PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
DIJEBAK


__ADS_3

" Rumah kamu yang mana, Mery?" tanya Handoko yang memperlambat mengemudikan mobilnya. Mery yang saat ini duduk di samping Handoko mulai menunjukkan arah dan letak rumahnya. Handoko mengikuti instruktur yang Mery katakan.


" Rumah yang berpagar putih, itulah rumah aku, pak Han." kata Mery. Handoko semakin memperlambat laju mobilnya dan mulai menepikan mobilnya setelah Mery memberitahu kalau letak rumahnya tidak jauh lagi. Hingga beberapa saat Handoko menghentikan mobilnya di depan rumah dengan pagar putih sesuai petunjuk Mery.


" Masuk dulu pak Han!" ajak Mery.


" Aku langsung pulang saja, Mery! Lain waktu saja aku singgah ke mari." ucap Handoko. Mery tiba-tiba memegangi kepalanya. Hal itu membuat Handoko mengernyitkan dahinya.


" Ada apa Mery?" tanya Handoko sambil bergegas turun dari mobilnya. Mery diam dan memegangi kepalanya yang katanya kembali sakit dan berat. Mau tidak mau Handoko akhirnya menuntun Mery masuk. ke dalam. rumahnya. Sesampainya di depan pintu rumahnya Mery, Mery mengeluarkan kunci rumahnya dan mulai membukakan pintu utama rumahnya yang terbilang cukup elegan. Keduanya masuk setelah pintu utama itu berhasil dibuka oleh Mery. Handoko duduk di ruangan tengah.


" Kamu tinggal sendiri, Mer?" tanya Handoko.


" Iya benar! Tidak ada siapapun di rumah ini. Hanya aku saja." jelas Mery.


" Kamu minumlah obat sakit kepala, Mery. Jangan sampai kamu kembali merasakan pusing lagi." kata Handoko.


" Iya, aku akan meminumnya. Oh iya, aku akan membuatkan kamu kopi dahulu." kata Mery. Handoko diam sambil melihat beberapa lukisan yang terpanjang di dinding ruangan rumah Mery.


Beberapa saat kemudian Mery datang membawa kopi untuk Handoko. Handoko dengan cepat menghirup kopi itu lalu mulai menyeruput nya.


" Mantap! Kamu mulai pintar membuatkan kopi yang sesuai seleraku. Oh iya, apakah kamu sudah minum obatnya?" kata Handoko. Mery mengangguk pelan.


" Sudah pak Han!" sahut Mery. Handoko menyalakan rokok nya.

__ADS_1


" Apakah kamu sering sakit kepala?" tanya Handoko.


" Tidak sering tetapi kalau lagi kecapean saja pak." sahut Mery.


" Oh, apakah hari ini aku terlalu banyak memerintahkan kamu, sehingga kamu merasa capek?" tanya Handoko seraya kembali meminum kopinya disertai menghisap dan mengeluarkan asap tembakau nya. Mery tersenyum menyeringai.


" Tidak pak Handoko! Aku hanya merasa tidak enak saja dengan Sandriza, biasanya akulah yang menemani Sandriza dalam kegiatan suting nya. Namun saat ini, aku tidak bisa menemani istri Pak Han." jelas Mery.


" Tidak apa! Sandriza akan terbiasa dengan Fatika. Fatika akan membantu Sandriza di kegiatan syuting nya." kata Handoko sambil menghabiskan kopi di cangkir itu yang masih tersisa. Mery tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya yang berderet dengan rapi.


"Oke, Mery! Aku pulang dulu yah! Oh ya aku sampai lupa, katanya ibu kamu sakit. Lalu dimana dia sekarang?" tanya Handoko kembali mendudukkan pantatnya kembali yang tadinya sudah berdiri hendak pamit pulang.


" Mama? Mama saat ini dirawat di rumah sakit. Aku membayar seseorang untuk menjaga dan merawat mama di sana. Supaya aku pun bisa fokus dalam kerjaan aku." kata Mery. Handoko mengernyitkan dahinya.


" Mungkin saja, Pak Han! Karena mama aku sakit, aku tidak bisa menemani Sandriza dalam kegiatan syuting nya. Ini juga yang aku sesalkan." kata Mery.


" Kalau soal itu, Sandriza tidak akan mempermasalahkan nya. Fatika pasti bisa meng-handle kerjaan kamu ketika mendampingi Sandriza." kata Handoko.


" Masalah nya, Orang-orang di sekitar Sandriza jahat- jahat dan licik, Pak Han. Aku sangat khawatir jika Sandriza di sana di jebak seseorang dan nama serta karier nya menjadi hancur." kata Mery. Handoko membulat matanya.


" Maksud kamu?" tanya Handoko.


" Ah, maaf! Lupakan apa yang baru saja aku katakan." sahut Mery. Handoko tiba-tiba memijit pelipis nya sendiri.

__ADS_1


" Ada apa pak Han?" tanya Mery. Handoko tetap memijit pelipis nya.


" Tiba-tiba kepalaku kok menjadi berat yah?" kata Handoko.


Mery mendekati Handoko dan berusaha membantu meringankan keluhan Handoko. Mery memijit kepala Handoko. Tanpa memprotes tindakan Mery yang berusaha membantu Handoko, Handoko diam karena masih merasakan berat di kepalanya. Mery meletakkan kepala Handoko di bantal kecil sofa rumah itu. Handoko memejamkan matanya karena masih merasakan berat kepalanya. Keringat dingin mulai keluar di seluruh tubuhnya. Handoko seperti kegerahan.


" Panas sekali. Bolehkah aku membuka jas dan kemeja aku, Mery? Maaf, panas sekali yang aku rasakan tiba-tiba." kata Handoko. Mery membantu melepaskan semua pakaian bagian atas yang dikenakan oleh Handoko. Handoko sesaat menatap ke arah Mery dan melihat gerak- gerik Mery.


" Mery, apakah kamu memberikan obat ke dalam kopi yang telah aku minum tadi?" tuduh Handoko. Mery seketika memucat dan terkejut. Handoko bisa menuduhnya seperti itu.


" Ti.. ti.. tidak Pak Han! Eh maaf, obat apa yang Pak Han maksudkan? Aku tidak mengerti." kata Mery berusaha mengelak nya.


" Aku tidak bodoh Mery, ini seperti yang Rio lakukan kepada aku ketika di kafe itu." ucap Handoko sambil meringis merasakan suhu tubuhnya mulai memanas.


Handoko sudah bertelanjang dada. Karena puncak suhu panasnya sudah tidak bisa ditahan lagi oleh Handoko, akhirnya celana panjangnya pun ikut dilepas dari sana. Kini hanya menyisakan celana bo xer di sana. Mery menelan ludah nya melihat pemandangan yang membuat dirinya penasaran itu. Mery sesaat berdiri mematung melihat Handoko yang berbaring dan mulai menahan sesuatu yang mulai bergejolak dan membuncah yang ia rasakan. Mery akhirnya mulai bertindak. Handoko seketika membulat matanya dengan apa yang telah dilihat nya. Mery mulai melepas semua yang dikenakannya.


" Jadi? Apakah ini yang kamu inginkan, Mery?" tuduh Handoko lagi. Mery tidak mengindahkan ucapan Handoko. Mery kini mulai menundukkan kepala nya dan mulai memainkan bagian pribadi milik Handoko yang sudah mengeras, menegang.


Sesaat tidak ada penolakan dari Handoko karena dirinya benar-benar sudah diujung dan sangat membutuhkan pertolongan itu. Hendak lari pun Handoko sudah tidak ada kemauan lagi karena Mery melakukannya dengan sangat lembut dan hati- hati. Dalam benak Handoko hanya berucap, meminta maaf kepada Sandriza.


" Sandriza, lakukan itu untuk aku Sandriza. Tolong aku! Aku butuh kamu! Bukan kamu Mery! Mery! Hentikan Mery!" Handoko mengoceh tak karuan.


" Mulut kamu berkata tidak menginginkan ini dengan aku, pak Han. Namun dalam kenyataannya, tubuh kamu menerimanya dengan senang hati. Dasar munafik kamu Handoko!" kata Mery. Mery kini mulai memainkan bibir Handoko. Awalnya Handoko menolaknya namun pada akhirnya mereka saling balas. Mery tertawa dengan reaksi Handoko yang mulai. membalikkan keadaan. Handoko mulai mendominasi permainan.

__ADS_1


__ADS_2