
" Kamu ingin menjadi artis? Lalu kamu memiliki keahlian dalam hal apa? Apakah kamu bisa bernyanyi, berakting, atau yang lainnya." tanya Handoko sambil menahan tawanya.
" Kalau sekedar mengandalkan paras yang cantik, ini kurang diperhitungkan, nona! Kalau kamu ingin terkenal, buat aja video syur dengan kekasih kamu lalu kamu sebarkan di sosmed. Kamu pasti jadi terkenal saat itu juga." kata Handoko sambil terkekeh.
" Kamu terus begitu, loh! Tidak sekalian saja aku membunuh seseorang dan tubuhnya aku mutilasi." sahut Salma sambil manyun bibirnya.
Handoko tertawa lebar. Hal itu membuat Salma menjadi cemberut.
" Aku ingin menjadi artis, Bang Doko!" kata Salma.
" Lebih baik kamu fokus nyusun skripsi dulu biar cepat wisuda." sahut Handoko.
" Hem! Setelah wisuda yah! Tetapi aku akan sekolah akting, modeling. Aku ingin menjadi artis yang terkenal." kata Salma penuh semangat. Handoko malah cengar-cengir saja dengan gaya imut Salma yang benar-benar seperti anak kecil itu.
*******
Masih di rumah kediaman keluarga Gunawan, Handoko masih sabar meladeni kemanjaan Salma putri dari Pak Barata.
" Apakah kamu sudah memiliki seorang kekasih, bang?" tanya Salma yang saat ini sedang duduk di taman belakang rumah bersama Handoko.
" Sudah, dua malahan!" jawab Handoko bohong. Hal itu membuat Salma menjadi lemah tidak bersemangat.
Handoko menahan tawanya melihat reaksi dari gadis yang masih duduk di bangku kuliah semester akhir itu. Salma seketika diam tidak lagi meneruskan obrolan dan ke kepoan nya kepada Handoko.
__ADS_1
" Apakah kamu menawarkan diri untuk menjadi kekasih aku yang ke tiga? Mumpung masih aku buka pendaftaran nya loh!" ucap Handoko menggoda gadis yang seketika mood nya hilang itu.
" Ogah! Aku tidak berminat dengan cowok yang suka bermain perempuan." sahut Salma yang ekspresi bibirnya maju setengah senti. Handoko jadi terkekeh-kekeh karena bisa membuat gadis itu pelan- pelan akan menjauhi dirinya karena jawabannya yang mengatakan kalau dirinya sudah memiliki beberapa kekasih.
" Aku mau pulang! Di mana papa mama ku?" ucap Salma lalu bergegas meninggalkan Handoko dan berjalan ke depan ke ruangan tamu menemui papa dan mama nya yang masih asyik ngobrol dengan Pak Gunawan beserta istrinya. Handoko berjalan mengikuti nya dari belakang ke tempat ayah, mama nya juga di ruangan itu.
" Salma, duduklah nak!" kata Pak Barata, si papa Salma ketika Salma sudah mulai dekat di samping papa nya. Salma ini sangat dekat dan begitu manja dengan papa nya dibandingkan dengan mama nya sendiri.
Dengan cemberut, Salma duduk di dekat papanya. Handoko juga ikut duduk tidak jauh dari ayahnya, Pak Gunawan.
" Bagaimana, apakah kalian sudah saling berkenalan dan mengobrol panjang lebar?" tanya mama nya Handoko, sebut saja bu Cantika. Istri Pak Barata pun ikut tersenyum, sebut saja bu Olivia.
" Papa, katanya bang Handoko sudah punya dua kekasih. Masak dia bilang, aku kalau mau dengan bang Handoko mau dijadikan kekasihnya yang ke tiga. Katanya juga mumpung masih membuka pendaftaran." adu Salma. Hal itu membuat mata Handoko membulat seperti kelereng. Dirinya tidak menyangka kalau ucapan nya di sampaikan kepada orang tuanya. Bahkan kini dirinya mendapatkan tatapan tajam dari ayah dan juga mama nya. Bu Cantika yang duduk di dekat Handoko seketika mencubit paha Handoko hingga Handoko meringis kesakitan. Kejahilan putranya ini benar-benar menurun dari suaminya Pak Gunawan.
" Iya, benar! Anak saya memang suka jahil Pak! Maaf jika saya kurang bisa mendidik nya yang benar." sahut Pak Gunawan sambil menatap Handoko dengan mata yang hendak membunuh.
" Memang kenyataan nya aku sudah memiliki dua kekasih, ayah! Aku masih menimbang, menilai, hingga mana yang layak untuk mendampingi aku nantinya. Supaya kelak aku tidak salah pilih menikahi seorang wanita yang akan aku jadikan pendamping hidupku sampai masa tuaku nanti, ayah. Seperti ayah dan mama seperti ini, selalu harmonis dan sabar mendampingi ayah. Bukan begitu kan, ma? Aku mau mencari istri seperti mama yang sabar dan pengertian." kata Handoko yang membuat para orang tua menjadi kalah argumennya.
" Lagi pula, aku juga harus memahami diriku sendiri. Apakah aku benar-benar mencintai wanita itu atau tidak. Supaya aku kelak menikah dengan wanita yang benar-benar aku mencintai nya demikian juga wanita itu benar-benar mencintai aku dengan segala kelebihan dan kekurangan aku. Dan satu lagi menikah tidak hanya bertujuan memperluas link bisnis untuk mengembangkan usaha kita." tambah Handoko lagi yang membuat semua mata orang tua Salma dan orang tua Handoko menjadi membenarkan semua ucapan Handoko.
Handoko meraih pergelangan tangan mama nya. Mama nya sesaat menjadi luluh karena putranya memang tidak menyukai perjodohan itu. Dari dulu Pak Gunawan selalu memperkenalkan anak dari rekan bisnisnya, dan ujung- ujungnya seperti inilah. Handoko seperti punya cara untuk mematahkan secara langsung perjodohan itu dengan kuliah tujuh menitnya.
" Benar juga kata nak Handoko! Namun tidak salahnya bukan jika kalian saling kenal dulu. Salma pun juga masih sekolah dan saat ini sedang menyusun skripsi. Masih sangat jauh jika harus berbicara dengan pernikahan." kata Pak Barata menengahi.
__ADS_1
" Benar-benar, saya setuju!" sahut Pak Gunawan sambil tersenyum.
" Ayo sambil dinikmati kue- kue kering nya! Kita santai saja ngobrol nya." kata Bu Cantika ingin membawa suasana tidak tegang.
" Papa, apakah aku boleh menjadi seorang artis? Bang Handoko ini selain ikut mengembangkan bisnis papa nya. Namun bang Handoko juga presdir di perusahaan dunia hiburan yang menjadi salah satu produser dalam dunia artis itu." kata Salma.
" Silahkan saja, nak! Selagi apa yang kamu buat itu positif papa mama tidak akan melarang nya. Tentu saja semua harus kamu tekuni dengan maksimal dan jangan setengah- setengah. Benar tidak, Pak Gunawan?" ucap Pak Barata.
" Benar! Semua harus dijalankan dengan hati senang dan tidak ada beban." sahut Pak Gunawan sambil tersenyum.
" Salma kalau ingin menjadi artis, kamu bisa bertanya-tanya dulu dengan Handoko. Langkah- langkah apa saja untuk mencapai target itu. Nanti bisa di atur oleh Handoko. Ini pasti lebih mudah. Benar kan, Handoko?" kata Pak Gunawan kepada Handoko.
" Semua harus ada basic, ayah! Tidak hanya mengandalkan orang yang dekat dengan kita atau dengan jalan instan. Basic ini yang akan menjadikan kedudukan sebagai artis bisa bertahan lama karena kemampuan nya tidak diragukan lagi. Berbeda kalau lewat jalur instan dan mengandalkan seseorang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan." kata Handoko kembali membuat orang tua- orang tua itu kembali terdiam.
Bu cantikan kembali mencubit pelan paha Handoko. Handoko kembali nyengir saja.
" Mama, mama seharusnya bangga memiliki putra yang jujur dan bijaksana seperti ini." bisik Handoko kepada Bu Cantika. Bu Cantika menjadi tersenyum dengan sikap tegas dari putranya itu.
Mungkin setelah ini, Pak Gunawan dan Bu Cantika akan jera untuk menjodohkan lagi dengan anak, dari rekan bisnisnya. Handoko selalu saja mematahkan perjodohan itu dengan caranya.
Tidak lama kemudian keluarga Barata pamit undur diri dari rumah kediaman keluarga Gunawan. Salma berjalan kurang semangat. Namun sebelum itu, Salma mendekati Handoko dan membisikan sesuatu.
" Aku rela memberikan cinta satu malam kepadamu, supaya kamu bisa memenuhi keinginan aku untuk menjadi artis terkenal." bisik Salma ditelinga Handoko. Handoko tersenyum mendengarkan nya.
__ADS_1
" Maaf! Sayangnya aku tidak berminat untuk hal seperti itu!" Handoko ikut berbisik ke telinga Salma. Salma seketika cemberut mendengar nya.