
Masih di kafe itu, Sandriza dan Zio masih menikmati makanan dan minuman yang sudah tersaji di atas meja.
" Makanlah, Sandriza!" kata Zio sambil menyuapi makanan ke mulut Sandriza dengan tangannya. Mulut itupun akhirnya membuka karena suapan dari Zio. Zio tersenyum, Sandriza begitu penurut kali ini dan tidak membantahnya.
Tiba-tiba datanglah seorang wanita yang cantik dan penampilannya benar-benar elegan dan menawan, mendekat ke tempat duduk Sandriza dan Zio. Wanita itu datang bersama dua pria yang berperawakan tinggi besar dan berbadan atletis. Laki-laki itu bisa jadi sopir maupun bodyguard atau asisten pribadi dari wanita tersebut. Wanita itu mulai bergabung duduk di dekat Zio sedangkan dua laki-laki itu berdiri tidak jauh dari tuang nya duduk di dekat Zio.
" Mas!" panggil wanita itu sambil mengusap pipi Zio dengan lembut. Zio terkejut bukan main. Sandriza yang menyaksikan pemandangan itu jadi melongo dan penuh tanda tanya. Wanita itu tidak memperdulikan keberadaan Sandriza di dekatnya.
" Rumi? Kamu di sini juga?" kata Zio berusaha setenang mungkin.
" Heem! Kebetulan tadi ada janji dengan klien di tempat ini. Dari jauh aku melihat kamu, namun aku masih ragu, apakah benar itu suami aku? Dan ternyata memang benar, suami tersayang aku di sini juga. Lagi makan yah?" kata Rumi sambil melirik ke arah Sandriza. Sandriza terkejut bukan main. Zio yang selama ini mengaku kalau masih single dan belum menikah, namun kenyataannya Zio telah berbohong.
Sandriza terdiam menyaksikan drama suami istri tersebut. Bagi Sandriza ini adalah senjatanya supaya bisa lepas dari Zio.
" Aku sudah makan? Kamu sudah makan belum, sayang?" kata Zio akhirnya sambil melirik Sandriza. Sandriza tidak perduli urusan mereka.
" Aku tentu saja sudah makan tadi bersama klien aku. Kalau begitu, kita pulang sekarang yah, mas! Nanti mobil kamu biar dibawa oleh orang aku." kata Rumi sambil menunjuk dua orangnya yang masih setia menunggu nya.
Kini giliran Rumi mulai menatap Sandriza. Sandriza melemparkan senyuman nya ke Rumi. Namun dibalasnya dengan sinis.
" Kamu siapanya suami aku? Kerja satu kantor dengan suami aku? Atau petugas kebersihan di kantor suami aku?" tanya Rumi secara beruntun. Sandriza tersenyum dan masih tetap tenang.
" Aku? Aku wanita yang selalu diganggu oleh suaminya mbak! Dia datang kepadaku dan mengaku kalau dia belum menikah dan memiliki istri. Jadi terimakasih banyak, mbak sudah menyelamatkan saya." kata Sandriza akhirnya. Tanpa memperpanjang urusan, Sandriza bergegas meninggalkan Rumi dan Zio di sana. Bagi Sandriza semua itu sudah tidak penting. Walaupun Sandriza sudah dibohongi. Kini dirinya semakin percaya akan ucapan mas Bagas, jika Zio. bukanlah laki-laki yang baik untuk dirinya. Kenyataan nya memang Zio sudah berbohong besar terhadap dirinya, mengaku belum menikah ternyata sudah memiliki istri.
__ADS_1
Sandriza berjalan ke depan kafe itu dan sudah berdiri di pinggir jalan. Dirinya sudah menghubungi seseorang supaya bisa menjemput dirinya. Satu-satunya yang ada di dalam pikirannya adalah mas Bagas. Namun mas Bagas belum juga menjawab panggilan suara keluarnya. Hingga kini sebuah mobil berhenti di depan nya.
Seorang laki-laki membukakan kaca mobilnya dan membuka pintu mobilnya. Sandriza sesaat berusaha mengenali wajah laki-laki yang hendak memberikan tumpangan nya.
" Ayo naiklah, nona! Tidak perlu banyak berpikir!" kata laki-laki tersebut. Sandriza tanpa kekhawatiran dan takut akhirnya ikut dan masuk kedalam mobil laki-laki itu. Senyuman terlempar manis dari sudut pria itu.
" Terimakasih banyak, sudah berhenti dan memberikan aku tumpangan gratis." kata Sandriza. Laki-laki itu tersenyum sambil melirik Sandriza.
" Kalian sedang berantem?" tanya laki-laki itu.
" Lebih tepatnya istrinya memergoki kami sedang makan di sana." sahut Sandriza. Laki-laki itu mengerutkan dahinya.
" Laki-laki itu sebelumnya mengaku kepadaku, kalau dia masih single dan belum menikah. Namun kenyataan nya? Heh? Untung saja aku tahu sendiri. Kalau tidak aku bisa dijerat oleh kebohongan nya." cerita Sandriza mengalir begitu saja. Laki-laki itu tersenyum saja.
" Ini sudah benar jalan pulang ke rumah aku. Lurus saja!" jawab Sandriza.
" Oh iya nama kamu siapa? Kamu yang akan meliput pertunjukan teater kami, bukan?" tanya Sandriza. Laki-laki itu tersenyum.
" Aku abangnya Isa, panggil saja aku Handoko." kata Handoko. Iya, laki-laki itu adalah Handoko.
" Oh! Terimakasih banyak sudah menolong aku malam ini. Oh iya, belok ke kiri Mas Doko!" ucap Sandriza.
" Oke!" sahut Handoko.
__ADS_1
" Kamu tadi belum menjawab pertanyaan aku." kata Sandriza.
" Pertanyaan yang mana?" tanya Handoko.
" Keberadaan kamu di sanggar ada kepentingan apa? Kamu bekerja di salah satu stasiun televisi?" tuduh Sandriza.
" Lebih tepatnya aku bergerak di bisnis hiburan." sahut Handoko. Sandriza manggut-manggut.
" Stop! Itu depan rumah aku. Eh, tepatnya rumah tante aku dan aku saat ini tinggal bersama tante aku." kata Sandriza. Sandriza keluar dari mobil itu dan tersenyum ramah.
" Terima kasih, mas Doko. Maaf aku tidak menyuruh kamu mampir yah, karena sudah sangat malam. Lain kali saja yah, mas!" kata Sandriza tanpa basa- basi.
" Eh, nona!" panggil Handoko sebelum Sandriza jauh. Sandriza menoleh.
" Iya, mas! Ada apa mas?" tanya Sandriza.
" Minta no WA nya, boleh kan?" kata Handoko ngarep. Sandriza mengernyitkan dahinya. Akhirnya menyebut nomer WA nya dengan lancar dan cepat. Handoko bukan laki-laki yang tidak cerdas. Tangannya lebih cerdas dari otaknya. No WA Sandriza sudah tersimpan nya.
" Thanks yah! Nanti aku akan chat kamu duluan." kata Handoko akhirnya.
" Untuk apa?" tanya Sandriza.
" Untuk aku orbit kan menjadi artis ternama." jawab Handoko sambil memainkan matanya. Sandriza melemparkan senyuman dan berlalu meninggalkan Handoko.
__ADS_1