
" Aku jemput kamu nanti siang!" tambah Koko lagi.
" Lain kali saja, Ko! Kita ke rumah makan lesehan saja yah. Tapi aku akan mengajak Sandriza juga." kata Melinda.
" Baiklah! Aku juga akan mengajak Zio. Kita selesaikan masalah mereka juga." kata Koko.
" Kita tidak usah ikut campur deh! Biar mereka yang menyelesaikannya sendiri." ucap Melinda akhirnya menutup VC itu dengan tiba- tiba karena Bagas tiba- tiba datang dan masuk ke ruangan nya.
*******
" Siapa ma?" tanya Bagas mulai menyelidik. Melinda berusaha setenang mungkin.
" Relasi!" jawab Melinda singkat. Bagas masih belum percaya akan jawaban dari Mama nya. Bagas duduk di dekat Sandriza yang duduk di kursi sudut.
" Kemarin kamu pulang sama siapa?" tanya Bagas kumat jadi wartawan nya. Sandriza bingung menjawab apa.
" Teman!" jawab Sandriza singkat. Bagas menatap wajah cantik Sandriza dengan tajam.
" Siapa namanya?" tanya Bagas. Melihat menahan tawanya. Anak laki-laki nya suka sekali kepo atau benar-benar posesif sekali kalau dengan Sandriza juga mama nya.
" Presdir Gun Industri!" jawab Sandriza akhirnya. Bagas terkejut mendengar jawaban Sandriza.
__ADS_1
" Handoko?" sahut Bagas. Sandriza membulat bola matanya.
" Mas Bagas mengenal nya?" Sandriza balik bertanya.
Bagas membusungkan dadanya bangga.
" Tahu saja, tapi belum mengenalnya." jelasnya. Melinda menahan tawanya.
" Kamu kenapa bisa kenal dengan Handoko?" tanya Bagas. Sandriza mengibaskan rambutnya kini giliran Sandriza berlagak sombongnya karena memiliki wajah cantik dan seksi.
" Mas Bagas tidak lihat, kalau aku memiliki kecantikan dan juga keahlian dalam seni peran? Tentu saja, Pak. Mas Handoko tertarik akan akting aku ketika latihan di sanggar teater itu." terang Sandriza. Bagas manggut-manggut.
" Percaya kan, kalau adik Mas Bagas ini memiliki keahlian dalam bidang itu tidak mengandalkan kecantikan saja." tambah Sandriza.
" Iya! Mas Bagas mau antar aku ke sanggar kan?" tebak Sandriza. Bagas mulai jahil kumatnya.
" Tidak! Kamu minta jemput saja sama Zio." goda Bagas. Padahal Bagas sudah tahu karena semalam anak buahnya membuntuti Sandriza sampai di rumah makan itu dan kena labrak istri Zio. Laporan anak buahnya Bagas sudah didengar ke telinganya kalau Zio sudah memiliki istri.
" Ogah! Laki-laki di dunia masih banyak! Tidak minat sama yang sudah memiliki istri." kata Sandriza. Melinda menahan tawanya. Bagas pun terkekeh-kekeh.
" Apa aku bilang? Aku kan sudah melarang kamu berhubungan dengan laki-laki itu bukan? Kamu selalu saja nekat. Kalau sudah kena semprot istrinya kan kamu baru kena batunya." ucap Bagas. Sandriza malah cemberut.
__ADS_1
" Kak Zio yang mengejar aku terus dan bilang kalau dia belum pernah menikah dan berkeluarga. Aku tidak salah." Sandriza membela diri. Bagas malah mengacak-acak puncak rambut Sandriza.
" Ya sudah! Ikut aku yuk!" ajak Bagas. Melinda melotot seperti tidak mengijinkan mereka pergi.
" Kenapa ma? Sudah tidak ada kerjaan lagi buat Sandriza kan? Anak ini bentar lagi akan menjadi artis loh ma. Aku yakin setelah dia mementaskan pertunjukan teater itu, Handoko pasti akan mengorbitkan menjadi artis. Kalau Handoko aku sangat yakin banget " ucap Bagas.
" Kamu mau ajak Sandriza kemana?" tanya Melinda.
Sandriza sudah merapikan rambutnya yang tadi di acak- acak oleh Bagas.
" Belikan Sandriza baju, ma! Aku habis menang tender nih, ma!" kata Bagas dengan mata berbinar. Melinda ikut senang.
" Mama mau apa dari aku, ma?" tanya Bagas. Melinda mulai berpikir.
" Mama mau cucu aja." jawab Melinda. Bagas terkejut bukan main. Sandriza seketika tertawa.
" Calon istri saja belum ada loh, ma!" sahut Sandriza meledek. Bagas menarik hidung Sandriza.
" Aku selektif, memilih istri Sandriza." ucap Bagas.
Melinda tersenyum saja melihat tingkah anak muda yang didepan nya.
__ADS_1
" Pinjam Sandriza, ma!" kata Bagas dengan cepat menarik tangan Sandriza keluar dari ruangan mama nya itu.