
Bagas mengetuk pintu kamar Sandriza dan memanggil Sandriza tetapi tidak ada sahutan. Bagas membuka pintu kamar Sandriza dan ternyata tidak dikunci oleh Sandriza. Bagas masuk ke dalam Sandriza lalu tiduran di kasur yang sering ditiduri oleh Sandriza. Suara gemericik air terdengar jelas ditelinga, tampaknya Sandriza sedang mandi. Ponsel Sandriza tergeletak di atas kasurnya yang membuat Bagas menjadi penasaran ingin membukanya. Ponsel Sandriza bisa dibuka dengan mudahnya tanpa kata sandi dan pasword. Bagas mulai membuka WA di sana dan mulai membaca chat- chat yang masuk di nomer Sandriza.
Bagas mulai membulat ketika menemukan chat masuk dari profil seorang pria yang dinamai dengan Zio. Isi chat masuknya sungguh alay habis, mengingatkan perihal sudah makan belum dan lain sebagainya. Ini chat awalan bagi seorang laki-laki untuk mendekati wanita.
" Modus banget nih orang!" gumam Bagas yang mulai sewot dengan chatting itu.
Tidak lama kemudian Sandriza keluar dari kamar mandi dengan memakai handuknya saja. Hal itu membuat Bagas terkejut bukan main.
" Sandriza! Kamu ingin menggoda aku yah?" teriak Bagas sambil meloncat dari tempat tidur tersebut.
Bukan hanya Bagas yang terkejut namun Sandriza juga ikut terkejut dengan adanya Bagas di dalam kamarnya.
" Apa? Mas Bagas ngapain di sini? Bukannya ini kamar aku? Jadi aku tidak tahu kalau Mas Bagas di kamar aku!" sahut Sandriza melotot matanya.
" Eh?? Iya iya! Lagian kamu ngapain pakai handuk saja! Aturan di kamar mandi kamu sekalian pakai baju ganti kamu, Sandriza!" bela Bagas.
" Eh??" sahut Sandriza ingin protes.
Bagas bergegas meninggalkan kamar Sandriza dengan malu namun sebelum sampai di pintu kamar itu, Bagas menengok kembali ke belakang dan mengatakan sesuatu.
__ADS_1
" Cepat ganti baju kamu! Aku akan mengajak kamu makan di luar!" kata Bagas akhirnya.
Sandriza hanya melongo saja dengan perintah Bagas. Namun Sandriza masih ngomel-ngomel tidak jelas karena Bagas melihat dirinya dalam keadaan setengah telanjang.
" Mas Bagas ini! Dia jadi melihat lekukan tubuh aku yang seksi dong!" gumam Sandriza sambil menatap dirinya ke cermin.
Sandriza mulai memakai pakaian nya dan sedikit memoles wajahnya tipis-tipis. Setelahnya Sandriza mengambil ponselnya dan memasukkan nya ke dalam. tas kecil lalu keluar dari kamarnya menuju ruang tengah.
Di ruang tengah Bagas sudah menunggu Sandriza dengan sikap seolah tidak terjadi apa- apa.
" Kamu sudah siap, Sandriza?" tanya Bagas.
" Sudah!" sahut Sandriza singkat.
" Tidak usah ditarik- tarik to, Mas!" protes Sandriza.
" Kamu jalannya lelet kayak keong jadi aku tarik aja." bela Bagas.
" Keong?" sahut Sandriza.
__ADS_1
" Iya, keong racun!" ucap Bagas sambil mengeluarkan motor besarnya.
Sandriza diam sejenak melihat Bagas mengeluarkan motor gedhe miliknya.
" Kenapa?" tanya Bagas yang melihat Sandriza tidak suka kalau harus naik motor.
" Tidak naik mobil saja toh mas? Dingin loh!" protes Sandriza.
" Enggak! Aku lagi ingin naik motor ini." sahut Bagas.
" Aku kira mau naik mobil! Makanya aku pakai rok mini ini." kata Sandriza.
Bagas kembali mengamati, melihat dan menyaksikan dengan lebih detail lagi penampilan Sandriza yang mengenakan rok mini dengan kaos ketatnya tanpa jaket. Bagas melihat lekukan tubuh indah milik Sandriza yang berisi. Dengan buah da.. da yang cukup besar dan menantang itu membuat mata laki-laki serasa ingin menjamahnya.
" Kamu ini loh! Kenapa juga pakai baju seperti itu?" protes Bagas.
" Lah aku kira naik mobil, mas!" bela Sandriza.
" Kalaupun naik mobil, kenapa juga pakai baju macam itu? Kamu ingin menggoda aku?" ucap Bagas sewot.
__ADS_1
" Eh?? Siapa juga yang mau menggoda, mas Bagas." kata Sandriza sambil manyun bibir nya.
" Ya sudah! Kita naik mobil aja!" kata Bagas akhirnya.