
Gisel terbangun dari tidurnya setelah aroma makanan yang dipesan nya sudah berada di atas meja. Setelah Gisel ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, Gisel mulai menyantap makanan dan juga minuman segar itu. Fauzi sudah ikut duduk untuk makan dan menemani Gisel menikmati makanan itu. Mereka masih di dalam ruang kerja Fauzi itu.
" Kamu menyukainya?" tanya Fauzi dengan perhatian.
" Iya, ini lezat sekali!" jawab Gisel sambil menikmati makanan itu. Sate kambing dan tongseng pesanan nya.
" Setelah ini aku ingin bicara serius." kata Fauzi sambil menatap Gisel serius. Gisel sempat menghentikan aktivitas makannya ketika Fauzi berkata seperti itu. Matanya membulat seolah mengisyaratkan apa yang akan dibicarakan kepada nya.
" Tentang apa?" tanya Gisel.
" Tentang hubungan kita tentunya." jawab Fauzi.
" Ada apa dengan hubungan kita? Kita baik- baik saja bukan? Tidak ada masalah." kata Gisel masih menikmati makanan nya.
" Aku serius ingin bicara ke kamu sayang!" kata Fauzi lagi.
" Bicara saja! Kita juga lagi makan dengan santai bukan?" tantang Gisel.
" Baiklah! Aku ingin bertanya kepada kamu. Apakah kamu mencintai aku, Gisel?" tanya Fauzi. Gisel yang mendengar nya menjadi tersedak. Fauzi mengambilkan minuman untuk Gisel.
" Benarkan? Kamu menjadi tersedak." sahut Fauzi.
" Tidak apa! Lanjutkan saja! Ini tadi aku kepedasan makan tongseng nya." alasan Gisel.
" Ya sudah, jawab dulu pertanyaan aku tadi." kata Fauzi.
" Aku nyaman dengan kamu. Aku senang jika berdua dengan kamu. Aku juga rindu jika tidak berjumpa dengan kamu." jawab Gisel.
" Dibandingkan dengan Baskoro?" tanya Fauzi tiba-tiba.
" Jujur aku dengan Baskoro sudah tidak ada rasa lagi. Mungkin saja setelah aku pernah dikecewakan oleh Baskoro saat itu." cerita Gisel yang membuat Fauzi membulat matanya dan mulai mendengarkan dengan serius.
__ADS_1
" Selama ini aku tidak pernah cerita ini kepadamu. Maaf! Soalnya aku masih bertahan dengan suami aku. Jadi cerita ini aku anggap tidak perlu aku ceritakan kepada orang lain. Karena aku masih memilih untuk tetap bertahan dan mempertahankan rumah tangga ku. Baskoro sudah minta maaf dan berjanji tidak mengulangi nya kembali maka aku memilih memberikan kesempatan kedua kepada Baskoro. Walaupun kenyataan nya kadang aku masih terus ingat akan kesalahan yang dia perbuat terhadap aku. Dan rasa itu mulai tidak ada dengan Baskoro." cerita Gisel.
" Rasa itu tidak ada kok, bisa melakukannya sampai beberapa trip loh!" sahut Fauzi sambil tersenyum sinis.
" Lah, aku kan masih istrinya jadi sebisa mungkin aku tetap melayani dia. Walaupun rasanya hambar. Namun aku berusaha menikmati nya. Walaupun yang aku khayal kan berhubungan dengan kamu." cerita Gisel.
" Apa?" sahut Fauzi.
" Benar kok! Aku tidak bohong!" ucap Gisel.
" Bagus kamu cerai saja dengan suami kamu kalau begitu!" kata Fauzi akhirnya.
" Cerai? Lalu apakah kamu akan menikah dengan aku?" tanya Gisel.
" Kamu berani tidak?" tantang Fauzi.
" Jujur aku belum berani jika harus bercerai dengan suami aku. Walaupun aku sudah nyaman dengan kamu." kata Gisel.
" Maaf! Jika harus bercerai dengan suami aku, aku belum bisa. Kami menikah dengan komitmen menyatukan dua keluarga kami juga. Kalau kami cerai bagaimana kami menghadapi keluarga besar kami. Keluarga Baskoro dan keluarga aku." kata Gisel.
" Lalu apakah kamu tidak berpikir jika berselingkuh dengan aku ini, jika mereka semua tahu bagaimana? Bagaimana kamu menghadapi dua keluarga besar mu itu." desak Fauzi.
Fauzi kok jadi dewa begitu yah? Sebenarnya Fauzi dari dulu lurus- lurus saja sih karena memang kesempatan untuk berselingkuh itu ada, jadi dia mulai keenakan. Dan apa yang dikatakan Bagas sudah mulai menyadarkan dirinya.
" Yah, jangan sampai tahu dong sayang! Aku masih menikmati hubungan dengan kamu seperti ini." kata Gisel.
" Jadi kamu tidak ingin menikah dengan aku?" sahut Fauzi.
Gisel hanya terdiam tanpa bisa menjawabnya.
" Kalau begitu kita putus! Aku tidak ingin meneruskan hubungan seperti ini lagi." kata Fauzi akhirnya dan benar-benar dengan tekad dan niatnya.
__ADS_1
Gisel kembali membulat matanya. Dia benar-benar terkejut dengan ucapan Fauzi. Gisel tidak menyangka setelah permainan liar dengan Fauzi tadi, Fauzi bisa mengajaknya putus.
" Kamu? Apakah kamu serius? Kamu masih marah dengan aku?" tanya Gisel.
" Aku serius! Aku ingin kita menyudahi semuanya. Hubungan yang tidak ada ujung pangkalnya. Kita akan semakin terpenjara dalam kehinaan dan dosa- dosa." kata Fauzi lagi.
" Kamu munafik! Di saat seperti ini kamu bicara soal dosa?" sahut Gisel mulai emosi.
" Bukannya kamu tadi bilang, kamu tidak ingin bercerai dengan suami kamu. Lalu mau sampai kapan kita seperti ini terus? Aku tidak ingin merasa bersalah telah bermain dengan istri orang. Membayangkan kamu bermain dengan suami kamu saja aku sudah merasa sesak dan sulit bernafas. Aku tidak mau seperti ini terus." kata Fauzi mulai menuntut.
" Tapi bukannya kita sudah saling sepakat melakukan semua ini suka sama suka. Kamu tidak bisa cemburu dengan suami aku dong! Dan kamu jangan menuntut aku untuk bercerai dengan suami aku dan menikah dengan kamu." kata Gisel.
" Nah itu dia! Sekarang aku sudah lelah melakukan hubungan seperti itu. Aku ingin memiliki istri yang mendampingi aku ketika dimasa tuaku. Aku tidak bisa meneruskan hubungan ini." kata Fauzi lagi.
" Aku tidak mau!" sahut Gisel sambil mendekati Fauzi.
Gisel mulai nakal membuka kancing kemeja Fauzi. Gisel tidak perduli. Gisel tetap ingin berhubungan dengan Fauzi walaupun dirinya juga tidak ingin bercerai dengan suaminya.
Diusapnya da da Fauzi yang saat ini sudah telanjang. Fauzi sesaat diam dengan kelakuan Gisel. Hingga Gisel dengan sendirinya membuka semua kain yang menutupi auratnya. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Fauzi supaya Fauzi tidak jadi memutuskan dirinya. Gisel mendorong Fauzi hingga telentang. Gisel mulai membuka dan menurunkan celana Fauzi hingga kini tinggal boxer yang dikenakan Fauzi. Gisel mulai liar bermain dan memainkan rasa Fauzi. Fauzi tidak bisa menolak. Dalam hati Gisel penuh kemenangan.
" Ah kamu pasti ingin ini bukan?" tanya Gisel.
" Jangan lagi minta putus kepada ku. Aku sungguh-sungguh tidak menyukai nya." kata Gisel lagi sambil berusaha membuat Fauzi tidak berkutik lagi.
" Gisel! Aku tidak mau! Hentikan!" kata Fauzi sedikit meronta.
" Mulut kamu bicara seperti itu tapi tubuh kamu tidak. Kamu tidak bisa menolaknya bukan?" goda Gisel.
Fauzi akhirnya dengan sekuat tenaga mendorong Gisel hingga kepalanya sedikit membentur tembok.
" Aduh! Fauzi kamu!!!" teriak Gisel sambil memegang kepalanya yang ke bentur tembok.
__ADS_1
" Maaf! Ayo pakailah baju kamu. Kita akhiri hubungan ini. Cukup Gisel. Kembalilah pada suami kamu. Itu lebih baik untuk kamu dan aku tentunya." ucap Fauzi sambil kembali mengenakan pakaian nya.