi pagi mereka saling berpisah karena kesibukan masing-masing. Sekarang mereka seperti sangat kangen dan rindu. Bibir keduanya bersatu menjelajahi langit- langit dan saling menyesap dan bertukar saliva. Entah siapa yang memulainya keduanya sama-sama polos dan pakaian yang mereka kenakan berserakan di mana-mana di lantai kamar itu. Handoko mulai. mendominasi permainan dan mulai bermain di atas tubuh yang berkulit putih dan lembut seperti sutra. Sandriza memejamkan matanya tatkala merasakan aliran aneh dalam darahnya. Sandriza menggeliat lalu bibir merah delima itupun lolos sudah menyuarakan des@han yang semakin membangkitkan Handoko untuk lebih memacu pergerakan nya. Handoko semakin lama semakin lebih mempercepat gerakan intensnya maju mundur maju mundur cantik dan penuh kenikmatan. Sandriza mulai menegang tatkala Handoko semakin membenamkan benda tumpul andalannya itu hingga menuju rahimnya. Hingga disaat bersamaan keduanya memekik dan menyuarakan teriakan nikmat ketika benih milik Handoko menyembur di dalam wadah yang kokoh milik Sandriza yang bisa berubah menjadi seorang janin jika proses pembuahan itu berhasil bersatu dengan sel telur. Handoko ambruk di atas tubuh Sandriza dengan nafas yang masih memburu. Jantung nya masih berdebar kencang karena olahraga disiang hari itu yang tidak direncanakan.
__ADS_1
" Sayang! Berat!" bisik Sandriza. Handoko kini beralih ke samping Sandriza lalu mendekap Sandriza dengan erat. Handoko tersenyum menatap wajah ayu istrinya itu.
" Mas Han! Lusa aku ke luar negeri urusan kontrak kerja sama syuting film terbaru garapan sutradara om Mario. Kamu tidak apa- apakan?" ucap Sandriza seraya mengusap dada bidang milik suaminya itu.
__ADS_1
" Berapa hari?" tanya Handoko.
" Apa, dua bulan! Kamu akan menyiksa adik kecil ini, sayang! Selama itu kamu meninggalkan aku?" protes Handoko. Sandriza kini mengubah posisi nya naik ke atas tubuh Handoko dan menindihnya.
__ADS_1
" Kamu bisa menyusul aku, Mas Han! Apa susahnya sih?" sahut Sandriza seraya memainkan bibir seksi dan tebal milik Handoko dengan jari lentiknya. Handoko kini malah mengu lum nya. Kini keduanya kembali berciuman panjang dan panas. Bahkan Sandriza kini menguasai permainan itu. Giliran Handoko mendes@h dan memejamkan matanya karena menikmati sensasi permainan nakal Sandriza.
" Biar Mery nanti yang akan mengurus semua kebutuhan kamu, mas Han!" ucap Sandriza seraya menggesekkan ****@* b@henolnya. Handoko tidak berkutik jika sudah terbenam senjatanya itu dalam kehangatan di dalam goa mungil namun mencengkeram dan memijit pintarnya. Sandriza tersenyum penuh kemenangan ketika mendapati suaminya bisa puas menikmati pelayanan nya.
__ADS_1