
Di rumah kediaman keluarga Gunawan.
Di ruang makan, semuanya sedang berkumpul dan duduk di kursi makan yang mewah dan elegan. Bermacam makanan sudah tersaji di atas meja. Dari sayur, lauk dan juga pencuci mulut sudah tersaji di atas meja makan itu. Duduk di sana ada kedua orang tua Isa dan Handoko beserta partner bisnis Pak Gunawan. Malam itu, sengaja Pak Gunawan, ayah dari Isa dan Handoko mengundang partner bisnisnya yang bernama Pak Barata.
Pak Barata mendapatkan undangan nakan malam bersama oleh keluarga Gunawan dengan mengajak istri dan juga salah satu putrinya. Putrinya bernama Salma. Bukan sekedar mengundang makan malam saja, namun ada niat besar dari Pak Gunawan dan Pak Barata. Kedua orang tua yang sudah berkepala lima itu ingin mengenalkan anak- anak nya. Dengan tujuan ada perjodohan diantara putra dan putri nya tersebut. Memang tidak ada pembicaraan secara langsung untuk perjodohan itu, supaya putra putrinya tidak seperti di rencanakan untuk hal perjodohan itu. Mereka mengenalkan dulu, mendekatkan diantara keduanya lalu dengan harapan mereka saling suka dan cocok, dan sesuai ekspektasi nya akan bersatu dalam ikatan pernikahan. Itu yang diinginkan oleh Pak Gunawan dan Pak Barata.
Setelah acara makan malam usai, para orang tua mulai duduk di ruangan tamu sedangkan putra putri nya dibiarkan saling berkenalan dan berbincang-bincang sesuai topik yang menarik menurut mereka. Isa yang mencium bau- bau perjodohan itu pelan- pelan menyingkir dari tempat itu. Dirinya sungguh tidak tertarik dengan pernikahan bisnis seperti itu. Kedua keluarga besar yang memiliki latar belakang yang sama, ingin di satukan dalam ikatan pernikahan dengan tujuan dunia bisnisnya semakin melebar dan meluas.
__ADS_1
Handoko dengan sabar menanggapi wanita yang masih terbilang sangat muda itu. Dari segi fisik dan wajah memang sudah terlihat jelas kalau gadis itu selalu perawatan dan mungkin saja tidak pernah memasak,mencuci piring dan bahkan mencuci bajunya sendiri. Dari nada bicaranya saja terlihat manja sekali. Handoko sering mengalah dan menyimak dari semua cerita- cerita yang keluar dari mulut mungil gadis dari putri konglomerat itu. Pembicaraan dari dia masih kuliah beserta teman- teman pergaulannya hingga hobinya. Kini pembahasan sudah mulai menyerempet ke dunia hiburan keartisan. Salma mulai tertarik masuk dalam dunia itu.
" Untuk apa lagi sih, bukankah orang tua kamu sudah berlebih-lebihan dalam harta dan kekayaan nya? Untuk apa lagi kamu harus capek- capek menjadi artis." kata Handoko kepada Salma.
" Menjadi artis itu capek loh! Apalagi ketika harus syuting film, sinetron, sesi pemotretan untuk iklan, dan lain-lain nya." kata Handoko menjelaskan.
" Paling tidak menjadi artis kan terkenal dan menjadi sorotan seluruh negeri bahkan bisa mendunia." sahut Salma.
__ADS_1
" Kalau sekedar mengandalkan paras yang cantik, ini kurang diperhitungkan, nona! Kalau kamu ingin terkenal, buat aja video syur dengan kekasih kamu lalu kamu sebarkan di sosmed. Kamu pasti jadi terkenal saat itu juga." kata Handoko sambil terkekeh.
" Kamu terus begitu, loh! Tidak sekalian saja aku membunuh seseorang dan tubuhnya aku mutilasi." sahut Salma sambil manyun bibirnya.
Handoko tertawa lebar. Hal itu membuat Salma menjadi cemberut.
" Aku ingin menjadi artis, Bang Doko!" kata Salma.
__ADS_1
" Lebih baik kamu fokus nyusun skripsi dulu biar cepat wisuda." sahut Handoko.
" Hem! Setelah wisuda yah! Tetapi aku akan sekolah akting, modeling. Aku ingin menjadi artis yang terkenal." kata Salma penuh semangat. Handoko malah cengar-cengir saja dengan gaya imut Salma yang benar-benar seperti anak kecil itu.