PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
BUDAK CINTA


__ADS_3

Zio mulai masuk ke area parkir di perusahaan kosmetik milik tante Melinda itu. Zio menghentikan mobilnya setelah mendapatkan tempat parkiran yang tepat di area itu. Zio melihat Sandriza sudah tidak lagi menutup kedua matanya. Zio tersenyum dan mulai mendekati Sandriza lalu melepaskan sabuk pengaman yang masih melingkar di badan Sandriza. Sandriza sesaat menahan nafasnya kembali ketika tubuh laki-laki kekar itu begitu dekat ke dirinya. Zio tersenyum lalu kembali ke posisi duduknya yang benar.


" Turunlah, sebelum aku berubah pikiran akan memakan mu di dalam mobilku." kata Zio menggoda. Sandriza melotot tajam selalu saja laki-laki di samping nya itu menatap dirinya penuh liar dan mesum. Apakah dirinya begitu murahan hingga selalu diancam dengan tindakan yang mesum seperti itu?


" Ingat! Nanti aku akan menjemput kamu! Awas saja kalau kamu menghindari aku lagi!" ancam Zio.


" Zio! Kamu ini kenapa sih selalu saja mengatur aku!" protes Sandriza.


" Karena kamu pacarku! Aku berhak melarang dan mengatur kamu!" sahut Zio sambil kembali mendekati Sandriza. Tangannya Zio kini merapikan rambut Sandriza yang menutupi pipinya sebelah kanan dan menyelipkan dibelakang telinga nya. Zio dengan nakal mengecup telinga Sandriza hingga kembali Sandriza mendengus menahan gelinya. Zio tersenyum.


" Itu berawal karena kamu memblokir kontak aku. Jadi mulai sekarang aku akan semakin memperhatikanmu. Jangan sampai kamu berlari dari aku." ancam Zio.


" Nanti sore aku ada latihan di sanggar! Pulang kerja aku langsung ke sana latihan." kata Sandriza akhirnya.


" Bagus! Aku nanti yang akan mengantar kamu!" ucap Zio sambil membelai rambut milik Sandriza.


" Apakah kamu akan menunggu aku latihan teater?" tanya Sandriza takut- takut. Zio tersenyum.


" Tentu saja!" jawab Zio cepat.


" Apa kamu tidak ada kerjaan lain selain mengurusi aku?" ucap Sandriza seketika seperti menghujam jantung Zio.


" Kebetulan hari ini, tuan Koko tidak memerlukan aku untuk mendampingi nya bertemu kliennya. Pak Koko akan pergi bersama sekretaris nya.


" Oh!" sahut Sandriza lalu cepat- cepat membuka pintu mobil itu.


" Sandriza!" panggil Zio.


" Iya, kak!" sahut Sandriza.


" I love you!" ucap Zio sambil tersenyum. Sandriza tidak menjawab nya. Sandriza hanya cepat- cepat meninggalkan Zio dan bergegas masuk ke bangunan yang bertingkat itu.

__ADS_1


" Kenapa kak Zio menjadi seperti mengekang aku sih? Ini membuat aku tidak nyaman jika terlalu diatur-atur seperti ini. Bukankah aku bebas melakukan apa saja? Kak Zio kan belum menjadi suami aku. Apa haknya mengatur segala aktivitas dan kegiatan aku? Aku jadi teringat kata- kata mas Bagas, kalau kak Zio bukan laki-laki yang baik buat aku. Tapi aku menyukai kak Zio. Suka dan rindu juga walaupun aku masih ingin menikmati kebebasan aku sebagai wanita yang belum terikat oleh status pernikahan." pikir Sandriza sambil berjalan menuju ruangan tante Melinda.


Sesampainya di depan ruangan kerja tante Melinda, Sandriza ragu- ragu untuk masuk ke dalam. Karena ada Sandriza sayup-sayup mendengar suara- suara yang bikin resah orang jika mendengarkan nya.


" Apakah tante ada tamu? Di dalam selain tante Melinda apakah ada yang lainnya?" gumam Sandriza lalu tiba-tiba Sandriza dikagetkan oleh sekretaris tante Melinda yang bernama Hastuti.


" Mbak! Kaget aku!" spontan Sandriza hampir meloncat.


" Jangan masuk! Ada tamu ibu Melinda di dalam." kata Hastuti memberi tahu kepada Sandriza.


" Oh! Laki-laki?" tanya Sandriza. Hastuti hanya mengangguk pelan.


" Aku ke ruangan kamu saja, mbak!" kata Sandriza lalu berjalan mengikuti Hastuti.


*******


Sementara di dalam ruangan Melinda ada seorang laki-laki yang tinggi besar memeluk Melinda dengan kuat. Melinda tidak mampu melepaskan pelukan laki-laki itu. Melinda berusaha melepaskan pelukan laki-laki kekar itu namun kekuatannya terlalu besar hingga Melinda tidak bisa melepaskan nya. Apalagi laki-laki itu dengan lihainya membuat Melinda tidak berkutik akan sentuhan nakalnya. Tangan- tangan laki-laki itupun juga liar kemana-mana menelusuri lekukan tubuh milik Melinda.


" Bukankah waktu lalu aku sudah bilang kepadamu, kalau aku ingin menyudahi hubungan ini. Paling tidak untuk sementara waktu sampai proses perceraian kamu selesai. Dan kamu resmi menjadi laki-laki bebas karena berstatus duda." kata Melinda yang masih dalam pelukan Koko dari belakang.


"Aku tidak sabar jika harus merasakan rindu dengan kamu, sayang! Aku tidak bisa! Dan kamu jangan khawatir akan itu! Aku akan pastikan aku tetap akan bercerai dengan istri aku karena dialah yang menghendaki nya." kata Koko masih memeluk Melinda dari arah belakang.


Kedua tangan kekar itu masih melingkar di perut Melinda bahkan hampir menyentuh dua gundukan da.. da Melinda.


" Koko! Bersabarlah sedikit saja!" rengek Melinda.


" Apa bedanya sekarang dan nanti? Toh aku sudah akan melepas status pernikahan itu. Dan aku tetap ingin menjalin hubungan dengan kamu." kata Koko sambil tetap dengan posisi yang sama.


" Ya sudah! Lepaskan aku dulu, Koko!" pinta Melinda.


" Tidak! Aku masih kangen aroma tubuhmu ini. Ini bagi aku seperti candu." kata Koko.

__ADS_1


Koko meletakkan dagunya ke pundak Melinda. Cukup lama Koko menikmati pelukan itu. Koko sungguh kangen dengan Melinda. Ketika Koko mencoba mengetahui kabar Melinda dan menghubungi nya, kontaknya di blokir oleh Melinda. Kejadian ini seperti yang dilakukan oleh Sandriza kepada Zio. Koko seperti cacing kepanasan ketika sehari tidak mendapatkan kabar dari Melinda. Rasa nya uring-uringan dan resah tidak karuan.


" Koko!" panggil Melinda.


" Hem?" sahut Koko yang menjadi bucin tingkat dewa.


" Ayo kita duduk santai di sofa itu!" ajak Melinda.


" Baiklah!" akhirnya Koko melepaskan pelukannya. Mereka akhirnya duduk di sofa ruangan itu.


" Sekarang ceritakan kepadaku, sudah sampai di mana perkembangan jalannya perceraian kalian." tanya Melinda.


" Kami sudah ada panggilan mediasi, namun aku tidak mau menghadirinya supaya proses perceraian ini segera selesai saja. Tinggal menunggu sidang saja. Aku rasa ini tidak berbelit- belit karena istri aku yang menggugat perceraian ini dan lagipula aku sudah menandatangani nya. Alasan nya pun juga tepat. Istri aku juga sudah menyiapkan saksi- saksi ui memperkuat alasannya untuk bercerai dengan aku." cerita Koko.


" Siapa yang menjadi saksi?" tanya Melinda.


"Asisten rumah tangga kami dan sahabat istri aku. Alasan karena aku jarang pulang ke rumah dan ditambah dengan alasan aku memiliki wanita idaman lain." cerita Koko.


" Apa? Wanita idaman lain? Siapa? Aku?" tuduh Melinda.


" Tidak! Mereka mendapatkan bukti- bukti kalau aku sering bersama sekretaris ku selain Zio sebagai asisten pribadi ku." kata Koko.


" Jadi? Selain aku kamu juga bermain api dengan sekretaris kamu itu? Serakah sekali sih kamu, Ko!" tuduh Melinda yang membuat Koko tertawa terbahak- bahak.


" Kamu cemburu yah?" tanya Koko masih terkekeh.


" Ini bukan cemburu lagi. Ini bisa membuat aku patah hati!" sahut Melinda sambil cemberut mulutnya.


" Aku janji setelah aku bersama dengan kamu, aku tidak akan bermain- main dengan wanita lain selain kamu. Aku cukup dengan kamu saja. Dan aku sudah letih dengan petualangan ku selama ini." kata Koko serius. Melinda menatap bola mata Koko yang sungguh-sungguh.


" Menikah dengan aku?" tanya Melinda.

__ADS_1


" Iya! Aku akan menikah dengan kamu. Aku pastikan kamu adalah cinta pertama dan akan menjadi jodohku yang menemani aku di masa tua ini." ucap Koko seperti bucin tingkat setan. 😀😃


__ADS_2