
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Pertunjukan pementasan teater dengan judul 'Pelakor' telah digelar. Orang-orang yang sudah membeli, memesan, karcis sudah berdatangan di gedung megah, mewah itu. Panggung megah pementasan sudah dipersiapkan. Beberapa kru kameraman sudah bersiap- siap meliput acara pertunjukan pementasan teater itu secara live ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Tamu undangan pun sudah duduk di depan. Apalagi penonton sudah memadati gedung itu. Kursi-kursi sudah penuh diduduki oleh orang-orang baik kelas biasa, VIP, VVIP, maupun kursi tamu kehormatan.
Para pemain yang akan memainkan pementasan teater sudah bersiap dengan kostum dan make up nya. Panitia sudah sibuk dengan tugas-tugas nya masing-masing. Segala-galanya sudah matang dipersiapkan.
Kasandra? Setelah ungkapan cinta dari Isa itu, hubungan Isa dengan Kasandra kurang begitu baik. Mereka berdua menjadi kaku. Namun ketika mereka berlatih sebelum pementasan dan terakhir gladi resik mereka terlihat serius memerankan tiap-tiap dialog nya.
Acara sudah dimulai. Kini sudah tiba acara inti yaitu acara pertunjukan pementasan teater dengan judul 'Pelakor' telah dimulai. Suara tepukan dan riuh suara penonton memenuhi gedung megah dan mewah itu. Acara itu benar-benar ditayangkan secara langsung.
Zio? Dia menyaksikannya di rumah bersama Rumi, istrinya. Tidak ada suara dan komentar. Hanya sesekali Rumi melihat suaminya penuh dengan kecemburuan dan kecurigaan.
" Cantik yah, wanita itu! Dan pantas jika dia memerankan tokoh Pelakor karena dalam kenyataan nya dia sempat mengganggu kehidupan rumah tangga kita. Pantas dia sangat menghayati peran nya sebagai Pelakor." sindir Rumi. Zio hanya diam lalu hanya mendekap Rumi, istrinya supaya lebih tenang dan tidak ribut.
" Kita matiin saja lah yah televisi nya. Kita lebih baik bikin adegan dewasa sendiri." ucap Zio. Rumi malah tertantang dan tertarik dengan ucapan suaminya itu.Rumi kini malah bermain- main dan menggoda Zio. Zio sesekali menahan hasratnya karena sejati nya dia ingin melihat Sandriza tampil dalam perannya itu. Namun Rumi benar-benar membuat dirinya merasakan jiwanya kembali meronta dan bangkit. Akhirnya Rumi menggiring Zio melakukan yang lebih jauh lagi.
" Di sini saja, tidak usah pindah ke kamar. Dan biarkan televisi nya menyala." kata Zio dengan suara yang sudah memburu nafasnya.
Kembali ke pertunjukan.
__ADS_1
Handoko, Bagas duduk berdampingan. Kedua laki-laki dewasa itu menikmati pertunjukan pementasan teater itu. Kedua mata laki-laki itu seolah-olah tidak ingin lepas dan berkedip ketika tokoh Sandriza muncul bersama Isa. Handoko sebenarnya dipenuhi api cemburu yang hebat ketika adegan yang sangat intim dilakukan oleh keduanya sebelum tirai panggung itu menutupi keduanya dan berganti dengan adegan lainnya.
" Gila! Aku seperti telah dicabik-cabik oleh Sandriza. Aku sangat kepanasan. Aku ingin marah dengan Isa. Dia begitu menghayati perannya." pikir Handoko.
" Sandriza! Aku yakin, kelak kamu akan menjadi artis terkenal. Aku yakin itu, Sandriza." batin Bagas.
Beberapa penonton ibu- ibu pun semakin geregetan dan dibakar kemarahan yang hebat. Rasanya mereka hendak melemparkan sesuatu ke wajah sang Pelakor, perusak rumah tangga seseorang. Suara- suara umpatan dan makian mulai keras di teriakkan oleh seorang ibu- ibu muda. Mungkin saja, kehidupan nyata nya telah mengalami hal demikian. Sehingga emosinya meledak- ledak. Sandriza menjadi berhasil memerankan ini jika emosi penonton mulai terpancing.
*Katakan, sayang! Rindu ini jangan lagi engkau larang. Walaupun aku telah berkeluarga dan memiliki istri dan anak. Namun kenyataan nya, aku tidak bisa berpaling dari kamu. Aku tidak bisa melepaskan kamu. Percaya lah! Nama kamu sudah terpahat di hati ini. Sungguh.
Aku mohon! Tinggalkan aku! Aku tidak ingin meneruskan hubungan ini. Hubungan yang akan membuat sakit dan kecewa istri dan anak kamu. Aku sungguh tidak ingin menjadi perusak rumah tangga kalian.
Tapi bagaimana dengan istri kamu!
Kamu dan dia bukanlah pilihan bagi aku. Kalian sama-sama berarti bagi aku. Aku mohon mengerti lah aku dalam hal ini*.
Dialog- dialog yang panjang antara si Pelakor itu membuat panas penonton ibu- ibu muda. Apalagi kedua nya sering bertemu diam- diam. Mereka melakukan zina.
__ADS_1
Dari adegan-adegan sudah mulai dipertontonkan.Hingga akhirnya ada titik penyelesaian nya. Si Pelakor akhirnya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri ketika kekasih gelapnya memilih istrinya dan meninggalkan dirinya ketika dalam kehamilan. Akhir dari pertunjukan itu diliputi kesedihan karena Pelakor begitu tersiksa dan penuh penekanan. Di samping videonya tersebar luas di media sosial atas kelakuan istri dari kekasih nya tersebut. Dirinya juga mengalami kehancuran. Dimana setiap mata memandang rendah dirinya. Akhirnya dia tidak sanggup menghadapi segala nya sendirian. Si Pelakor mengakhiri hidupnya dengan menyayat pergelangan tangannya. Namun, ada yang mencintai Si Pelakor sejak lama yang telah menyelamatkan nyawa si Pelakor tersebut. Akhirnya Si Pelakor tersebut dinikahi oleh kaki yang mencintai nya tanpa syarat dan tanpa melihat masa lalu si Pelakor.
Pertunjukan pementasan teater itu berjalan dengan sukses dan lancar. Tepukan dan ucapan selamat diberikan oleh semua para penonton untuk para pemain dan semua yang terkait di dalam nya. Kesuksesan itu tidak hanya pemain saja yang bikin acara berjalan dengan lancar. Namun kepanitiaan pun ikut lelah menyiapkannya segala sesuatunya, baik dari persiapan panggung, penjualan tiket, dan lain nya.
Sandriza dan para pemain lainnya berdiri di atas panggung. Mereka mendapatkan buket bunga oleh para penonton yang mendadak mengagumi akting mereka. Isa, Sandriza dan para pemain juga mendapatkan setangkai bunga dari beberapa penggemar dadakan. Handoko pun ikut naik ke panggung mendekati Sandriza dan memberikan buket mawar kuning dan coklat untuk Sandriza.
" Kamu keren! Dan.. dan cantik!" bisik Handoko sambil mencium tangan Sandriza dengan lembut. Isa kembali memalingkan wajahnya tidak ingin melihat nya.
" Terimakasih, mas Doko. Mas juga keren. dan ganteng. " bisik Sandriza. Handoko mulai terbang akan pujian dari Sandriza.
" Benarkah? Nanti aku akan menghubungi kamu lagi." bisik Handoko lalu kembali ke tempat duduknya. Bagas tersenyum simpul.
" Kamu menyukai adik aku?" bisik Bagas. Handoko tersenyum seolah-olah membenarkan ucapan Bagas.
" Boleh kan? Aku akan membuat Sandriza menjadi artis yang terkenal karena kemampuan aktingnya." ucap Handoko. Bagas tersenyum puas.
" Baiklah! Tapi jangan kamu manfaatkan dia. Dia terlalu polos dan lugu akan rayuan laki-laki seperti kamu." kata Bagas. Handoko terkekeh dibuat nya.
__ADS_1
" Jangan khawatir! Kami adalah laki-laki dan wanita dewasa, Bagas!" sahut Handoko. Bagas mulai berpikir.
" Jangan bilang, kalau kamu sebenarnya juga menginginkan Sandriza sebagai istri kamu, Bagas." sindir Handoko. Bagas melengos saja. Rasanya masih malu jika mengakui kalau sebenarnya hatinya tidak rela jika Sandriza didekati oleh laki-laki terutama laki-laki hidung belang. Namun berbeda jika laki-laki itu Handoko. Dirinya mungkin sangat rela, jika Sandriza senang juga menyukai Handoko.