
Pagi harinya, waktunya semua pergi ke kantor, di depan pagar rumah Melinda sudah ada mobil yang terparkir di sana. Semua penghuni rumah itu seperti Sandriza, Bagas dan tante Melinda sedang di ruangan makan. Mereka saat ini lagi sarapan pagi bersama. Tidak ada pembicaraan serius diantara ketiganya. Apalagi Melinda yang terlihat kurang ceria semenjak memutuskan hubungan nya dengan Koko. Melinda sebenarnya merasakan kehilangan ketika dirinya berusaha menjaga jarak dengan Koko. Bahkan Melinda juga telah memblokir kontak dari Koko sehingga Koko tidak bisa menghubungi Melinda melalui ponselnya.
" Kamu sudah selesai sarapannya belum?" tanya Bagas kepada Sandriza.
" Sudah, mas!" jawab Sandriza.
" Tidak tambah lagi? Nanti kelaparan?" goda Bagas.
" Sudah cukup, mas Bagas!" sahut Sandriza sambil tersenyum dan melirik ke tante Melinda.
" Ayo, aku antar kamu ke kantor!" tawar Bagas sambil berdiri.
" Sandriza biar bareng dengan mama saja, Bagas! Kamu berangkat saja langsung ke kantor kamu! Dan salam buat Papa kamu!" kata tante Melinda.
" Mama! Aku ingin mengantar Sandriza, ma! Mama berangkat saja sendiri." protes Bagas. Sandriza yang mendengar nya jadi cekikikan.
" Kamu ini kenapa sih, nak? Sandriza kan asisten pribadi mama. Dia mengikuti kemana mama pergi. Lagi pula kami ini satu kantor, satu perusahaan, satu ruangan. Karena tugas Sandriza hanya mendampingi mama. Sandriza tugasnya mengatur jadwal mama setiap hari saja. Kamu ini loh, aneh sekali!"ucap tante Melinda sambil tersenyum, Sandriza menutup mulutnya menahan tawanya.
" Baiklah! Nanti pulangnya aku jemput, Sandriza! Kamu hari ini jadi latihan teater tidak?" kata Bagas yang membuat tante Melinda ikut menatap Sandriza.
" Iya, hari ini mulai pembagian peran atau tokoh serta mempelajari dialog cerita yang akan dipentaskan." terang Sandriza.
" Kamu mau ada pementasan teater, Sayang?" tanya tante Melinda dengan berbinar senang.
" Iya tante! Rencananya akan ditayangkan secara langsung juga di stasiun televisi. Kemungkinan nanti akan banyak sponsor yang masuk nanti. Tante, produk kosmetik dan alat-alat kecantikan dari perusahaan kita bisa kita promosikan di sana, tante." kata Sandriza dengan ide nya.
" Boleh! Silakan bagian humas menghubungi ke kantor. Nanti tante tunggu kerjasamanya. Kita bisa membuka stand di depan gedung pertunjukan teater itu." terang tante Melinda.
" Siap tante! Nanti akan aku sampaikan ke pimpinan sanggar dan ketua penyelenggara, supaya secepatnya menghubungi ke perusahaan kita." sahut Sandriza.
" Tante sangat tertarik dengan pertunjukan teater ini. Apa tema ceritanya?" tanya tante Melinda.
__ADS_1
" Temanya tentang Pelalor, tante!" jawab Sandriza.
" Uhuk... uhuk.. uhuk!" tante Melinda tersedak lalu buru- buru Bagas mengambilkan minum untuk mamanya.
" Mama, minum dulu!" kata Bagas penuh perhatian.
" Terimakasih, Bagas sayang! Kamu kenapa ikut nimbrung? Sana berangkat ke kantor! Salam buat papa kamu, Pak Fauzi!" kata tante Melinda sambil memainkan matanya.
" Salam pakai kangen, tidak ma?" goda Bagas.
" Boleh!" sahut tante Melinda singkat.
" Aku berangkat duluan, ma!" kata Bagas sambil mengambil tangan mamanya dan menciumnya.
" Sandriza! Nanti aku yang antar ke sanggar! Jangan mau kalau dijemput yang lain!" kata Bagas dengan mata yang penuh ancaman.
Sandriza dan tante Melinda saling pandang. Lalu mereka melemparkan senyuman nya.
" Mas Bagas ini kenapa sih, tante! Terlalu posesif sekali dengan aku. Dia seperti membentengi aku ketika beberapa laki-laki mencoba mendekati aku." kata Sandriza.
" Begitu yah!" sahut Sandriza.
" Apakah kamu merasa risih, jika Bagas begitu menjaga kamu?" tanya tante Melinda.
" Tidak tante!" jawab Sandriza.
Sementara di luar pagar, setelah mobil Bagas keluar meninggalkan rumah itu. Sosok laki-laki keluar dari mobil itu dan bergegas menuju rumah besar dan elegan milik Melinda. Laki-laki itu tidak lain adalah Zio.
Zio mulai masuk ke rumah itu setelah dibukakan gerbang nya oleh satpam rumah itu. Kebetulan tante Melinda dan Sandriza sudah hendak berangkat ke kantor.
" Tante!" panggil Zio dengan senyuman nya. Sandriza dan tante Melinda saling pandang.
__ADS_1
" Kami mau berangkat ke kantor!" kata tante Melinda.
" Kalau boleh, biar Sandriza ikut di dalam mobil saya saja, tante! Saya ingin berbicara dengannya sebentar sekalian saja saya antar ke kantor tante Melinda. Bagaimana, tante?" kata Zio sedikit memohon.
Tante Melinda menarik nafasnya.
" Ya sudahlah!" sahut Tante Melinda sambil masuk ke dalam Mobilnya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya itu.
" Kamu ikuta dengan aku, Sandriza!" kata Zio sambil menarik tangan Sandriza menuju mobilnya yang masih di luar pagar.
" Jangan kuat- kuat, kak Zio! Sakit cengkraman tangan kamu ini!" protes Sandriza lalu tidak lama Zio melepaskan tangan itu setelah sampai di dekat mobilnya.
Zio membuka pintu mobil itu dan menyuruh Sandriza masuk ke dalamnya. Setelah nya Zio juga masuk lalu menyalakan mesinnya. Namun masih belum dijalankan mobilnya. Matanya menatap tajam ke arah Sandriza. Seolah mata itu penuh kemarahan. Zio mendekati Sandriza sangat dekat dan dekat hingga bau parfum Zio tercium di hidung Sandriza yang maskulin itu.
" Kenapa kamu memblokir kontak ku, hah?" tanya Zio sambil memainkan bibir Kasandra dengan jari nya. Sandriza mulai merasakan jantungnya berdetak makin kencang. Sandriza menahan nafasnya karena wajah Zio lebih dekat ke wajahnya seperti hendak memakan Sandriza karena kelaparan.
" Mana ada aku memblokir kontak kamu, kak?" ucap Sandriza bohong.
" Kamu sepertinya minta dihukum yah?" ancam Zio lalu mengecup leher Sandriza yang membuat Kasandra merasakan bulu roma nya merinding. Zio malah makin nakal di area itu. Sandriza merasakan sensasi yang tidak pernah ia rasakan. Sandriza mulai melenguh tanpa sadar bibir nya mengeluarkan suara yang membuat Zio semakin bersemangat untuk menuntut lebih. Zio tersenyum ketika melihat Sandriza memejamkan mata.
Zio kembali ke tempat duduknya dan mulai menjalankan mobilnya. Sandriza menarik nafasnya lega karena Zio menyudahi aksinya pagi itu.
" Aku belum menghukum kamu yah!" kata Zio sambil melirik ke arah Sandriza.
" Jangan lagi kamu blokir kontak ku! Kalau itu kamu lakukan, aku akan menghukum mu!" ancam Zio kepada Sandriza. Sandriza hanya diam dan menatap jalanan di depan.
" Nanti sore aku akan menjemput kamu dari tempat kerja kamu!" kata Zio.
Sandriza diam namun matanya membulat. Bukankah nanti sore Mas Bagas juga akan menjemput dirinya. Keadaan akan kacau jika kedua laki-laki ini bertemu, pikir Sandriza. Namun Sandriza tidak mau ambil pusing. Dirinya bebas mau pergi dengan siapa saja. Kak Zio juga belum menjadi suaminya, kenapa juga dirinya mau ditekannya.
" Tidak usah! Aku mau pulang dengan tante Melinda!" tolak Sandriza.
__ADS_1
" Jangan menghindari aku!" ancam Zio sambil menambah kecepatan mobilnya.
Sandriza sangat ketakutan jika laju mobil begitu kencang. Matanya Sandriza ditutup nya supaya tidak melihat jalanan di depannya. Zio tersenyum melihat Sandriza yang sudah ketakutan. Akhirnya Zio mulai menurunkan kecepatan laju mobilnya.