PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
KEHILANGAN


__ADS_3

Di rumah tante Melinda. Handoko dan Sandriza sudah tiba di rumah mewah milik Sandriza. Bagas saat ini duduk bersama Handoko di ruang tengah. Sedangkan Sandriza mengemasi barang- barang nya yang masih tertinggal di rumah itu. Tante Melinda? Tante Melinda kebetulan tidak sedang berada di rumah itu.


" Kenapa harus pindah di apartemen kamu sih, mas?" tanya Bagas seperti keberatan jika Sandriza pindahan dari rumah mama nya itu dan akan tinggal di apartemen milik Handoko.


" Supaya lebih dekat dengan pusat kota dan studio. Dan juga lebih dekat dengan rumah produksi milik aku. Kamu jangan khawatir, Bagas! Aku tidak ikut tinggal bersama Sandriza di apartemen itu. Ada Mery yang akan mendampingi Sandriza dan juga menemani Sandriza di apartemen itu." kata Handoko. Bagas mulai bernafas lega karena apa yang dia pikirkan tidak terjadi yaitu Handoko satu rumah di apartemen itu.


" Mery? Siapa Mery itu?" tanya Bagas. Handoko tersenyum dengan pertanyaan Bagas.


" Mery, asisten Sandriza. Mery anak buah aku yang aku sengaja aku suruh mendampingi Sandriza dan mengurus semua keperluan Sandriza." kata Handoko.


" Sebenarnya aku masih belum ikhlas jika Sandriza keluar dari rumah ini?" ucap Bagas.


" Kenapa?" tanya Handoko.


" Di luar banyak laki-laki yang mengincar Sandriza, apalagi jika nanti Sandriza benar-benar menjadi bintang." ucap Bagas.


" Jangan khawatir, aku akan melindungi Sandriza." kata Handoko.


" Aku percaya dengan kamu, Mas Han! Tapi tidak dengan yang lainnya." ucap Bagas. Bagas menuju kamar Sandriza dan masuk ke dalam.

__ADS_1


Di dalam kamar itu, Sandriza masih sibuk membereskan barangnya yang masih tersisa di sana. Bagas merasa kehilangan jika Sandriza tidak berada di rumah itu lagi. Siapa yang akan dia jahili lagi.


" Kamu benar-benar akan meninggalkan rumah ini? Kamu yakin bisa hidup tanpa aku?" tanya Bagas sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu. Sandriza terkekeh dengan ucapan itu.


" Rumah ini akan menjadi sepi tanpa kamu loh, Sandriza! Kalau tidak ada kamu, aku pasti akan merasa kesepian dan kehilangan." kata Bagas lagi. Sandriza kini malah mengernyitkan dahinya.


" Mas Bagas bisa main di apartemen itu." sahut Sandriza. Bagas malah nyengir kuda.


" Sudah ada Handoko yang menjaga kamu. Setidaknya aku tidak akan mengkhawatirkan kamu lagi." kata Bagas.


" Tapi aku pasti juga kangen dengan mas Bagas. Kangen dengan cerewetnya mas Bagas." ujar Sandriza.


" Aku senang kok, memiliki mas Bagas yang selalu menjaga dan melindungi aku." kata Sandriza.


" Jadi, pasti aku akan merindukan semua itu." tambah Sandriza lagi.


" Tidak akan! Kamu sudah ada Handoko! Dan keberadaan aku tersingkirkan oleh Handoko itu." kata Bagas. Sandriza memicingkan matanya.


Sandriza kini ikut menjatuhkan badannya ke atas kasur itu. Bersama Bagas di sebelah nya. Mereka kini malah saling berhadapan dengan sama- sama memiringkan tubuhnya. Bagas sesaat memberanikan dirinya mengusap pipi Sandriza dengan lembut. Sandriza tersenyum dengan kasih sayang Bagas terhadap dirinya.

__ADS_1


" Apakah aku benar-benar menganggap kamu sebagai adik aku? Jika suatu hari nanti aku merasakan rindu itu? Dan saat ini pun aku sebenarnya sangat cemburu jika kamu sudah semakin dekat dengan Handoko itu." kata Bagas jujur. Sandriza malah menjadi melongo tidak percaya akan ungkapan dari laki-laki yang saat ini di hadapan nya itu.


" Mas Bagas pasti salah! Mas Bagas hanya menyayangi aku sebagai adik dan tidak ada yang lebih dan spesial." ujar Sandriza.


" Semoga saja seperti itu!" sahut Bagas.


" Boleh aku memeluk kamu, Sandriza?" ucap Bagas sambil merentangkan kedua tangannya. Sandriza merapatkan tubuhnya dan menenggelamkan kepalanya di dalam dada lebar milik Bagas. Bagas memeluk tubuh ramping milik Sandriza hingga cukup lama.


" Ini begitu nyaman dan damai. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama?" ujar Bagas.


" Aku tidak tahu, mas!" sahut Sandriza.


" Ya sudah! Ayo keluar! Kamu sudah ditunggu oleh Handoko! Kamu baik- baiklah dengan laki-laki itu yah! Apakah laki-laki itu sudah menembak kamu?" kata Bagas lalu melepaskan pelukan itu. Sandriza mengangguk pelan. Bagas tersenyum namun hatinya terasa sesak tiba- tiba.


" Kenapa aku tiba-tiba menjadi sesak dada aku yah, ketika mengetahui kalau kalian sudah jadian dan sudah berpacaran?" kata Bagas dengan kejujuran nya. Sandriza malah kembali memeluk laki-laki itu lebih lama.


" Apakah ini bisa sedikit menghilang rasa sakit dan sesak di dada mas Bagas?" kata Sandriza. Bagas malah makin mengeratkan pelukan itu. Air matanya malah keluar satu butiran di ujung matanya. Secepatnya Bagas menghapus nya, sebelum Sandriza melihat nya. Ini akan memalukan dirinya jika kalau Sandriza mengetahui nya.


" Iya, ini benar-benar membuat aku nyaman dan tenang! Kamu baik- baiklah menjadi artis. Kamu jangan mengikuti gaya barat yang bebas akan bergaul. Walaupun kamu saat ini sudah bersama dengan Handoko. Kamu tetap harus menjaga harga diri kamu sebagai wanita." kata Bagas. Sandriza tersenyum dengan wejangan itu.

__ADS_1


" Ayo kita keluar! Mana barang kamu yang akan dibawa?" kata Bagas lalu membantu mengangkat barang milik Sandriza.


__ADS_2