
Gisel menangis tersedu- sedu. Dirinya tidak menyangka jika Fauzi memutuskan nya. Padahal hatinya sungguh merasa tenang jika sudah di dekat Fauzi.
" Tolong Fauzi! Jangan putusin aku. Aku rela melakukan apa saja asal kamu jangan putusin aku." kata Gisel benar-benar memohon pada Fauzi. Sungguh Gisel akan semakin kesepian jika nantinya Fauzi benar-benar memutuskan hubungan dengan dirinya. Apalagi Baskoro akhir- akhir ini sering diluar kota sampai satu bulan lamanya.
" Termasuk kamu akan minta cerai dengan suami kamu?" tanya Fauzi yang membuat Gisel terdiam untuk beberapa saat.
" Kamu tidak bisa melakukan itu bukan? Jadi keluarlah sekarang dari raungan kerja ku ini. Maaf, hubungan kita sudah berakhir." kata Fauzi tegas.
" Fauzi! Kamu benar-benar tega dengan aku." ucap Gisel lirih.
" Ini demi kebaikanmu dan juga kebaikan aku. Hubungan ini tidak bisa kita teruskan. Suatu saat kamu akan berterimakasih kepadaku atas semua ini." kata Fauzi.
" Berterimakasih atas apa?" tanya Gisel.
" Karena aku berani melepas mu walaupun sebenarnya aku masih mengharapkan kamu." jawab Fauzi.
__ADS_1
" Mengharapkan kamu menjadi istri aku tentunya." tambah Fauzi.
" Itu tidak mungkin! Hubungan aku dengan Baskoro baik- baik saja." sahut Gisel.
" Walaupun kamu pernah diselingkuhin Baskoro?" tuduh Fauzi.
Gisel terkejut dengan tuduhan Fauzi. Dan memang kenyataan nya Baskoro pernah berkhianat kepadanya. Namun bukankah Baskoro sudah minta maaf dan berjanji tidak melakukan nya lagi? Bagi Gisel itu sudah cukup ditambah Baskoro selalu menunjukkan kalau dia suami yang bertanggungjawab terhadap istrinya dan juga keluarga besarnya. Baskoro dimata keluarga nya laki-laki yang penuh tanggung jawab. Baskoro masih perhatikan dengan mama, papa nya juga saudara- saudara nya yang lain.
" Dia sudah tidak mengkhianati aku lagi! Aku yang sekarang malah mengkhianati dia." ucap Gisel akhirnya tersadar juga.
" Tidak! Itu karena aku jatuh cinta kepadamu, Fauzi." jawab Gisel.
" Kamu tidak berpendirian. Bilangnya jatuh cinta kepadaku namun kamu tidak ada niatan untuk menikah dengan aku. Tidak ada perjuangan sama sekali." protes Fauzi.
Gisel kembali diam. Untuk beberapa saat dirinya mulai berpikir kembali supaya Fauzi bisa merubah segala keputusan nya untuk mengakhiri hubungan dengan nya.
__ADS_1
" Kalau boleh, aku ingin menghabiskan malam ini bersama kamu sebagai perpisahan. Aku ingin bersama kamu sepanjang hari ini." pinta Gisel dengan mata memohon.
" Sudahlah cukup! Aku mohon, jangan menggoda aku kembali. Aku sungguh-sungguh tersiksa membohongi perasaan ku sendiri. Namun aku tahu, menjalin hubungan dengan kamu itu akan membuat aku pelan- pelan merusak hati aku. Karena kamu tidak menginginkan aku di akhir hidup kamu. Kamu hanya mencari pelampiasan ketika kamu dalam kesepian itu." ucap Fauzi.
" Fauzi! Tapi aku benar-benar mencintaimu. Sungguh! Kamu harus percaya itu." kata Gisel sungguh-sungguh.
" Kamu bohong! Sudahlah kamu keluarlah dari ruangan aku. Kamu bukanlah milik aku." ucap Fauzi.
" Fauzi! Kamu sungguh-sungguh ingin kita pisah?" tanya Gisel kembali.
Fauzi hanya menganggukkan kepalanya. Walaupun sebenarnya Fauzi masih berat untuk melepaskan Gisel. Namun ucapan Bagas, putranya telah menyadarkan nya. Dia harus menjadi contoh bagi anak-anak nya. Apalagi anaknya semuanya laki-laki. Fauzi sangat malu jika menengok kebelakang. Betapa dirinya berbuat tanpa memperdulikan perasaan putra- putranya. Apalagi ketika perceraian dengan istrinya terjadi.
Gisel melangkah keluar dari ruangan kerja Fauzi. Sebenarnya Gisel sangat berat dengan keputusan ini. Namun dirinya juga memiliki ego yang tinggi. Dirinya sejak dari tadi sudah memohon kepada Fauzi. Namun Fauzi tetap kuat dengan pendirian nya. Gisel tidak bisa bercerai dengan Baskoro. Baskoro memiliki segalanya dan bisa membuat hidupnya bergelimang harta. Walaupun Fauzi juga bisa membuat Gisel hidup bergelimang harta.
" Ah sudahlah! Mungkin aku harus menjadi istri yang baik dan setia seperti dahulu. Menanti kedatangan suami dari kerjanya." pikir Gisel.
__ADS_1
" Namun untuk melupakan Fauzi. Aku perlu waktu. Aku sudah terlanjur menyayangi Fauzi. Walaupun aku tahu ini salah besar untuk aku." kata Gisel lagi.