
Pagi itu di ruangan kerja tante Melinda. Sandriza berdiri membacakan jadwal atau agenda untuk hari ini. Melinda menyimaknya sambil tangannya tetap fokus dengan layar laptopnya sampai Sandriza selesai membacakan jadwal yang harus ditepati oleh Melinda.
" Kamu hubungi Pak Pras, bilang kepada nya kalau aku tidak bisa memenuhi janji untuk makan siangnya. Bisa diundur lusa saja." kata Melinda kepada Sandriza.
" Baik tante! Oh iya tante, kalau Pak Pras bertanya alasannya saya harus menjawab apa tante?" tanya Sandriza. Melinda mulai berpikir.
" Hem, bilang saja aku mendadak sakit perut." jawab Melinda.
" Siap tante!" sahut Sandriza.
" Oh iya, kamu tadi malam kenapa pulang sampai larut malam?" tanya Melinda penuh selidik.
" Itu tante, setelah latihan teater di jemput Kak Zio. Namun tidak langsung pulang tapi diajak singgah makan malam di sebuah restoran. Dan di sana, ada sedikit masalah." cerita Sandriza. Melinda mengernyitkan dahinya.
" Ada masalah apa Sandriza?" tanya Melinda penasaran. Sandriza mulai berpikir.
" Aku harus cerita jujur dengan tante Melinda tidak yah?" batin Sandriza.
" Masalah apa, Sandriza?" tanya Melinda lagi.
__ADS_1
" Eh itu tante! Ternyata kak Zio sudah memiliki istri. Ketika kami makan ada seorang wanita dengan dua laki-laki yang menjadi pengawal nya itu, mendatangi kami. Dia bilang kalau dia istri dari Zio. Setelah itu, aku kena semprot juga tante. Tante bisa menerka-nerka sendiri lah kejadian selanjutnya. Saya akhirnya pulang meninggalkan mereka." cerita Sandriza. Melinda menyimak namun tidak ada ekspresi terkejut.
" Jadi kamu semalam pulang naik taksi?" tanya Melinda.
" Tidak tante, kebetulan ada yang mengenali aku berdiri di pinggir jalan dan dia memberikan tumpangan kepadaku, tante." cerita Sandriza.
" Oh! Siapa?" tanya Melinda penasaran.
"Abangnya Isa, tante! Isa itu kawan satu sanggar teater." jawab Sandriza. Melinda manggut-manggut saja.
" Ya sudah! Kamu hubungi Pak Pras dulu." perintah Melinda. Sandriza mulai menghubungi orang yang dimaksudkan untuk menunda janjian makan siang nya.
Melinda masih fokus dengan kerjaan nya sesekali membalas chat dari Koko. Setelah mendengar cerita Sandriza kalau Zio bahwasanya sudah menikah menjadi sedikit gusar. Kali ini Melinda ingin marah juga dengan Koko. Pikirnya Koko tidak mungkin mengetahui status Zio yang sebenarnya. Kenapa Koko menyembunyikan status Zio yang sebenarnya.
" Maaf, sayang! Aku juga tidak berhak ikut campur urusan pribadi orang walaupun dia adalah sekretaris aku dan asisten pribadi aku. Aku saja juga tidak suka jika orang suka ikut campur masalah pribadi aku." balasan Koko melalui WA.
Melinda belum membalasnya, Melinda masih sibuk memeriksa data statistika penjualan dari kosmetik produk- produk yang diproduksi di perusahaan nya.
Pada akhirnya Koko sudah tidak sabar dan menghubungi Melinda secara VC. Melinda mengangkat nya, namun masih fokus dengan kerjaan nya.
__ADS_1
" Hai, sayang!" sapa Koko yang wajahnya sudah terpampang full di layar ponsel Melinda.
" Hai! Aku masih sibuk banget nih. Bagaimana kalau nanti aku hubungi kembali." kata Melinda. Koko kecewa.
" Jam makan siang ke tempat biasa yah! Aku menunggu kamu, sayang!" rengek Koko.
" Dimana?" tanya Melinda masih tetap mengutak-atik di depan layar laptop nya.
" Di apartemen saja." jawab Koko.
" Malas ah, selain tempat itu." sahut Melinda.
" Bagaimana kalau aku mengajak kamu ke kediaman ku?" ucap Koko.
" Aku jemput kamu nanti siang!" tambah Koko lagi.
" Lain kali saja, Ko! Kita ke rumah makan lesehan saja yah. Tapi aku akan mengajak Sandriza juga." kata Melinda.
" Baiklah! Aku juga akan mengajak Zio. Kita selesaikan masalah mereka juga." kata Koko.
__ADS_1
" Kita tidak usah ikut campur deh! Biar mereka yang menyelesaikannya sendiri." ucap Melinda akhirnya menutup VC itu dengan tiba- tiba karena Bagas tiba- tiba datang dan masuk ke ruangan nya.