
Di sanggar teater.
Setelah kerja dari pagi sampai sore di perusahaan kosmetik milik tante Melinda itu, Sandriza ke sanggar di antar oleh Zio. Lalu di mana Bagas? Bagas saat ini tidak bisa ke kantor nya mama nya itu untuk menjemput Sandriza ke sanggar latihan teaternya. Bagas ada meeting penting dengan beberapa kliennya bersama dengan pak Fauzi (papanya) dan Yogi( adiknya).
Entah tahu dari mana, Zio menjadi punya kesempatan mengganggu Sandriza dan sudah lebih awal datang ke kantor tante Melinda tersebut. Sebenarnya Sandriza sudah berusaha menghindari Zio atas nasihat dari mas Bagas. Namun Zio tidak lelah selalu mengejar Sandriza. Sebelum Sandriza memblokir kontak milik Zio, Sandriza menuliskan sesuatu di sana dan minta putus dengan Zio. Namun bukan Zio kalau dia patah semangat. Dia seperti sudah tergila-gila dengan Sandriza, padahal Rumi istrinya sendiri pun juga tidak kalah cantik dengan Sandriza. Zio yang mengaku masih single dan belum menikah itu selalu mengejar-ngejar Sandriza. Bahkan Zio akan menjanjikan membelikan rumah, mobil dan semua yang diinginkan Sandriza asal tetap menjalin hubungan dengan dirinya. Namun Sandriza tidak tergoda dengan itu semua.
Ketika sudah sampai di sanggar, Zio masih saja membuntuti Sandriza dan menunggu nya ketika latihan di panggung yang kecil itu. Kebetulan saat itu, Handoko beserta asisten nya datang melihat latihan sore menjelang malam itu.
Anak-anak teater sudah datang semuanya. Pemain yang akan mementaskan peranannya sudah bersiap berlatih serius dengan dialog nya. Isa juga sudah sangat bersembunyi dengan latihan kali ini. Pertunjukan nanti tidak boleh mengecewakan penonton dan juga abangnya yang mendukung pertunjukan pementasan teater dengan judul Pelakor itu akan live ditayangkan di stasiun televisi.
Karcis masuk pertunjukan teater dengan judul Pelakor itupun sudah di jual oleh panitia. Pertunjukan kali ini akan besar-besaran di gedung yang megah seperti konser. Anak-anak semua berlatih sangat serius apalagi dengan Sandriza yang memerankan tokoh Pelakor itu sendiri. Bahkan Zio dan Handoko yang melihat Sandriza beradu akting dengan Isa, dibuat panas dingin karena menahan rasa cemburu dengan Isa. Kenapa tidak, dalam hal ini Isa sangat menang banyak karena Sandriza berakting sangat nakal dan luar dengan Isa. Demikian juga Isa yang dengan nakalnya akhirnya tergoda dengan Pelakor yang berwajah cantik nan seksi itu. Sedikit tarian yang meliuk-liuk bersama dengan Isa dalam pementasan teater tersebut. Di sana Isa begitu intim dengan Sandriza. Berapa hal ini membuat mendidih Handoko dan Zio yang sama-sama menyaksikan latihan pada hari itu. Benar-benar sangat menjiwai antara Sandriza dan Isa dalam beradu akting dan peran kali ini.
Sampai jam sembilan malam, akhirnya semua anak-anak membubarkan diri kembali pulang ke rumah masing-masing. Sandriza pun sudah bersiap untuk kembali pulang. Sandriza tidak ingin mas Bagas ceramah kembali jika dia terlambat pulang.
" Kamu pulang dengan siapa, Sandriza?" tanya Isa. Sandriza sebelum Menjawabnya, Zio sudah mendatangi nya dan mengajaknya pulang. Isa menggigit jarinya melihat Zio menarik tangan Sandriza dengan paksa untuk meninggalkan tempat sanggar itu. Handoko mendekati Isa dan berkata.
" Apakah laki-laki itu kekasihnya Sandriza?" tanya Handoko.
" Entahlah! Mungkin saja sama seperti kita, bang! Penggemar berat Sandriza." jawab Isa sambil terkekeh.
" Rupanya saingan kita banyak yah, dik!" kata Handoko sambil mengusap lengan Isa tanda memberi semangat. Isa melongo masih menatap punggung Sandriza yang berlalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain Sandriza kini sudah ada di dalam mobil milik Zio. Zio mulai menjalankan mobilnya. Belum ada percakapan. Zio masih kebakaran jenggot akan akting Sandriza yang bikin dirinya naik darah.
" Aku tidak suka kamu dekat- dekat dengan laki-laki lawan main kamu itu. Terlihat sekali modusnya. Dan kamu pun seperti menikmati pelukan nya ketika beradu akting itu." ucap Zio. Sandriza melongo.
" Hah?" Sandriza tidak mau meladeni Zio yang buntut nya malah akan semakin panjang.
" Kak Zio! Langsung ke rumah yah! Aku sudah capek banget!" kata Sandriza namun Zio tidak perduli. Malah Zio kini menjalankan mobilnya bukan arah jalan pulang ke rumah tante Melinda.
" Kita mau kemana?" tanya Sandriza sambil melihat Zio yang tetap cuek dengan pertanyaannya.
" Aku akan sedikit menghukum kamu, karena kamu selalu menjauhi aku." kata Zio tidak peduli.
" Tapi ini sudah semakin larut kak Zio! Besok pagi aku pun juga harus kembali bekerja." ucap Sandriza.
" Ayo!" ajak Zio yang kini sudah membukanya pintu samping mobilnya. Sandriza keluar dari mobil itu lalu di gandeng oleh Zio.
" Kita makan dan minum dulu disini sebentar." kata Zio sambil tersenyum mesra.
" Apakah aku bisa percaya dengan kamu? Hanya makan dan minum saja kan?" ucap Sandriza. Zio tersenyum sinis.
" Apakah kamu mengharapkan yang lebih dari ini?" tanya Zio sambil mendekati Sandriza.
__ADS_1
" Eh, tidak! Tidak! Bukan begitu maksudnya! Aku... aku." sahut Sandriza takut.
" Baiklah! Setelah makan dan minum aku bisa mewujudkan apa yang menjadi pikiran dan ketakutan dari kamu." kata Zio menakuti Sandriza. Zio tertawa terbahak- bahak.
" Tidak sayang! Aku tidak akan menyakiti kamu." kata Zio akhirnya sambil menyelipkan rambut Sandriza ke belakang telinga nya karena sedikit menutupi pipinya.
Zio meniup kan daerah sensitif itu. Sandriza sesaat bulu kuduk nya berdiri. Zio ini seperti setan yang selalu mengganggu ketenangan nya. Memporak-porandakan jiwanya yang tentram. Apalagi kini Zio malah menjilat bagian bawah telinga Sandriza. Bahkan kini Zio menyesap di sana dan membentuk tanda di sana. Sandriza seperti kehilangan ketenangan nya dan kini semakin resah dan ingin menuntut lebih dari tuntutan raganya. Namun akal pikiran kini yang menjadi pengendali dan memimpin dirinya, kalau dirinya tidak boleh larut akan suasana yang tidak boleh dia lakukan bersama laki-laki yang belum menjadi suaminya. Sandriza mendorong Zio. Zio meringis karena Sandriza terlihat tidak kuasa jika harus menghadapi serangan Zio.
" Aku ingin segera pulang!" ucap Sandriza.
" Dan aku ingin menyudahi hubungan kita ini. Aku tidak mau berpacaran lagi dengan kamu." kata Sandriza.
" Kenapa? Aku mencintaimu dan kamu tidak akan aku lepasin." sahut Zio.
" Terserah kamu! Yang penting aku ingin putus dengan kamu!" kata Sandriza.
" Aku tidak mau!" sahut Zio.
" Aku tidak perduli! Aku pokoknya mau putus dengan kamu." kata Sandriza. Zio semakin nekat dan kini malah meraih dagu Sandriza lalu mendekati bibir Sandriza lalu meraup nya dengan kasar. Sandriza tidak ingin lepas dari ciuman itu. Anehnya tubuhnya semakin menuntut yang lebih dari Zio. Zio tersenyum.
" Kamu ingin ini yah?" ucap Zio sambil tersenyum menatap wajah Sandriza yang kini menjadi merah.
__ADS_1
Sandriza melotot, kembali dirinya tidak bisa melepaskan diri dari Zio.