
Sandriza mulai mengemasi barang- barangnya yang akan dibawa ke luar negeri selama dua bulan dalam urusan pengambilan gambar dan syuting film terbarunya. Syuting film kali ini Sandriza tidak bersama dengan Mery dengan suatu alasan. Mery selama ini merangkap tugas menjadi manager dan juga asisten pribadinya Sandriza juga masih bekerja di bawah kepemimpinan Handoko sebagai sekretaris ke dua. Alasan Mery yang utama tidak bisa mendampingi Sandriza adalah mama nya sedang sakit parah sehingga Mery selalu memantau perkembangan kesehatan mama nya walaupun sudah ada suster yang menjaganya. Itulah alasan yang diutarakan Mery kepada Sandriza. Handoko mencarikan pengganti Mery untuk mendampingi Sandriza. Orang itu adalah sekretaris pertama di perusahaan Handoko dan untuk selanjutnya Mery lah yang akan kembali ke perusahaan meng-handle sekretaris pertama. Sekretaris pertama di perusahaan Handoko masih gadis dan dia bernama Fatika.
Sandriza sendiri tidak mempermasalahkan siapa yang akan membantu dan mendampingi dirinya dalam urusan kerjaan nya. Selagi paham akan tugas-tugas nya Sandriza, oke- oke saja.
Setelah selesai dengan persiapan nya, Sandriza mendekati Handoko yang cemberut seolah-olah mencari perhatian dari Sandriza. Sandriza dengan nakalnya duduk di atas pangkuan Handoko yang sedang duduk di kursi sofa panjang itu. Sandriza merangkum kedua pipi Handoko lalu mengecup bibir nya. Handoko seketika merasakan adem dengan perlakuan manis Sandriza.
__ADS_1
" Jangan cemberut! Kalau kangen kamu bisa pergi menyusul aku, mas." ucap Sandriza. Handoko masih merajuk karena hendak ditinggal oleh Sandriza selama dua bulanan.
" Ayolah, jangan merajuk terus! Besok sore aku akan terbang." ucap Sandriza masih duduk di atas pangkuan Handoko. Handoko kini memeluk pinggang Sandriza lalu membisikkan sesuatu di telinga Sandriza. Sandriza tersenyum.
" Tiga ronde saja yah, sayang!" ucap Sandriza berusaha menawar Handoko atas permintaan itu. Handoko dengan cepat menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah menurunkan Sandriza, Handoko mulai melepas semua pakaian yang melekat di badannya. Handoko mulai menjatuhkan tubuhnya di ranjang luas dan empuk di kamar utama nya itu. Sandriza masih berdiri mematung dan lengkap dengan semua yang melekat di tubuhnya. Handoko sudah sangat siap menerima pelayanan dari Sandriza sepanjang malam itu.
" Mas Han! Apakah kamu menyimpan obat itu, supaya aku bisa kuat bermain empat trip dengan kamu?" tanya Sandriza seraya Menanggalkan kaos dan celana pendeknya. Kini tinggal dua potong saja yang masih menempel di badannya. Handoko tersenyum seraya menelan ludahnya melihat keseksian istrinya itu.
" Aku menyimpan nya di laci!" jawab Handoko. Sandriza melangkah mendekati laci yang dimaksudkan oleh Handoko. Sandriza kini mulai mengonsumsi obat yang dimaksudkan. Handoko tersenyum nakal. Malam ini Handoko akan menjadi raja.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Sandriza mulai berjongkok di bawah perut milik Handoko. Di daerah itu sudah terlihat jelas, benda tumpul itu tegak keras menantang langit dengan sombongnya. Sandriza mulai menangkapnya, dan mulai memasukkan nya ke dalam mulutnya. Kini Sandriza mulai memainkan ritme nya secara intens. Seketika Handoko terpejam merasakan kenikmatan yang luar biasa. Handoko pun mulai menggelinjang dan menyuarakan suara indah dari permainan liar Sandriza. Hingga malam di ujung fajar, mereka melakukan nya berkali-kali tanpa mengenal letih. Bahkan Handoko pun tidak mau pasif dengan permainan di atas peraduan itu.