PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
KANGEN KAMU


__ADS_3

Usai syuting beberapa part diluar kota itu hampir kurang lebih sepuluh hari itu, akhirnya semua kembali pulang ke kota. Sandriza bersama Mery kini sudah kembali ke apartemen nya. Mery saat ini sedang menikmati tayangan drakor di layar televisi itu. Sedangkan Sandriza di dalam. kamarnya sudah tidur. Tampaknya dia benar-benar kecapean syuting di luar kota itu.


Handoko masuk ke apartemen itu setelah Mery membukakan pintu apartemen itu. Handoko membawakan beberapa makanan di tangan nya. Diletakkan nya di atas meja makan oleh Mery.


" Dimana Sandriza, Mery?" tanya Handoko. Mery saat ini membuat kan kopi untuk Handoko.


" Masih di kamar, Mas Han! Tampaknya masih lelap dalam tidur nya." kata Mery sambil memberikan kopi hitam itu untuk Handoko. Handoko menerimanya lalu ucapan terimakasih tidak luput keluar dari mulutnya.


" Apa cerita di luar kota kemarin, Mery? Ada masalah tidak?" tanya Handoko.


" Bagi Sandriza mungkin ini bukan masalah, namun aku yang mendengarnya rasanya ingin membungkam mulut- mulut pedas yang membicarakan soal kesuksesan Sandriza ini. Mereka terang- terangan menyindir Sandriza bahkan malah membuat fitnah yang kejam untuk Sandriza." cerita Mery. Handoko membulat matanya.


" Ada apa?" tanya Handoko lagi.


" Beberapa artis senior dan juga pemain lainnya menuduh Sandriza barter dengan tubuhnya dengan beberapa produser dan juga sang sutradara juga." kata Mery. Handoko terkekeh.


" Bukankah ini sudah biasa terjadi? Biarkan saja gosip murahan itu santer terdengar yang penting Sandriza ku tidak seperti itu. Kalaupun seperti itu, nanti hanya dengan aku saja." ucap Handoko sambil memainkan matanya kepada Mery.


" Dengan Mas Han? Aku yakin mas Han selalu melindungi Sandriza dan menjaga kehormatan Sandriza bukan? Mas Han tipe laki-laki yang penuh tanggung jawab." kata Mery menilai.


" Aku tetap laki-laki normal, Mery. Kalau sudah ketemu Sandriza, aku sudah tidak berdaya." kata Handoko jujur. Mery malah terkekeh.


"Kalau begitu, halalkan Sandriza cepat. Tunggu apa lagi?" kata Mery.


" Setelah film pertama Sandriza ini diluncurkan dan aku akan mengenalkan ke papa mama, secepatnya." kata Handoko.


" Begitu yah!" sahut Mery sambil manggut-manggut.


" Aku bangunkan Sandriza dulu, Mery!" kata Handoko sambil melangkah masuk ke kamar Sandriza yang saat ini sedang tidur pulas.


Benar saja, wanita itu saat ini tidur dengan nyenyak nya. Sandriza seperti sudah berhari-hari tidak mendapatkan tidur yang nyenyak. Handoko menjatuhkan tubuhnya di dekat Sandriza yang saat ini masih tertidur pulas. Handoko membelai puncak kepala Sandriza dengan lembut dan penuh kasih sayang.


" Kangen kamu, Sandriza! Bangun dong! Aku ingin memeluk kamu lama! Tapi kamu masih bobok dngan pulas gini." kata Handoko sambil membelai kepala Sandriza.


" Cantiknya kamu!" ucap Handoko lagi. Sandriza menggeliat dan membuka matanya.


" Hoam! Kamu disini mas? Sejak kapan?" ucap Sandriza dengan suara serak khas orang bangun tidur. Handoko tersenyum.


" Baru lima menit lihat wajah kamu, yank! Aku kangen banget sama kamu. Kemari lah!" kata Handoko sambil merentangkan tangannya supaya Sandriza mau dipeluk nya. Sandriza mendekat ke Handoko. Handoko dengan erat memeluk Sandriza.


" Jangan kuat- kuat meluknya, mas! Gak bisa bernafas." protes Sandriza kini kepalanya terbenam di dada bidang Handoko.


" Aduh kangen banget sama kamu, Sandriza! Sepuluh hari tidak lihat kamu loh!" keluh Handoko. Sandriza mulai sedikit mendorong tubuh Handoko.


" Bukannya kita sering telepon dan Video call, mas?" sahut Sandriza.

__ADS_1


" Tetap rasanya lain, sayang!"kata Handoko lalu mendudukkan Sandriza lalu mengajak Sandriza turun dari ranjang itu.


" Ayok kita makan sama-sama. Aku bawakan makanan kesukaan kamu, yank!" ajak. Handoko sambil menarik Sandriza ke luar kamar itu dan menuju meja makan. Mery yang melihat pasangan kekasih itu merasa nelangsa. Jiwa kejombloan nya meronta.


" Aduhai! Betapa malang nasib aku ketika melihat dua orang ini sudah saling ketemu dan saling manja begitu. "gumam Mery. Handoko tersenyum melihat asisten Sandriza yang seperti nyamuk di apartemen itu.


" Setelah makan,aku akan mengajak kamu jalan- jalan yah?" kata Handoko.


" Lain kali aja, mas. Masih malas jalan nih."sahut Sandriza.


" Ayolah! Nanti kamu pasti akan menyukai nya." rayu Handoko.


" Mau kemana sih?" tanya Sandriza.


" Hanya kumpul- kumpul dengan kawan lama." kata Handoko.


" Dimana?" tanya Sandriza. Handoko belum ingin menjawab.


" Tapi kamu jangan lagi minum lagi seperti kemarin loh!" tambah Sandriza. Handoko malah nyengir kuda.


" Kalau sudah kumpul- kumpul dengan kawan- kawan lama, aku tidak bisa menolak nya, yank." sahut Handoko.


"Tapi aku gak suka kalau kamu jadi mabok seperti kemarin." kata Sandriza. Handoko kini malah memeluk Sandriza gemas.


" Bukannya itu bagus, mas Han?" sahut Mery sambil tersenyum.


" Kamu tidak suka kalau aku mengatur kamu, mas?" kata Sandriza sambil cemberut.


" Suka kok! Makanya aku ingin secepatnya menikahi kamu." sahut Handoko.


" Apakah kamu tidak takut jika nanti aku akan mengekang kamu dengan aturan- aturan aku?" kata Sandriza kini malah melingkar kan kedua tangannya ke pundak Handoko. Mery benar-benar seperti nyamuk melihat adegan romantis dua sejoli itu.


" Tidak! Setelah kita benar-benar menikah aku akan meninggalkan minuman itu." sahut Handoko.


" Bagus! Aku suka kesepakatan ini. Cepat lah nikahi aku." goda Sandriza.


"Benar nih?" sahut Handoko seperti tertantang. Sandriza malah cekikikan. Sandriza kini kembali duduk di kursinya.


" Kamu siap kapan? Ayo kita menikah, yank!" ucap Handoko serius. Mery malah melihat keduanya saling bergantian.


" Kalian benar-benar tidak menganggap aku ada yah? Betapa aku sangat sial menjadi jomblo seperti sekali ini." kata Mery. Handoko dan Sandriza seketika meledak tawanya.


"Eh maaf, Mery!" sahut Sandriza. Handoko malah cekikikan.


" Aku ganti baju dulu saja deh!" kata Sandriza. Handoko malah mengerutkan dahinya.

__ADS_1


" Mau kemana sih, yank?" tanya Handoko.


" Katanya mau keluar, kumpul ma kawan lama? Gimana sih, mas Han ini." kata Sandriza kini bibirnya berubah menjadi mengerucut.


" Beneran mau ikut?" tanya Handoko.


" Jadi? Gak jadi jalan sama aku?" sahut Sandriza.


" Kamu mau yah? Tapi aku jadi takut, kalau kawan- kawan aku malah naksir kamu." kata Handoko jadi ragu untuk mengajak jalan Sandriza gabung dengan komunitas nya yang suka mabok dan ke clubbing.


" Bukannya kamu nanti akan melindungi aku?" tantang Sandriza. Handoko manggut-manggut.


" Oke! Jangan pakai baju minim yah!" kata Handoko akhirnya.


" Siap!" sahut Sandriza sambil masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju. Hampir setengah jam namun Sandriza tidak keluar juga dari dalam kamarnya. Hal itu membuat Handoko penasaran. Handoko masuk menjumpai Sandriza di dalam.


Handoko melihat Sandriza masih memoles wajahnya dengan make up tipis nya. Penampilan Sandriza kali ini sedikit tertutup namun bagian bawahnya masih mengenakan rok mini kesukaannya.


" Kok rok nya mini banget, yank? Ganti aja deh!" protes Handoko. Sandriza menatap kembali tampilannya di depan cermin itu.


" Ini di atas lutut pas kok, mas? Masak harus pakai pakaian benar-benar tertutup banget sih?" sahut Sandriza. Handoko kembali mengamati penampilan Sandriza.


" Sebenarnya ini sudah sopan dan masih sopan banget. Namun kamu memakai pakaian apapun masih terlihat cantik dan menawan. Aku menjadi takut loh. Takut kalau kawan- kawan aku menggoda kamu." ucap Handoko.


" Lalu? Apakah aku tidak perlu berpakaian?" goda Sandriza. Handoko terkekeh.


" Kalau itu, khusus buat aku nanti kalau kita sudah halal dan menikah yah, sayang!" sahut Handoko kini malah memeluk Sandriza dari belakang. Sandriza membalikkan tubuhnya. Kini mata keduanya saling menatap dengan penuh magnet. Handoko mengangkat dagu milik Sandriza lalu mulai mendekatkan bibirnya ke bibirnya. Salam antara bibir Handoko dan Sandriza kembali terjadi. Ciuman hangat dan panjang itu terjadi. Handoko mulai tidak beraturan nafasnya. Sandriza pun makin tersengal. Handoko tidak bisa menahan dirinya. Tangannya kini masuk ke balik rok Sandriza. Sandriza mulai mendesis.


" Jadi pergi tidak, mas?" bisik Sandriza. Handoko malah diam. Tangannya masih berusaha menerobos ke balik rok itu. Sandriza melemah kakinya. Handoko menggiring Sandriza ke peraduan itu. Membaringkan Sandriza di sana. Handoko mulai menindih nya. Tangannya Handoko mulai menyusup di bagian da da milik Sandriza. Sandriza mulai meringis, dan tidak sanggup menolak nya. Jiwanya makin meminta dan meronta. Handoko dan Sandriza ingin dan menuntut lebih dari sekedar ciuman. Ketika mereka mulai hanyut dan semakin menikmati permainan itu, ketukan pintu kamar Sandriza kembali mengagetkan keduanya. Akhirnya Hanya menarik tangan Sandriza dan mulai merapikan pakaian nya.


" Maaf, sayang! Aku sudah tidak tahan! Kita harus menikah! Aku sudah tidak sanggup kalau aku menghadapi kamu. Kamu yang cantik dan menggoda." bisik Handoko. Sandriza memerah wajahnya.


" Benar! Aku juga tidak mampu menolak semuanya." sahut Sandriza lalu merapikan dandanannya.


" Yuk, kita keluar sebelum aku kembali nakal dan nakalin kamu." ucap Handoko sambil menarik tangan milik Sandriza keluar dari kamar itu.


Ketika mereka keluar dari kamar itu Mery hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Maaf, aku mengganggu kalian yah? Ponsel kamu berdering mas Han!" kata Mery sambil memberikan ponselnya.


" Oh iya, Terima kasih banyak!" sahut Handoko laku bergegas mengajak keluar Sandriza dan melesat ke kafe. Dimana kawan- kawan lama Handoko sudah menunggu nya di sana untuk minum dan ngobrol panjang.


Sandriza tersenyum kepada Mery. Sebelum Sandriza meninggalkan Mery, Mery membisikkan sesuatu.


" Hati-hati yah, sayang! Jangan sampai segel nya kebuka sebelum kalian benar-benar halal." bisik Mery ditelinga Sandriza. Sandriza tersenyum sambil mencubit Mery di pinggangnya.

__ADS_1


__ADS_2