PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
GANTIAN GISEL MERAJUK


__ADS_3

Mereka saling berdiri. Fauzi mulai meraup bibir tipis milik Gisel. Gisel mulai tidak kuasa bernafas. Mereka mulai makin panas dan liar bermain di ruangan kerja itu. Pintu ruang kerja mereka saja lupa untuk menguncinya. Fauzi mulai mendorong tubuh Gisel sampai ke tembok. Fauzi mulai tidak kuasa hanya berdiam saja. Gisel melenguh. Dengan sangat kasar Fauzi memainkannya biolanya hingga biola itu menyuarakan suara yang merdu.


" Cukup Fauzi! Kita makan dulu!" tawar Gisel. Namun Fauzi tidak perduli akan tawaran Gisel terhadapnya. Ini sudah kepalang tanggung. Fauzi masih belum merampungkan segala yang masih belum tuntas. Sedangkan pelepasan nya saja belum terjadi. Ini tidak mungkin disudahi. Bukankah Gisel yang sudah menyalakan kobaran api itu, hingga Fauzi tidak bisa menghentikan panasnya kobaran api yang menyala itu.


Fauzi masih terus memainkan biolanya sampai suara biola itu menghasilkan suara- suara yang indah dan membuat bergetar seluruh alam. Hingga sampai ketika suara pekikan keras keluar dari masing-masing dan akhirnya permainan biola itu disudahi dengan senyuman yang terukir.


Fauzi bergegas menuju kamar mandi. Gisel merapikan pakaian nya setelah membersihkan semuanya dengan tisu.


" Laki-laki breng... sek! Tidak ada lembut- lembut nya sama sekali." maki Gisel.


" Kamu sudah makan sayang?" tanya Fauzi setelah keluar dari kamar mandi.


" Kamu seperti kese tanan ngerjain aku." protes Gisel lalu bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


Fauzi tersenyum penuh kepuasaan. Memang terkadang Fauzi memiliki Fantasi yang liar hingga membuat Gisel jadi ketagihan. Tidak lama Gisel keluar dari kamar mandi dan berbaring di kursi sofa. Fauzi menatap Gisel dengan senyumnya.


" Kamu kenapa?" tanya Fauzi kini kembali di kursi kerjanya.


" Aku masih lelah." jawab Gisel sambil memejamkan matanya.


" Ya sudah! Tidur lah kamu, nanti aku bangunin." kata Fauzi yang sudah tidak merajuk lagi dengan Gisel.


" Tolong pesanan aku sate kambing dan tongseng! Aku ingin makan itu setelah tidur ku sebentar ini." kata Gisel kepada Fauzi.


" Ganas juga suaminya! Memang nya sampai berapa ronde sih, mereka mainnya? Gisel sampai tidak bertenaga seperti itu." pikir Fauzi.


" Stamina suaminya berarti lebih oke dibandingkan dengan aku dong!" pikir Fauzi lagi.

__ADS_1


" Apakah aku harus minum obat kuat?" pikir Fauzi lagi.


Pintu ruang kerja Fauzi di ketuk. Seorang pemuda masuk lalu menyalami Fauzi dengan hormat.


Pemuda itu lalu terlihat tidak suka ketika melihat Gisel yang tidur berbaring di kursi sofa.


" Ayah! Kenapa wanita itu disini?" tanya Bagas sambil duduk di kursi depan di meja kerja Fauzi.


Fauzi sesaat melihat Gisel yang terlihat tidur sangat nyenyak.


" Dia pacar ayah." jawab Fauzi.


" Ini bahaya, ayah! Dia istri orang. Itu tidak baik. Ayah bisa saja mencari wanita single yang bukan istri orang. Aku tidak akan melarang, ayah berbuat apa saja dan berhubungan dengan wanita manapun. Asal bukan istri orang. Tolonglah ayah! Ini tidak benar. Wanita cantik dan muda banyak loh, ayah! Lagi pula siapa yang tidak akan menyukai ayah. Ayah masih terlihat muda, ganteng, kaya lagi." kata Bagas dengan tegas.

__ADS_1


" Tapi ini masalah cinta, Bagas." sahut Fauzi.


" Ah aku tidak yakin jika ayah benar-benar mencintai wanita itu? Dia tidak lebih baik juga dari mama." kata Bagas berusaha membandingkan wanita yang tidur di sofa itu dengan mama nya.


__ADS_2