
" Kita mampir makan bentar yuk!" ajak Isa sambil menghentikan dan menepikan motornya ke warung mie ayam dan bakso.
" Loh! Wah ini namanya kamu menculik aku, mas Isa. Kalau begini caranya aku jadi lama tidak sampai rumah dong!" kata Sandriza yang pada akhirnya menurut saja ajakan Isa.
*******
Isa dan Sandriza menikmati mie ayam bakso yang sudah tersaji di depan nya. Sandriza terlihat begitu lahap nya memakan mie ayam bakso tersebut. Isa sesekali tersenyum melihat Sandriza yang memakan mie nya dengan begitu lucunya.
" Kamu sekarang kerja di mana?" tanya Isa setelah menghabiskan mie ayam baksonya dan meminum segelas air mineral nya.
" Aku ikut tante aku, di perusahaan kosmetik dan kecantikan." jawab Sandriza sambil mengunyah makanan nya.
" Lalu kamu tinggal dimana?" tanya Isa lagi.
" Aku? Masih tinggal di rumah tante aku. Tante tidak membiarkan aku ngekost." jawab Sandriza sambil meminum air jeruk panasnya.
" Kamu masih sempat menulis?" tanya Isa.
" Akhir- akhir ini mood menulis ku hilang. Kesibukan mulai menghabiskan waktu aku." kata Sandriza sambil terkekeh.
__ADS_1
" Sibuk pacaran?" sahut Isa.
" Tidak juga! Aku sering diajak tante aku bertemu dengan kliennya. Sedangkan pikiran aku sudah mulai bercabang dan tidak bisa berkonsentrasi lagi. Dulu mah, ketika ditengah keramaian dan kesibukan kegiatan organisasi, aku masih bisa menulis. Sekarang sudah tidak bisa fokus." cerita Sandriza.
" Begitu yah!" sahut Isa.
" Bagaimana dengan kamu, Isa? Kamu saat ini kerja dimana? Kamu jadi menikah dengan pacar kamu dulu kan?" tanya Sandriza.
" Aku ikut gabung di perusahaan keluarga! Maksud kamu, pacar aku si Ita?" kata Isa.
" Iya, bukannya dulu kamu pernah cerita kepada aku soal Ita itu?" sahut Sandriza.
" Kalian masih sering ketemu?" tanya Sandriza yang membuat mata Isa membulat.
" Sebenarnya Ita sering mengajak ketemuan dengan aku. Namun aku yang selalu menghindari dan menolak nya. Kamu tahu sendiri kan, resiko berhubungan dengan istri orang." kata Isa yang pada akhirnya terkekeh sendiri.
" Itu benar!" sahut Sandriza.
" Nah, aku ada rencana. Kalau bisa nanti yang memerankan pelakor itu adalah kamu, Sandriza." kata Isa sambil tersenyum.
__ADS_1
" Memangnya aku ada tampang pelakor? Lagi pula, bukannya tadi sudah dibahas, kalau masing-masing mengambil satu undian. Jadi ini lebih obyektif dan tidak subyektif." kata Sandriza.
" Tapi nanti mana tahu kalau, yang mendapatkan tokoh itu kurang ada greget nya, malah pementasan menjadi kurang hidup dan menjiwai. Kalau kamu sani cocok jika memerankan tokoh antagonis itu. Selain wajahmu yang cantik, putih bersih, dan body kaku yang aduhai, sangat mendukung jika memerankan tokoh ini. Masak wanita penggoda nya memiliki paras yang pas- pasan atau jelek. Itu kan jadi lucu." ucap Isa.
" Mana bagusnya sajalah! Intinya aku memerankan apa saja, siap kok! Lagi pula aku sudah lama tidak gabung di teater, nanti bisa kaku cara akting aku." kata Sandriza merendah.
" Kamu punya bakat akting, Sandriza! Lama tidak latihan pun, masih bisa dengan cepat menguasai peran. Aku sangat yakin itu!" nilai Isa.
" Terimakasih atas penilaian dan kepercayaan nya! Aku ngikut saja lah!" kata Sandriza.
" Nah, akhirnya lega rasa hati aku. Soalnya pertunjukan teater ini nanti akan diliput secara live oleh stasiun televisi." cerita Isa bersemangat.
" Apa? Waduh! Aku nanti grogi loh Isa!" sahut Sandriza.
" Weleh kamu suka sekali merendah! Setelah ini kita akan rajin latihan bukan? Dan awas saja kalau kamu tidak disiplin. Aku akan selalu menjemput kamu kalau latihan teater!" kata Isa.
" Soal itu jangan repot- repot Isa!" sahut Sandriza.
" Baiklah! Ayo antar aku pulang!" kata Sandriza akhirnya.
__ADS_1