
Di rumah kediaman Melinda. Zio sudah ada di depan teras rumah Melinda. Saat itu Bagas sedang ada di rumahnya.
" Mencari siapa mas?" tanya Bagas sambil duduk di dekat Zio.
" Mencari Sandriza, mas!" jawab Zio lantang.
" Sandriza sedang beristirahat! Mas pulang saja." kata Bagas tegas.
" Kalau boleh, saya akan menunggu Sandriza disini." ucap Zio.
Bagas semakin geram akan sikap nekat dari Zio.
" Pulang saja mas! Aku tidak menyukai laki-laki yang keras kepala." ucap Bagas akhirnya.
Zio mulai terpancing emosinya. Dia secara tidak langsung telah diusir oleh Bagas. Tanpa berpamitan, Zio langsung pergi dari rumah itu.
" Aku tidak akan menyerah hanya karena ini." ucap Zio pelan sambil menjalankan mobilnya.
*******
" Kak Zio mana, mas?" tanya Sandriza.
__ADS_1
" Sudah pulang!" jawab Bagas lalu masuk ke dalam rumah tanpa merasa bersalah.
" Mas Bagas! Sampai kapan mas Bagas mencampuri urusan pribadi aku?" tanya Sandriza emosi.
" Sampai kamu sudah bisa membedakan laki-laki yang benar-benar tulus menyayangi kamu dengan laki-laki yang hanya mencari kesenangan saja." kata Bagas.
" Kak Zio laki-laki yang baik kok! Dia bahkan mau membelikan aku rumah dan mobil." kata Sandriza.
Bagas sesaat berhenti dan memandang Sandriza.
" Aku juga bisa membelikan kamu rumah dan mobil itu. Kamu mau?" sahut Bagas menantang.
" Eh? Apakah aku terlalu keras kepadanya?" pikir Bagas.
" Biarkan saja lah! Ini untuk melindungi dirinya dari laki-laki hidung belang." pikir Bagas kembali.
*******
" Bagaimana dengan mama aku? Apakah aku harus menjumpai om itu supaya tidak mengganggu mama aku?. Namun kalau mama aku masih nekat menghubungi om itu sama juga bohong. Mama masih tergila-gila dengan om itu." pikir Bagas.
" Atau aku harus mencari beberapa bukti tindakan kurang baik dari om itu saja yah. Mungkin dengan foto atau video om itu melakukan tindakan yang liarnya akan membuka mata mamanya untuk menemui om itu." pikir Bagas kembali.
__ADS_1
" Aku harus minta bantuan asisten aku untuk mengikuti pergerakan om itu." pikir Bagas kembali.
Bagas sungguh-sungguh sangat prihatin akan perilaku mamanya akhir- akhir ini yang sering menjumpai Koko di apartemen nya. Padahal Bagas sudah mendapatkan informasi yang valid kalau Koko masih suka bermain perempuan dan bergonta-ganti pasangan. Koko selalu dikelilingi oleh banyak wanita cantik. Jika mama nya mengetahui perbuatan bia dab Koko seperti itu akan membuat mamanya semakin sakit hati dan hancur. Selama ini mama nya cerai dengan papanya lantaran ayah nya mengkhianati mamanya. Dan sekarang, mama nya berhubungan dengan laki-laki yang lebih breng... sek dibandingkan dengan ayahnya.
" Baiklah! Seperti nya aku harus mengumpulkan beberapa bukti mengenai kebreng sekkan om itu. Cepat atau lambat supaya mama tahu akan kebenarannya." kata Bagas kembali.
" Ah mama! Kamu wanita hebat dan berkelas. Kenapa kamu jadi mudah dibohongi oleh laki-laki seperti Om Koko itu?" kata Bagas akhirnya.
Ponsel Bagas berdering. Bagas menerima panggilan masuk itu.
" Iya, ayah!" sapa Bagas ternyata yang menghubungi nya adalah ayahnya.
" Aku mau mengajak kamu makan nih! Kamu bisa ke rumah ayah tidak? Kalau bisa ajak sekalian mama kamu." kata ayah Bagas.
" Kapan, Ayah?" tanya Bagas.
" Kalau hari ini bisa tidak?" tanya Fauzi ayah Bagas.
" Baiklah! Aku tanyakan dulu sama mama. Mama mau tidak." kata Bagas.
" Ok aku tunggu kabar bagusnya yah, nak!" ucap Fauzi dari seberang sana.
__ADS_1