PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
AUDISI


__ADS_3

Pertunjukan pementasan teater itu berjalan dengan sukses dan lancar. Tepukan dan ucapan selamat diberikan oleh semua para penonton untuk para pemain dan semua yang terkait di dalam nya. Kesuksesan itu tidak hanya pemain saja yang bikin acara berjalan dengan lancar. Namun kepanitiaan pun ikut lelah menyiapkannya segala sesuatunya, baik dari persiapan panggung, penjualan tiket, dan lain nya.


Sandriza dan para pemain lainnya berdiri di atas panggung. Mereka mendapatkan buket bunga oleh para penonton yang mendadak mengagumi akting mereka. Isa, Sandriza dan para pemain juga mendapatkan setangkai bunga dari beberapa penggemar dadakan. Handoko pun ikut naik ke panggung mendekati Sandriza dan memberikan buket mawar kuning dan coklat untuk Sandriza.


" Kamu keren! Dan.. dan cantik!" bisik Handoko sambil mencium tangan Sandriza dengan lembut. Isa kembali memalingkan wajahnya tidak ingin melihat nya.


" Terimakasih, mas Doko. Mas juga keren. dan ganteng. " bisik Sandriza. Handoko mulai terbang akan pujian dari Sandriza.


" Benarkah? Nanti aku akan menghubungi kamu lagi." bisik Handoko lalu kembali ke tempat duduknya. Bagas tersenyum simpul.


" Kamu menyukai adik aku?" bisik Bagas. Handoko tersenyum seolah-olah membenarkan ucapan Bagas.


" Boleh kan? Aku akan membuat Sandriza menjadi artis yang terkenal karena kemampuan aktingnya." ucap Handoko. Bagas tersenyum puas.


" Baiklah! Tapi jangan kamu manfaatkan dia. Dia terlalu polos dan lugu akan rayuan laki-laki seperti kamu." kata Bagas. Handoko terkekeh dibuat nya.


" Jangan khawatir! Kami adalah laki-laki dan wanita dewasa, Bagas!" sahut Handoko. Bagas mulai berpikir.


" Jangan bilang, kalau kamu sebenarnya juga menginginkan Sandriza sebagai istri kamu, Bagas." sindir Handoko. Bagas melengos saja. Rasanya masih malu jika mengakui kalau sebenarnya hatinya tidak rela jika Sandriza didekati oleh laki-laki terutama laki-laki hidung belang. Namun berbeda jika laki-laki itu Handoko. Dirinya mungkin sangat rela, jika Sandriza senang juga menyukai Handoko.


*******


Semenjak pementasan teater hari itu, sikap Bagas terhadap Sandriza menjadi cuek dan tidak ingin mengatur. Bagas seperti mundur teratur ketika Handoko mendekati Sandriza. Dihati kecil Bagas, ada kecemburuan di sana. Namun ketika dia melihat siapa laki-laki yang mendekati Sandriza itu adalah Handoko, Bagas seperti sangat rela jika Sandriza akan menjalin hubungan yang lebih spesial dengan Handoko.


Tapi ada perasaan yang aneh saat ini hinggap di hati Bagas ketika melihat kedekatan Sandriza dengan Handoko. Ada rasa sesak, sulit bernafas. Apalagi tatapan mata Sandriza begitu sangat mengagumi sosok Handoko. Apalagi saat ini, Handoko mulai berkunjung ke rumah nya untuk lebih dekat dengan Sandriza.


Handoko dan Sandriza duduk di depan teras rumah itu. Diam-diam Bagas melihat mereka melalui CCTV yang Bagas lihat di kamarnya. Ini membuat hatinya seperti terbakar api kecemburuan yang amat sangat.


" Dadaku seperti sesak jika melihat mereka semakin dekat. Perasaan seperti apa ini?" gumam Bagas yang saat ini berada di dalam kamarnya.


" Eh mereka mau kemana?" pikir Bagas yang melihat Sandriza dan Handoko masuk ke dalam mobil dan tidak lama mereka meninggalkan rumah.


" Sandriza! Mungkin saatnya aku harus belajar mengikhlaskan kamu bersama laki-laki lain yang lebih matang dari aku. Aku baru sadar dan mengakui kalau ternyata aku memiliki perasaan yang lebih dari sekedar menganggap kamu adik. Dan nyatanya kita tidak ada hubungan darah." gumam Bagas. Bagas akhirnya mengambil kunci mobilnya dan bergegas ke rumah papa nya.

__ADS_1


"Bagas! Kamu mau kemana?" tanya Mama Melinda. Bagas tidak bisa menyembunyikan sedikit sedihnya.


" Bagas ke rumah papa dulu, ma! Lama tidak main ke sana." kata Bagas.


" Tapi kamu pulang kan? Tidak menginap di sana?" tanya Melinda. Bagas tersenyum dan menjawab.


" Nanti kalau menginap di rumah papa, Aku akan mengabari mama yah!" ucap Bagas lalu mencium pipi mamanya.


*******


Sementara ditempat lain. Sandriza dan Handoko di dalam mobil. Handoko menepikan mobilnya di pinggir jalan. Di depannya ada taman kota yang banyak tempat duduknya di sana. Banyak sepasang muda- mudi duduk di taman kota itu. Namun tidak dengan Handoko dan Sandriza. Mereka masih di dalam mobil itu.


" Kita tidak turun,mas?" tanya Sandriza. Bagas hanya tersenyum dan tetap memandangi Sandriza penuh kekaguman.


" Mas, kenapa lihat nya gitu banget loh!" ucap Sandriza. Handoko masih tetap melihat wajah ayu Sandriza.


" Kenapa kamu cantik banget sih?" Handoko berucap. Sandriza kini menutupi wajahnya dengan kedua tangan nya. Handoko meraih kedua tangan Sandriza yang menutupi wajahnya. Kedua nya semakin dekat.


Handoko kembali menjalankan mobilnya. Entah kemana dia akan mengajak jalan Sandriza malam ini.


" Kita hendak kemana sih, mas! Dari tadi muter- muter tidak jelas gini loh." ucap Sandriza mulai cemberut.


" Aku mencari kantor Urusan agama. Kenapa semua kantor nya tutup semua yah." sahut Handoko asal. Sandriza mengerutkan dahinya.


" Mau ngapain malam- malam begini ke kantor Urusan Agama? Besok pagi baru buka mas!" kata Sandriza sewot.


" Aku ingin secepatnya dinikahkan dengan kamu." ucap Handoko. Sandriza kini mulai tersenyum.


Mobil itu masih tetap melaju dan keliling kota. Sandriza menjadi bingung, sebenarnya Handoko ingin mengajak Sandriza kemana. Hingga mobil itu kini kembali ke jalan pulang menuju rumah tante Melinda, dimana Sandriza tinggal di sana.


" Berhubung kamu di ajak makan, bilangnya kenyang. Di ajak ke rumah menjumpai papa mama aku, kamu belum siap. Di ajak kawin, kamu bilang kita belum halal. Ya sudah! Kita balik lagi ke rumah ini." ucap Handoko. Sandriza terkekeh mendengarnya.


" Maaf, Mas!" kata Sandriza yang kini mulai turun dari mobil Handoko. Namun masih dihalangi oleh Handoko.

__ADS_1


" Sandriza! Besok pagi ada audisi untuk memerankan film garapan sutradara Roy. Besok aku jemput kamu yah. Aku pastikan kamu akan lolos audisi ini dan akan mendadak menjadi artis top. Aku merekomendasikan kamu karena selain kamu mempunyai potensi itu, kamu adalah wanita yang spesial bagi aku. Dan Roy adalah sahabat aku." kata Handoko.


" Tapi, aku besok pagi masih kerja dan mendampingi tante Melinda." sahut Sandriza.


" Kalau begitu aku akan meminta ijin pada tante Melinda soal audisi ini. Karier kamu akan dimulai besok pagi. Aku pasti kan kamu akan menjadi artis ketika wajah kamu terpampang dalam poster film garapan Roy ini." ucap Handoko yakin akan kemampuan Sandriza.


" Tetapi apakah tante Melinda mengijinkan aku mengikuti audisi ini, mas? Lalu jika aku lolos audisi ini, apakah tante Melinda mengijinkan aku bermain film dan tidak lagi bekerja dengan tante Melinda?" kata Sandriza mulai mengkhianati soal itu.


" Kalau begitu ayo kita turun! Aku akan berbicara dengan tante Melinda dan minta ijin kalau mulai besok kamu sudah tidak bekerja dengan nya lagi." kata Handoko.


" Dan kamu tinggal lah di apartemen aku." tambah Handoko. Sandriza membulat matanya.


" Kenapa?" sahut Handoko.


" Aku tinggal di apartemen kamu? Dan kamu juga tinggal di sana juga? Kita satu rumah tanpa ikatan pernikahan?" pikir Sandriza jauh. Handoko terkekeh.


" Apakah itu yang kamu mau?" sahut Handoko. Sandriza cemberut.


" Apartemen aku itu, jarang sekali aku tempati. Aku sering pulang ke rumah mama papa. Kamu bisa menempati apartemen aku itu. Apartemen itu sangat dekat dengan rumah tinggal aku dan studio. Sampai disini paham tidak?" ucap Handoko. Sandriza mulai mengerti.


" Namun kalau kamu menyuruh aku tinggal dan menemani kamu di apartemen itu, aku dengan senang hati menerima nya." goda Handoko. Sandriza dengan cepat mencubit pinggang Handoko.


Sandriza dan Handoko turun dari dalam mobil itu. Handoko benar-benar membuktikan omongan nya. Handoko akhirnya berbincang- bincang panjang lebar dengan tante Melinda akan rencana- rencana nya untuk kesuksesan Sandriza. Melinda dengan senang hati mengijinkan nya. Selain Sandriza memang sudah dewasa dan berhak atas pilihan nya sendiri.


" Terimakasih banyak tante! Aku tidak akan melupakan kebaikan tante yang selama ini menampung aku di rumah ini. Ditambah mas Bagas selalu menjaga dan melindungi aku." ucap Sandriza.


" Ngomong- omong, dimana Bagas tante? Dari tadi tidak kelihatan." ucap Handoko. Sandriza pun juga mulai mencari mas Bagas.


" Bagas lagi di rumah papa nya." sahut tante Melinda.


Handoko dan Sandriza saling pandang dan manggut-manggut saja mendengar kalau Bagas lagi keluar juga.


"

__ADS_1


__ADS_2