PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
BERANTEM


__ADS_3

Di rumah tinggal Zio dan Rumi.


Sesampainya di rumah, Rumi membanting semua barang- barang yang ada di dekatnya. Kali ini dia benar-benar marah, kecewa dengan Zio. Dia tidak mengira dan menyangka kalau suaminya yang dianggap nya laki-laki setia itu telah mengkhianati nya. Dengan mata kepalanya sendiri, Rumi melihat kalau suaminya jalan dengan wanita muda. Ini membuat mendidih otaknya. Seharian dia sibuk bekerja dan capek dengan urusan bisnisnya kini dihadapkan oleh permasalahan yang membuat emosinya meledak- ledak. Rumi tidak menyangka, kalau Zio sangat tega berselingkuh dibelakangnya.


" Katakan! Sudah berapa kali kamu tidur dengan wanita yang seksi itu, hah? Berapa kali?" teriak Rumi sambil melemparkan benda kaca yang kini pecah berserakan kemana-mana. Rumi mencoba mendekati Rumi dan berusaha membuat tenang istrinya itu. Baginya kemarahan wanita yang sudah menjadi istrinya itu akan membawa bencana besar karena susah mendapatkan istri seperti dia yang pekerja keras, penurut dan tidak macam- macam. Dia sendiri lah yang macam- macam.


" Rumi sayang! Cukup dong sayang, jangan lempar- lempar barang lagi. Aku tidak suka." kata Zio berusaha mendekati Rumi. Namun Rumi sudah terlanjur emosi dan sulit untuk dia tahan luapan emosi nya.


" Aku tidak perduli! Apakah aku kurang melayani kamu di atas ranjang itu, hah? Apakah aku kurang memuaskan kamu, mas! Katakan!" kata Rumi kini mulai mengambil sesuatu benda yang ada di dekatnya kembali namun Zio secepatnya mendekapnya sangat kuat dan mengambil benda yang ada di tangan Rumi itu dan meletakkan kembali ke tempatnya semula.


Rumi ingin memberontak atas pelukan dari suami nya itu. Namun kekuatan Zio tidak bisa Rumi lawan. Tangan Zio begitu kuat mendekap tubuh mungil Rumi yang masih mengenakan baju kantor nya. Rumi sesenggukan dan menangis histeris. Tangannya memukul- mukul dengan keras badan Zio sedapat nya. Baginya kemarahan nya harus ia lampiaskan. Zio diam dan membiarkan istrinya itu memukulinya.


" Sayang! Rumi sayang dengarkan aku dan percayalah dengan aku yah. Aku tidak sekali pun tidur dengan wanita itu. Kalau kamu tidak percaya kamu besok bisa bertanya dengan orangnya. Aku tidak mengkhianati kamu sayang." kata Zio pelan dan penuh rayuan. Rumi sesaat diam dan mendengarkan walaupun tangis nya masih saja tidak terbendung dimatanya.


" Tapi kenyataannya kalian makan malam bersama di sana. Aku melihat sendiri mas. Jika aku tidak melihat kalian, kamu pasti semakin jauh berhubungan dengan wanita itu." kata Rumi.


" Sudah diam dulu, jangan menangis. Nanti matanya bengkak loh kalau kebanyakan keluar air matanya." kata Zio akhirnya.


Zio membimbing Rumi masuk ke dalam kamarnya. Rasanya sudah sangat malu pertengkaran mereka tadi terjadi di ruang tengah dimana para pembantu nya pasti melihat dan mendengarkan nya. Namun bagaimana pun juga, Rumi sudah tidak terkontrol lagi kemarahan nya saat itu.

__ADS_1


" Aku benar-benar tidak pernah tidur dengan wanita itu satu kali pun. Hanya dengan kamu saja sayang!" kata Zio kembali diulang.


" Sumpah!" kata Rumi memastikan.


" Sumpah! Kalau tidak percaya kamu bisa menelpon orang nya malam ini juga." kata Zio sambil menyerah kan ponselnya ke istrinya. Rumi mengambil ponsel itu dari tangan Zio.


" Bahkan kamu menyimpan nomer wanita itu, loh mas!" ucap Rumi makin cemberut. Rumi mulai mencari kontak yang dimaksudkan oleh Zio. Zio seketika lupa kalau di sana tertulis nama Sandriza dengan nama Kesayangan.


" Kamu menulis nama wanita tadi siapa?" tanya Rumi memastikan. Zio semakin kebingungan.


" Kamu mau menelpon dia sekarang? Pasti dia sudah tidur, bagaimana kalau besok saja, sayang!" rayu Zio.


" Sudah yah! Aku gak mau kamu menangis, sayang. Rumi sayang! Kita sudah lama menikah bukan? Kamu harus mempercayai aku, dong! Wanita itu yang selalu menggodaku jika aku tidak melayani dia akan nekat. Kamu harus percaya itu, Rumi sayang." kata Zio kembali kini mulai mencium pipi Rumi dan beralih ke dahi Rumi. Tangan Zio mengusap lembut sisa air mata Rumi. Rumi seperti terhipnotis akan kata- kata dan bujuk rayu suaminya itu.


" Tidak ada untungnya kita bertengkar, sayang. Lebih baik kita enak- enakkan aja." ucap Zio kini mulai memainkan bibir mungil Rumi.


" Tapi aku jadi lapar, mas." kata Rumi kini mulai manja. Zio terkekeh dibuatnya. Namun Zio tidak perduli, kali ini Zio harus mencairkan semuanya.


Masalah yang sebenarnya besar itu harus ia selesaikan dengan perlakuan yang manis. Kali ini Zio akan membuat istrinya itu menikmati keindahan surga dunia. Zio rela melakukan itu supaya Rumi bisa melupakan kejadian hari ini. Zio mulai menciumi Rumi hingga Rumi mulai menikmati segala perlakuan Zio. Pelan- pelan Zio mulai merebahkan Rumi dan mulai membuat Rumi menikmati dan pasrah akan nakalnya jari lentik Zio yang nakal dibawah sana. Tidak hanya jari itu yang membuat kepemilikan Rumi basah di sana, namun Zio mulai menghisap dan menyesapnya dengan permainan lidahnya. Hingga Rumi yang awalnya dengan kemarahan nya kini seperti lupa akan emosinya.

__ADS_1


Rumi seolah menuntut lebih dengan semua itu. Zio seolah mengerti akan kemauan wanita yang kini pasrah akan permainan nya itu. Walaupun saat ini Zio belum mengeluarkan sesuatu yang menjadi andalannya, dia saat ini hanya ingin membuat wanita yang sudah menge- rang, men- de- sah, mele- nguh dan meng- geliat itu terpuaskan akan aksi nakalnya. Sesekali Rumi membusungkan da da nya karena menahan kenikmatan yang luar biasa di bawah sana. Zio meng obrak abrik bagian itu dengan permainan jari- jari nya yang sudah mumpuni menari- nari di sana. Hingga goa yang sempit itu mulai becek akan cairan yang sedikit ken tal. Zio tersenyum melihat Rumi yang mulai menegangkan ketika lidah Zio dengan nakal mulai bermain di sana. Rumi kembali mengangkat pinggulnya, sepertinya hendak melepaskan sesuatu yang mulai ingin dihempaskan.


" Mas!! Aku.." ucap Rumi dengan pelan sambil mulai meraih kepala Zio dan makin menenggelamkan ke bawah sana. Zio tersenyum setelah melihat Rumi dalam pelepasannya.


" Kamu suka, Rumi sayang!" bisik Zio yang kini sudah mendekati Rumi di peraduan itu. Rumi malu- malu mengangguk pelan. Zio tersenyum menatap wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.


" Aku akan membersihkan diriku dulu, mas! Setelah ini giliran aku yang akan memuaskan kamu." kata Rumi sambil turun dari ranjang itu.


" Tidak usah! Yang penting kamu jangan marah lagu kepadaku." sahut Zio.


" Aku tunggu kamu di ruang makan, yah!" tambah Zio akhirnya meninggalkan Rumi yang hendak masuk ke kamar mandi. Rumi mengangguk pelan dan tersenyum kepada Zio.


Zio meraih ponselnya dan keluar dari kamar itu. Dia berjalan menuju ruang tamu. Sedangkan di ruang tengah yang tadi seperti kapal pecah sudah dibereskan oleh pembantu nya.


" Setelah ini, sepertinya aku sudah tidak bisa mendekati Sandriza lagi." pikir Zio sambil merubah kontak Sandriza itu yang awalnya ia tulis dengan KESAYANGAN menjadi PENGGODA.


😃😃


"Nah, nanti kalau Rumi membacanya kan biar dia makin percaya." gumam Zio.

__ADS_1


__ADS_2