PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
HASIL KARYA KAMU


__ADS_3

" Kamu di mana, Bagas?" tanya tante Melinda di seberang sana. Bagas menatap wanita yang sudah tertidur dengan pulas di atas ranjangnya.


" Aku lagi bersama dengan Sandriza, sekarang." jawab Bagas melalui sambungan di ponselnya.


" Kamu lagi di luar negeri?" tanya tante Melinda.


" Iya, kemarin ada ketemuan klien di sini. Ada proyek besar yang akan dibuat di negara ini." jelas Bagas.


" Kenapa bisa kamu bertemu dengan Sandriza?" tanya tante Melinda.


" Mungkin ini yang namanya takdir, ma! Sepertinya ada orang yang akan menghancurkan Sandriza dengan karir nya di dunia hiburan. Ah sudahlah, nanti saja kalau bertemu akan aku ceritakan selengkapnya."ucap Bagas kepada mama nya.


" Apakah Handoko, tidak bersama dengan Sandriza di negara itu?" tanya tante Melinda.


" Sepertinya tidak ma! Aku tutup dulu ma, aku akan mengurus Sandriza terlebih dahulu." kata Bagas. Sambungan telepon itu dimatikan oleh Bagas. Bagas mendekati Sandriza yang masih memejamkan matanya. Di belainya rambut Sandriza. Wanita yang pernah menaklukkan hati Bagas namun mengingat kedekatan diantara mereka seperti saudara, Bagas menepiskan perasaan nya. Bagas rela menyerahkan ke Handoko untuk menjaga dan menjadi suami dari Sandriza. Hal itu karena Bagas melihat diantara keduanya sama-sama memiliki rasa suka. Dan Bagas melihat jika Handoko tipe laki-laki yang bisa diandalkan dan bertanggungjawab. Bagas yakin itu. Bagas yakin jika Handoko bisa membahagiakan Sandriza.


" Sandriza!" ucap Bagas pelan. Sandriza masih terpejam setelah berjam- jam Handoko memasukkan Sandriza ke dalam bathtub dengan air yang dingin serta memberikan obat penawarannya. Tiba-tiba Sandriza membuka mata dan menatap ke arah Bagas. Mata itu masih sayu dan tidak lagi menuntut.

__ADS_1


" Mas Bagas?" gumam Sandriza. Bagas tersenyum lebar melihat adik angkat kesayangannya itu menghambur memeluk dirinya. Sandriza menangis tersedu-sedu di bahu Bagas.


" Sudah, sudah! Kamu kalau menangis begini jadi jelek tahu!" kata Bagas. Sandriza memukul lengan milik Bagas.


" Mas Bagas, aku lapar!" ucap Sandriza. Bagas tertawa keras.


" Kamu ini, selalu yang diingat hanyalah makanan." sahut Bagas. Sandriza tersenyum saja sambil mengelus perutnya sendiri yang sudah meronta minta diisi.


" Kamu mau apa, hem? Adikku yang cantik?" kata Bagas sambil merangkum kedua pipi milik Sandriza.


" Makanan di sini tidak ada yang enak. Aku mau nasi goreng buatan mas Bagas saja." sahut Sandriza seraya manyun bibirnya.


" Kalau tidak mau ya sudah!" ucap Sandriza sambil. menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas kasur itu. Bagas terkekeh melihat tingkah Sandriza yang manja jika sudah bersama dengan dirinya. Bagas keluar dari kamar itu meninggalkan Sandriza dan melangkah menuju dapur rumah minimalis itu.


Bagas sangat bersemangat melakukan kegiatan memasaknya. Entah kenapa bertemu dengan Sandriza membuat hatinya tenang dan nyaman. Walaupun Bagas tahu dengan jelas, adik angkat nya itu sudah berkeluarga dan memiliki suami yaitu, Handoko. Bagas mulai membuat masakan yang diminta oleh Sandriza. Bagas tersenyum puas ketika masakan yang sudah dia buat selesai dengan sempurna.


Makanan itu di letakkan di atas meja. Beberapa ayam goreng dan telur dadar sudah tersaji di atas meja itu. Dengan juz mangga kesukaan adik angkat nya itu. Bagas kini mencari Sandriza yang masih di dalam kamar.

__ADS_1


" Sandriza! Ayo kita makan!" ajak Bagas. Sandriza seketika membenarkan duduknya.


" Mas Bagas beneran membuatkan makanan untuk aku?" tanya Sandriza. Bagas mengangguk dan tersenyum lebar.


" Ayolah!" ajak Bagas lagi. Sandriza seketika menghambur memeluk Bagas. Lalu ciuman itu mendarat di pipi kanan dan kiri Bagas. Bagas terdiam, sesaat teringat kejadian semalam yang hampir saja ia menodai adik angkat nya itu. Namun bayangan itu masih saja menari di pelupuk mata Bagas ketika Sandriza melakukan aksi yang membuat dirinya tergoda. Apalagi Sandriza dengan liar menciumi bibirnya dengan rakus. Betapa itu adalah penderitaan seorang Bagas yang menahan hasrat nya. Padahal Bagas adalah laki-laki normal dan tidak mungkin senjatanya tidak menegang tatkala melihat pemandangan yang membuat jiwa laki-laki nya bergejolak.


" Kok di leher kamu ada tanda cinta mas? Hayo siapa yang membuat ciuman liar seperti itu?" tanya Sandriza yang seketika melihat leher Bagas yang merah bekas kelakuan Sandriza. Bagas tersenyum saja.


" Hayo ngaku?" desak Sandriza. Kembali Bagas tidak menjawabnya.


" Ayolah mas, siapa yang melakukan itu? Mas Bagas sudah memiliki kekasih?" desak Sandriza.


" Belum ada!" sahut Bagas.


" Lalu siapa yang melakukan nya?" rengek Sandriza masih saja mendesak.


" Tidak ada, itu paling nyamuk." Bagas asal menjawabnya.

__ADS_1


" Ah tidak mungkin! Kalau tidak mau jawab, aku gak jadi makan ini makanan." ancam Sandriza pura- pura. Bagas membulat matanya.


" Ini semua hasil karya kamu!" jawab Bagas. Sesaat Sandriza mengingat- ingat kejadian apa semalam hingga dirinya bisa melakukan tindakan konyol dengan Mas Bagas.


__ADS_2