PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
TINGGAL DI RUMAH MAMA PAPA


__ADS_3

Rasa syukur dan wajah puas terukir dalam benak produksi film, sutradara, skenario dan semua yang terlibat dalam pembuatan film tersebut. Para aktris dan aktor ikut merasakan kebahagiaan itu. Pasalnya waktu yang diprediksi dalam pembuatan film tersebut bekisar tiga bulanan, namun karena semuanya kompak dan disiplin dengan tugas dan peran nya masing-masing, pembuatan film tersebut akhirnya lebih cepat. Ini terhitung kurang lebih empat puluh hari. Di saat Handoko mendatangi Sandriza dan Sandriza berjumpa dengan Mas Bagas di negara itu, pembuatan film itu tinggal selangkah lagi telah rampung.


Kini semuanya telah kembali ke negara kelahirannya. Rasa kangen ingin segera berkumpul dengan keluarga nya menjadi semangat untuk pulang. Sandriza kembali ke negara kelahirannya itu bersama suaminya, Handoko. Seolah pasangan pengantin baru, tangan Handoko dengan Sandriza saling terpaut. Bagas? Bagas masih di negara itu, mengurus bisnisnya di sana. Bagas sudah menjadi pengusaha muda yang sukses menggantikan papanya, pak Fauzi. Mama nya Melinda, masih dengan bisnisnya di bidang kosmetik dan alat-alat kecantikan.


@@@@@@@


Kenapa kita pulang ke rumah papa, mama?" tanya Sandriza. Handoko masih terpaut tangannya dengan tangan istrinya. Lalu mulai menjawabnya.


" Mulai sekarang kita tinggal di rumah mama papa. Kita tidak usah kembali ke apartemen lagi." kata Handoko. Sandriza mengernyitkan dahinya.


" Kenapa? Aku merasakan nyaman di apartemen itu. Kita bisa lebih santai dan lebih intim." sahut Sandriza.


" Di rumah mama papa, juga bisa santai dan bahkan kita bisa lebih intim. Kamu harus percaya itu. Mama papa ingin segera menimang cucu dari anak kita. Ayo Sandriza, kita mulai merencanakan dan mengikuti program supaya kamu bisa secepatnya hamil." kata Handoko.

__ADS_1


" Apakah kamu sudah sangat ingin sekali, mas Han?" tanya Sandriza.


" Iya dong! Sangat sangat sangat ingin sekali. Kamu tahu itu bukan Sandriza. Aku ingin anak itu dari kamu." ucap Handoko. Sandriza tiba-tiba mengernyitkan dahinya. Sandriza terkejut dengan bahasa Handoko yang terakhirnya.


" Anak dari aku? Memangnya kamu sudah memiliki anak dari wanita lain, mas Han?" tebak Sandriza. Ini benar-benar otak yang cerdas. Handoko Seketika gelagapan.


" Oh bukan! Bukan itu maksud aku.. Tentu saja hanya kamu saja istri aku. Hanya dengan kamu saja aku melakukan olahraga malam di atas peraduan itu." ucap Handoko tidak kalah cerdas.


" Tampaknya aku akan selalu kalah jika sudah menghadapi kamu dalam segala aspek. Dari mulai bahasa lalu urusan ranjang." kata Handoko kali ini sudah tidak mampu berkelit lagi.


Handoko memeluk Sandriza masuk ke dalam rumah besar kediaman kedua orang tuanya setelah mereka tiba di rumah megah, mewah dan sangat elegan itu. Setelah berbasa-basi dengan papa mama nya, dan tentu saja makan bersama, Handoko menarik Sandriza ke atas menuju kamar mereka. Kamar yang dulunya selalu ditempati oleh Handoko ketika dimasa lajangnya.


" Kamar ini rapi dan bersih. Hem, apakah kamu pernah memasukkan wanita di dalam kamarmu ini selain aku, mas?" tanya Sandriza. Handoko terkekeh mendengar pertanyaan dari Sandriza itu.

__ADS_1


" Tidak! Aku tidak pernah memasukkan wanita satu orang pun di kamar ini. Kecuali asisten rumah tangga yang masuk ke kamar ini sekedar membersihkan kamar ini dan mengambil baju kotor ku." kata Handoko.


" Mungkin saja di sini kamu tidak membawa wanita itu kemari. Namun kamu mungkin lebih menyukai membawa wanita itu ke hotel atau apartemen." tuduh Sandriza. Handoko kini mendekati Sandriza dan merangkum wajah Sandriza.


" Hai, ada apa dengan kamu, sayang? Dari tadi bahasa kamu seperti... Hem seperti aku sudah mengkhianati kamu." sahut Handoko.


" Entah lah! Aku tiba-tiba berpikir seperti itu saja. Maaf jika itu membuat kamu tersinggung." kata Sandriza.


" Sepertinya aku harus menghukum kamu saat ini juga." ucap Handoko dengan menyeringai nakal.


" Baiklah! Aku sudah siap! Hem, apakah kamar ini bisa menahan suara jeritan aku tidak sampai tembus ke luar?" tanya Sandriza.


" Tentu saja! Menjerit lah dan jangan di tahan. Aku sangat menyukai itu." ucap Handoko.

__ADS_1


__ADS_2