PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
MELINDUNGI


__ADS_3

" Besok- besok kalau latihan ke sanggar bilang! Aku yang akan antar kamu dan aku juga yang akan menjemput kamu." kata Bagas dengan mendelik matanya. Sampai hanya mengerutkan dahinya.


" Iya, mas Bagas yang ganteng sendiri di rumah ini." kata Sandriza tidak mau ribut dan panjang lebar. Sandriza secepatnya melesat masuk ke dalam kamarnya.


" Hai! Setelah kamu berganti pakaian, temani aku makan malam." teriak Bagas kepada Sandriza sebelum menutup pintu kamarnya.


" Mau makan dimana, Mas?" tanya Sandriza sambil menengok dan ikut berteriak.


" Makan di rumah ajalah!" jawab Bagas lalu berjalan menuju ruang makan.


Tidak lama Sandriza keluar dari kamarnya dan sudah mengenakan baju santai buat tidur. Tangannya masih sibuk membawa ponselnya dan diletakkannya di dekat telinganya. Rupanya ada panggilan suara masuk ke ponselnya Sandriza.


" Apa? Aku yang memerankan tokoh antagonis itu? Memerankan wanita perusak rumah tangga atau Pelakor? Isa, kamu jahat tega banget sih. Entar aku kena bully ibu- ibu muda deh!" kata Sandriza sambil merengek.


"Itu artinya kamu sukses memerankan tokoh itu, Sandriza! Jangan lupa, pertunjukan kita nanti benar-benar akan di tayangnya langsung di stasiun televisi. Ini kesempatan kamu bisa menjadi pusat perhatian dan mana tahu kamu akan menjadi artis setelah pementasan ini. Dilirik para sutradara dan produser untuk membintangi sinetron atau film. Ini bagus kan!" kata Isa di seberang sana.


" Tapi bantu aku untuk mendapatkan feeling nya yah, Isa! Aku bisa- bisa gugup lama tidak ikut pementasan." kata Sandriza.

__ADS_1


" Tentu saja! Kamu harus disiplin latihan loh! Aku akan menjemput kamu nanti!" Janji Isa.


" Kalau itu tidak perlu! Mas Bagas akan mengantar dan menjemput aku nanti untuk latihan di sanggar." kata Sandriza sambil melirik ke arah Bagas yang sudah sibuk menyantap makanan di atas meja makan.


"Ya sudah, bye Isa!" kata Sandriza akhirnya menyukai panggilan suara masuk dari Isa.


Bagas menatap ke arah Sandriza sambil mulutnya penuh dengan makanan yang ia kunyah.


"Dari siapa?" tanya Bagas dengan datar.


" Jangan dekat- dekat dengan pria itu!" kata Bagas kumat posesif nya. Sandriza tersenyum geli melihat ekspresi dari Bagas seperti suaminya atau kekasih nya yang lagi cemburu.


" Isa orang nya baik kok, mas!" kata Sandriza sambil ikut mencomot ayam goreng di depannya lalu dicocol kan dengan saos sambel.


" Bagaimana cerita Zio, yang lagi mendekati kamu itu?" tanya Bagas kepo habis.


" Oh iya! Zio yah? Seharian ini nomernya aku blokir, mas!" kata Sandriza jujur.

__ADS_1


" Bagus! Jangan dibuka lagi blokiran nya!" sahut Bagas dengan ekspresi senang.


" Loh, ini mau aku buka kok, mas! Dia kan pacar aku sementara ini. Tadi itu aku blokir karena dia sangat sibuk sekali menghubungi aku. Sedangkan aku lagi sibuk rapat pembentukan panitia dan penentuan tokoh-tokoh untuk pementasan teater nanti." cerita Sandriza jujur.


" Ya sudah! Kamu mulai merasa terganggu bukan? Jangan dibuka blokiran nya! Dan satu lagi, jangan diteruskan hubungan berpacaran dengan dia. Laki-laki tua itu tidak ada bagus- bagusnya. Lebih ganteng dan muda aku jauh." kata Bagas yang membuat Sandriza menahan tawa.


" Paling tidak dia berduit, mas!" sahut Sandriza.


Bagas melotot tajam ke Sandriza.


" Gaji bulanan dari mama kurang? Kamu mau berapa, aku kasih!" kata Bagas melotot.


" Hehehe mas Bagas ini!" omel Sandriza.


" Aku harus melindungi kamu! Jangan sampai kamu jatuh pada laki-laki yang tidak tepat dan hanya memanfaatkan tubuh kamu saja!" kata Bagas dengan vulgar.


Sandriza hanya tersenyum sambil sibuk makan ayam goreng nya.

__ADS_1


__ADS_2